Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dijemput dari RS, 10 korban insiden penembakan Deiyai diperiksa Polres Paniai

Unjukrasa anti rasisme di Waghete, ibukota Kabupaten Deiyai, Papua, pada Rabu (28/8/2019). – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Aparat kepolisian Resor Paniai menjemput sejumlah korban terluka insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai yang dirawat Rumah Sakit Umum Daerah Paniai dan membawa mereka ke Markas Kepolisian Resor Paniai di Madi, Sabtu (31/8/2019). Mereke dimintai keterangan terakit unjukrasa anti rasisme pada Rabu (28/8/2019) yang berkembang menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan.

Sejumlah 16 korban insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai, Papua, sejak Rabu dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Paniai di Madi. Insiden penembakan itu terjadi saat unjukrasa anti rasisme di sana berkembang menjadi bentrokan antara pengunjukrasa dan aparat keamanan. Insiden itu menewaskan sedikitnya delapan warga sipil, serta menewaskan sedikitnya delapan warga sipil dan seorang prajurit TNI. Sejumlah tujuh aparat keamanan juga terluka dalam insiden itu.

Projo Keuskupan Timika, Papua di Kabupaten Deiyai, Pastor Santon Tekege Pr menyatakan terkejut ketika menerima informasi sejumlah korban terluka yang masih dirawat di RSUD Paniai di Madi dibawa ke Markas Kepolisian Resor (Polres) Paniai di Madi. Informasi itu diterima Pastor Santon pada Sabtu siang.

“Saya menerima informasi bahwa sejumlah korban luka yang dirawat di RSUD Paniai dipindahkan ke Polres Paniai di Madi pada Sabtu pukul 13.00 WP. Ini tindakan yg tidak bisa dibenarkan karena kondisi mereka dalam keadaan luka yg beragam,” kata Pastor Santon kepada jurnalis Jubi pada Sabtu.

Loading...
;

Pastor Santon khawatir para korban insiden penembakan yang dirawat di RSUD Paniai itu akan dijadikan tersangka dalam kasus bentrokan Rabu lalu. “Kami menduga ada skenario untuk menjadikan mereka tersangka. Padahal pihak-pihak yang melakukan penyerangan dengan panah pada Rabu itu tidak ada yg ditangkap,” kata Pastor Santon.

Pastron Santon menyesalkan pendekatan keamanan yang dipakai dalam mengamankan unjukrasa anti rasisme di Waghete, berikut penanganan situasi pasca terjadinya bentrokan antara pengunjukrasa dan aparat keamanan pada Rabu. “Aparat keamanan menjaga RSUD Paniai dengan sangat ketat, bahkan melarang kerabat korban berkunjung. Pada Kamis, saya datang ke rumah sakit itu, dan justru ditodong senjata. Rumah sakit merahasiakan nama korban tewas dalam insiden Rabu. Kini polisi memeriksa korban yang masih dirawat di sana,” kata Pastor Santon.

Secara terpisah, aktivis hak asasi manusia sekaligus Ketua Departemen Keadilan dan Perdamaian Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, Yones Douw menyatakan pihaknya juga menerima informasi bahwa sepuluh korban yang dirawat di RSUD Paniai pada Sabtu diperiksa di Polres Paniai. “Mereka yang dianggap telah pulih dibawa ke kantor polisi, dan diperiksa untuk menjelaskan kronologis peristiwa Rabu,” kata Douw saat dihubungi Sabtu.

Senada dengan Pastor Santon, Douw juga menilai langkah kepolisian memeriksa para korban insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai itu tidak tepat. “Undang-undang Kepolisian jelas menyebut, polisi harus menjunjung rasa kemanusiaan. Terlepas dari kondisi kesehatan para korban itu, kondisi di Waghete belum pulih, masyarakat masih merasa tegang dengan keberadaan banyak aparat. Hingga kini, sekolah masih diliburkan, aktivitas warga di Waghete belum pulih. Akan tetapi, polisi malah memeriksa para korban penembakan di kantor polisi,” sesal Douw. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top