Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Diduga ada upaya gugurkan praperadilan terhadap Polsek Biak Kota

Tersangka Septinus Rumbiak saat diserahkan ke Kejaksaan – Jubi. Dok Kuasa Hukum.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Advokat dari Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Kyadawun Kabupaten Biak Numfor, Papua, Imanuel Rumayom menduga ada upaya menggugurkan praperadilan terhadap Polsek Biak Kota, yang diajukan ke Pengadilan Negeri setempat.

Praperadilan ditempuh lantaran penyidik Polsek setempat diduga tidak prosedural melakukan penangkapan, penahan dan penyidikan terhadap tersangka kasus penganiayaan, Septinus Rumbiak (53) yang diadvokasi oleh LBH Kyadawun.

Ia mengatakan, Pengadilan Negeri Biak telah menjadwalkan sidang pembacaan permohonan praperadilan pada 18 November 2019. Sidang rencananya digelar selama sepekan. Akan tetapi kepolisian menyatakan berkas perkara telah lengkap menyerahkan tersangka ke Jaksa Penuntut Umum pada Rabu (13/11/2019).

“Kami kaget tiba-tiba berkasnya sudah tahap II. Sesuai aturan hukum jika tersangka sudah disidangkan, maka proses praperadilan yang kami ajukan gugur dengan sendirinya,” kata Imanuel Rumayom via teleponnya kepada Jubi, Rabu (13/11/2019).

Loading...
;

Padahal kata Rumayom, pihaknya berharap ada argumentasi hukum dengan kepolisian dalam sidang praperadilan, sebagai upaya saling mengoreksi satu sama lain. Namun jika Septianus Rumbiak disidangkan, maka tidak lagi berbicara mengenai praperadilan tapi proses sidang tersangka.

Dalam kasus ini LBH Kwader juga menemukan kejanggalan lain. Saat berkas Septinus Rumbiak dinyatakan P21, ada tersangka baru bernama Edward Rumbiak. Tersangka ini dinyatakan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Kami baru tahu ada tersangka lain yang masuk DPO dalam kasus ini ketika membaca surat kejaksaan dalam proses P21,” ujarnya.

Rumayom mempertanyakan dasar penetapan Edward Rumbiak sebagai salah satu tersangka dan masuk DPO. Sebelumnya yang bersangkutan hanya diperiksa sebagai saksi bersama dua warga lainnya. Selain itu, setiap hari yang bersangkutan berada di rumahnya. Akan tetapi kepolisian tidak memberikan surat panggilan dan upaya lainnya.

Rumayom menduga, adanya tersangka baru hanyalah akal-akalan untuk memenuhi unsur penerapan pasal 170 KUHP terkait pengeroyokan kepada Septinus Rumbiak, karena sejak awal pihaknya menganggap penerapan pasal tersebut prematur dan dipaksakan, lantaran tersangka hanya satu orang.

“Kami akan laporkan ini ke Mabes Polri, Kompolnas dan Polda Papua karena menilai ada tidak prosedural,” katanya.

Sementara anggota DPR Papua, Emus Gwijangge berharap aparat penegak hukum di Papua benar-benar profesional dalam melaksanakan tugasnya. Tidak terkesan ada upaya memaksakan seseorang menjadi tersangka.

“Saya pikir jika proses hukum dilaksanakan sesuai aturan, tak akan ada protes dari berbagai pihak. Akan tetapi jika ada dugaan-dugaan penyimpangan, pasti menimbulkan pertanyaan dari publik,” kata Emus Gwijangge. (*)

Editor : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top