HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Diskusi jadi kunci JFT menangkan Persipura

Para pemain Persipura saat merayakan gol yang diciptakan Boaz Solossa ke gawang Madura United – Jubi/Media Officer Persipura.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sosok seorang pelatih janganlah ditakuti, melainkan disegani serta dihormati. Hal inilah yang tergambar dari sosok Jacksen F. Tiago, pelatih sepak bola berkebangsaan Brasil saat menukangi Boaz Solossa dan kawan-kawan di Persipura Jayapura.

Saat dirinya menginjakan kaki di Jayapura untuk kembali menahkodasi Persipura, JFT sapaan akrabnya memanggil seluruh pemain senior yang pernah bekerjasama dengan dirinya yaitu Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Louis Kabes, Yustinus Pae, dan Yohanes Tjoe untuk mendiskusikan perkembangan Persipura.

Diskusi tersebut menurut JFT sangat penting karena kedatangannya ke Persipura, tim berjuluk Mutiara Hitam tersebut sedang terpuruk di jurang degradasi. Masukan dan saran yang diberikan oleh para pemain senior tersebut ditampung dan dijadikan bahan evaluasi sebelum dirinya memimpin untuk pertama kalinya saat Persipura menghadapai Madura United.

Alhasil, Persipura berhasil menang 1-0 dan lolos dari jerat degradasi. Sosok JFT memang dikenal sangat tegas, namun bukan ditakuti oleh para pemainnya. Dalam sesi latihan maupun laga resmi, JFT selalu menempatkan dirinya sebagai seorang pelatih, namun di luar lapangan, dirinya menempatkan diri sebagai seorang bapak yang dapat diajak diskusi untuk perkembangan anak asuhnya.

Loading...
;

JFT sebelum bertemu dengan Jubi, menyempatkan dirinya untuk bertemu atau berdiskusi dengan salah satu pemain asingnya asal Korea Selatan yaitu Oh In-Kyun.

Setelah pertemuan dengan pemainnya, JFT menghampiri Jubi yang sudah menunggunya untuk diwawancarai. JFT mengatakan bahwa dirinya berdiskusi sambil memberikan motivasi kepada sang pemain.

“Dia (Oh In-Kyun) butuh masukan makanya dia datang kepada saya. Kyun kan saya tarik dia keluar pada babak kedua dan saya masukkan Gunansar Mandowen, makanya dia datang dan menanyakan apakah permainannya kurang sehingga dirinya diganti?” kata JFT kepada Jubi mengawali pembicaraan.

“Saya katakan, kamu tidak bermain jelek, kamu luar biasa dalam pertandingan tersebut. Saya tidak melihat permainan secara individu tetapi saya melihat tim secara keseluruhan. Saya bilang ke Kyun, kamu pilih yang mana? Kamu bermain bagus dalam pertandingan tersebut lalu Persipura kalah ataukah kamu bermain sesuai harapan saya dan Persipura menang?” ujarnya.

Itulah sepak bola, kata JFT. Dalam olah raga ini, seorang pelatih tidak boleh egois dengan memasang pemain yang disukainya tetapi harus melihat performa tim secara keseluruhan, dan juga harus mengerti pola dan gaya permainan dari lawan tandingnya.

“Saya tidak bisa memasang pemain seenak saya. Saya harus menganalisa satu-satu pemain lawan. Setelah saya menganalisa kekuatan dan kelemahan pemain lawan, baru saya bisa menentukan pemain mana yang bisa saya turunkan atau tidak. Skema babak pertama seperti apa, dan skema babak kedua seperti apa. Kita mengejar kemenangan, bukan hasil imbang atau kalah. Itu yang saya lakukan selama saya di Persipura beberapa waktu silam, dan saat ini saya lakukan kembali,” katanya.

Dikatakan, bukan hanya pemain senior atau pemain asing yang diajak untuk diskusi, tetapi pemain muda milik Persipura juga diajak diskusi, namun untuk waktunya, dirinya masih mencari yang tepat karena saat datang sudah diperhadapkan dengan jadwal pertandingan dan pembenahan tim yang cukup banyak.

“Mungkin nanti di luar (saat melawan Bhayangkara FC) baru saya punya waktu yang panjang dengan mereka. Diskusi sangat penting, karena sebagian besar pemain muda di Persipura kualitas mereka belum saya ketahui lebih dalam. Jangankan kualitas mereka, nama-nama mereka saja kadang saya salah panggil. Tapi yang saya paling hafal adalah Papua Komboy, karena namanya Papua,” ujarnya sambil tertawa.

JFT kini menjadi primadona baru walaupun sang coach bukan wajah baru bagi sepak bola di Papua. Madura United telah merasakan kembalinya Persipura seperti masa keemasannya lima tahun silam.

Sebelumnya, pengamat sepakbola Papua Nico Dimo mengucapkan terima kasih kepada manajemen yang telah memulangkan Jacksen F. Tiago untuk melatih kembali Persipura yang pernah dibawanya meraih enam gelar juara, di mana tiga gelar juara Liga Indonesia dan tiga gelar turnamen pra musim.

“Ini Papua ko mo apa. Sekali Jacksen F. Tiago tetap dia adalah pelatih terbaik milik Persipura. Selamat datang sang legenda hidup yang sudah menorehkan prestasi terbaik bagi klub milik publik dan fans berat Persipura di kampung halamanmu Papua, negeri yang melahirkan tim sepak bola terhebat dengan panggilan Mutiara Hitam,” kata Dimo kepada Jubi belum lama ini. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)