Dinkes Papua: BPOM harus tegas soal Purtier Placenta

Dinkes Papua: BPOM harus tegas soal Purtier Placenta

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) drg. Aloysius Giyai saat memberikan keterangan pers – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua berharap pihak Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jayapura agar dapat bertindak tegas soal keberadaan suplemen atau vitamin Purtier Placenta. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) drg. Aloysius Giyai, Rabu (15/5/2019) di Kantor Dinkes Papua.

“Seharusnya ini ranahnya BPOM. Mereka yang menentukan mana produk baik itu obat dan makanan yang legal maupun ilegal. Dinkes hanya menangani hal-hal teknis dari persoalan ini,” kata Giyai menjawab pertanyaan Jubi.

Dikatakannya, Dinas Kesehatan adalah instansi yang resmi. “Kami (dokter maupun tenaga kesehatan) yang keluar masuk sudah diatur dengan regulasi yang berlaku di dunia kesehatan, apalagi masalah obat dan alat kesehatan (alkes) itu sudah diikat dengan aturan,” ujarnya.

Kata Giyai, dirinya juga sudah bertemu langsung dengan dr. John Manangsang selaku Team Elite PAVO Papua pada perusahaan Riway International di Singapura yang memproduksi Purtier Placenta. “Intinya bahwa Multi Lefel Marketing (MLM) adalah urusan masing-masing orang. Kalau masyarakat mau menerima itu silakan, mau tidak terima juga silakan. Yang mau saya tegaskan bahwa hanya ARV yang menjadi obat yang sudah disetujui oleh dunia kesehatan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala BPOM di Jayapura, H.G. Kakerissa mengatakan ada produk suplemen dengan nama yang sama yang sudah memiliki nomor register dari BPOM Pusat. “Jadi untuk suplemen Purtier adalah produk yang legal sedangkan untuk splemen dengan nama Purtier (Placenta) adalah produk yang ilegal,” kata Kakerissa kepada Jubi, Senin (13/5/2019) diruang kerjanya.

Menurut Kakerissa, kegunaan dari sebuah suplemen adalah asupaan gizi tambahan dan bukan obat penyembuh, dan yang dapat merekomendasikan suplemen atau obat yang bisa menyembuhkan adalah pihak kesehatan. Untuk BPOM sendiri menurut Kakerissa, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Papua untuk melakukan penelusuran terkait dengan penyebaran dari Purtier Placenta tersebut.

“Saya yakin penyebaran Purtier Placenta tersebut melalui Multi Lefel Marketing (MLM) dan terselubung. Kalau MLM, berarti ada testimoni-testimoni yang ditawarkan, mulai dari diskon dan segala bentuk promosi agar produk tersebut terjual. Belum tentu testimoni tersebut bisa berhasil di orang lain dengan kondisi tubuh yang berbeda,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)