Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dua anggota KNPB diintimidasi, ini kata Kapolres Mimika

Ilustrasi aksi KNPB. Jubi/Dok

Jayapura, Jubi – Sidang gugatan Praperadilan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Timika terhadap Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mimika diwarnai intimidasi dan kekerasan. Dua aktivis KNPB yang hendak saksikan sidang menjadi korban pada sidang kedua dan sidang ketiga.

Gustaf Kawer, pengacara Hak Asasi Manusia mengatakan pihak kepolisian melakukan pengawakan ketat sejak sidang perdana pada 11 Februari 2019. Polisi bersenjata lengkap, memarkir satu mobil Barracuda di depan gedung pengadilan.

Anggota polisi bersenjata laras panjang itu berkeliaran di luar ruang sidang, bahkan mengintip ruang sidang lewat jendela.

“Pengawalan sidang ini bentuk intimidasi terhadap para aktivis dan masyarakat yang ikut menghadiri sidang, serta terhadap para pengacara,”ungkap dia kepada jurnalis Jubi, Sabtu (16/02/2019)

Intimidasi itu berlanjut dengan kekerasan fisik. Pada 13 Februari, sidang kedua dengan agenda sidang pembuktian, Soon Tabuni, seorang aktivis KNPB yang hendak turut mengawal sidang mengalami perlakuan tidak terpuji.

Loading...
;

Anggota polisi hadang Tabuni di depan pengadilan. Tiga Anggota polisi mendekati dan memaksakan Tabuni melepaskan pakaian yang dikenakan. Polisi juga memaksa Tabuni melepas gelang tangan dan kalungnya.

Tabuni tidak serta merta membuka pakaian dan gelangnya. Tabuni mengajukan soal legalitas polisi memaksa dirinya membuka pakaian yang menutup tubuhnya.

“Apakah ada dasar saya buka pakaian?”tanya Tabuni kepada anggota polisi tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan itu dianggap melawan tiga polisi itu dan makin banyak yang mengerumuni Tabuni.

Anggota polisi itu mulai melakukan aksi tarik dan dorong Tabuni. Polisi terus memaksa hingga membuka baju kaos olahraga Bola bermotif Bintang Fajar yang dia kenakan.

“Mereka juga paksa dia buka celana tetapi tidak dibuka. Gelangnya yang dipotong,”ungkap Kawer.

Kemudian, pada sidang ketiga, pada 14 Februari 2019, Pit Gobay mengalami penganiayaan. Anggota melakukan kekerasan fisik terhadap Gobay.

Gobay kemudian dibawa ke Polsek Miru. Polisi menahan dengan alasan yang tidak jelas. Gobay akhirnya bebas setelah tim pengacara HAM komplain pada 15 Februari.

“Sudah keluar kemarin malam setelah kami komplain penahanannya di Polsek Miru, Timika,”ujar Kawer kepada jurnalis Jubi.

Soon Tabuni, salah satu korban, mengambarkan kronologis singkat melalui rekaman suaranya. Tabuni mengaku polisi hadang di depan pengadilan dan memaksakan dirinya bukan baju.

“Saya tidak langsung buka. Saya tanya ada undang-undang yang menjamin buka baju kah?”tanya Tabuni dalamn rekaman suara yang dikirim kepada redaksi Jubi.

Pertanyaan itu mengundang anggota lain kerumun Tabuni. Mereka memaksakan buka bajunya. Buka gelang dan kalung yang dipakainya dengan cara memotong.

“Mereka juga mau paksa saya buka celana. Ini tindakan kolonial Indonesia yang buat kami orang Papua makin benci sama Indonesia,”ujarnya dalam rekaman berdurasi satu 38 menit itu.

Sementara itu, Kapolres Mimika, Ayun Komisaris Besar Agung Marlianto menuding informasi itu bagian dari propaganda KNPB, dengan memberikan informasi yang belum ada kebenarannya.

“Itu organisasi terlarang dan pandai bersilat lidah, propagandanya juga asal. Jangan pernah percaya pengkhianat bangsa. Kalau negeri sendiri aja dikhianati, apalagi anda dan kita”ujar Agung melalui pesan singkatnya, minggu (17/02/2019).

Editor: Syam Terrajana

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top