Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Donasi penuh haru dari Mama-Mama Papua

Posko penampungan mahasiswa eksodus di Nabire – Jubi/Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

TANGISAN Yustina Kobogau, pecah. Dia meratapi nasib para mahasiswa yang terpaksa kembali ke Tanah Papua, dan menumpang tinggal di posko.

“Kami melahirkan kamu (kalian) bukan untuk dihina dan tinggal di posko. Kami akan kumpulkan makanan dari mama-mama, dan bawa ke sini,” kata Kobogau sembari terisak.

Kobogau bersama dua rekannya menyambangi posko penampungan mahasiswa eksodus di di Nabire, Sabtu (21/9/2019). Mereka menumpang angkutan umum untuk menyerahkan bahan pangan berupa petatas, pisang, dan sayur-mayur untuk penghuni posko.

Suasana posko yang semula dipenuh kesibukan para penghuninya, seketika berubah haru. Isak tangis pun mewarnai anjang sana mama-mama pedagang pasar tersebut.

Loading...
;

“Ini ada sedikit uang hasil sumbangan kawan-kawan. Jangan lihat besarnya. Kami tulus kasih (sumbangan) untuk makan kalian,” ujar seorang rekan Kobogau.

Kunjungan berlangsung singkat. Kobogau dan rekannya langsung berpamitan, tidak lama setelah menyerahkan bantuan. Kepergian mereka dilepas dengan salam dan pelukan haru penghuni posko.

“Terima kasih mama-mama. Tuhan memberkati dan melindungi mama-mama,” ujar juru bicara posko, Arnoldus Douw.

Batasi diri

Posko mahasiswa eksodus berada di areal Sekolah Tinggi Theologia (STT) Walter Post Kampus Nabire. Posko menampung sekitar 300 mahasiswa yang hengkang dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa dan Bali. Mereka berasal dari beberapa daerah di wilayah adat Meepago. “Perlakuan rasisme di Surabaya dan Malang membuat semua kawan merasa tidak nyaman (lagi menetap di kota studi). Efeknya sudah menyentuh (terasa) sampai ke (tingkat) akar rumput,” kata Douw.

Posko menempati bekas bangunan gereja di STT Walter Post Kampus Nabire di Jalan Padat Karya. Mahasiswa memilih kampus sebagai lokasi posko karena dianggap layak dan nyaman.

Pendirian posko memudahkan mereka untuk saling berkoordinasi, berdiskusi maupun berkonsolidasi. Sejak menetap di posko pada Jumat, para mahasiswa membatasi diri dalam berinteraksi dengan pihak luar, termasuk pemerintah daerah dan media massa.

“Kami belum bisa menerima siapa pun. Kalau pun ada yang diterima, harus berdasarkan kesepakatan bersama (para penghuni posko),” jelas Douw.

Tunggu perkembangan

Penyerahan bantuan logistik dari Mama-Mama Papua – Jubi/Titus Ruban

Kebutuhan logistik para penghuni posko diasup oleh mama-mama pedagang pasar, jemaat gereja, dan urunan warga (eba mukai). Mereka belum bisa memastikan sampai kapan bertahan di posko, dan berkuliah kembali ke kota studi masing-masing. Itu semua bergantung kepada perkembangan, dan kesepakatan bersama dengan posko serupa di seantreo Papua.

Douw menjamin mereka tetap menjaga keamanan dan ketertiban di posko dan wilayah di sekitarnya.

“Kami imbau warga tetap tenang. Kami hadir bukan untuk membuat hal tidak etis.”

Koordinator posko, Yusni Iyowau, menambahkan mereka masih melihat perkembangan penanganan rentetan dampak tindakan rasisme dalam beberapa hari ke depan. Mereka khawatir pemerintah menggiring isu tersebut untuk meningkatkan posisi tawar politik, mengingat skema Otonomi Khusus (Otsus) Papua bakal berakhir.

“Patut diduga, pemerintah menggiringnya ke (kesepakatan) Otsus Plus (skema baru). Jika otsus berakhir, seharusnya kami (Papua) diberikan hak untuk menentukan nasib sendiri,” kata Iyowau.

Saat hari pertama berdiri, posko mahasiswa tersebut sempat dipantau polisi. Mereka berjaga-jaga di luar posko, tetapi akhirnya membubarkan diri.

“Kami minta aparat keamanan tidak berlebihan menanggapi (kehadiran posko). Nanti kami atur mereka supaya tidak anarkistis (membuat keributan),” kata Tokoh Pemuda Nabire Yones Douw. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top