Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dugaan korupsi APBN jalan Mameh-Bintuni, Polisi lakukan penyelidikan

Kondisi jalan di Kampung Mameh, Distrik Tahota Kabupten Mansel yang sementara dilidik Polda Papua Barat. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Jalur tranportasi darat yang menghubungkan kabupaten Manokwari Selatan dan kabupaten Teluk Bintuni, terhambat lumpur sepanjang lima kilo meter di kampung Mameh Distrik Tahota Kabupaten Manokwari  Selatan, Papua  Barat.

Satu-satunya akses jalur darat yang menghubungkan dua kabupaten ini tak kunjung diaspal, walau telah dianggarkan dalam APBD kabupaten Manokwari Selatan, bahkan dianggarkan pula dalam APBN tahun 2018 karena masuk dalam peta jalan Nasional di Papua Barat.

Hasil penelusuran Jubi, jalan tersebut sebenarnya milik PT.Mamberamo selaku perusahaan kayu yang melakukan aktivitas eksloprasi hasil hutan kayu dan  hingga kini masih terikat kontrak sebagai jalur logging PT.Mamberamo.

Namun, jalur tersebut sempat dianggarkan dalam APBD Kabupaten Manokwari Selatan tapi juga tak direalisasikan hingga pengaspalan. Bahkan jalur itu masuk pula dalam peta jalan nasional di Provinsi Papua Barat, sehingga dianggarkan dalam APBN 2018 untuk pengerjaanya melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) wilayah IV, Kementerian PUPR Provinsi Papua Barat.

Loading...
;

Blandina Oseri, warga kabupaten teluk Bintuni mengatakan, untuk tembus ke Bintuni butuh perjuangan. Selain mengeluarkan ongkos transportasi Rp500 ribu, dia juga harus menyiapkan bekal perjalanan.

“Saya pernah bermalam tiga hari di jalan, karena mobil yang kami tumpangi tertanam lumpur. Kalau jalan kaki bisa, tapi lima kilo meter, itupun dalam lumpur dan saya tidak sanggup karena belanjaan saya banyak,” kata Blandina.

Sementara, Petrus Tandi Limbong satu diantara supir angkutan mengatakan, sudah beberapa kali mobilnya tertanam lumpur dan tidak bisa dipaksakan jika kondisi cuaca hujan.

Jalur lima kilo meter di Kampung Mameh, adalah jalur yang sangat ditakuti para supir mobil dua gardan saat hujan, karena hanya dapat dilalui jika cuaca panas.

“Kalau sudah tertanam di lumpur, kita harus cari bantuan alat berat. Itupun kita harus keluarkan biaya untuk bayar operator alat berat. Kalau tidak, terpaksa kita harus kerja manual dan bisa tertahan sampai empat hari,” ujarnya.

Sementara, Benyamin Pesurnay, Kepala satuan kerja (kasatker) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) wilayah IV (Bintuni) Kementerian PUPR Papua Barat mengatakan, jalur berlumpur di  Distrik Tahota hanya tiga kilo meter, meski diakui bahwa sebelumnya lima kilo meter tapi dua kilo meter sudah ditimbun oleh PT. Job Mulia Bersama (PT.JMB) selaku pihak kontraktor pemenang lelang jalan tersebut.

Bahkan, kata dia, untuk antisipasi cuaca hujan dan jalan berlumpur, pihaknya telah meminta kepada pihak PT. JMB untuk menyediakan alat berat selama arus mudik Lebaran 2019.

“Saya sudah minta PT. JMB untuk siap di sekitar lokasi jalan berlumpur dengan menyiapkan alat berat. Jika ada kendaraan yang tertanam di lumpur, agar bisa dibantu tanpa biaya (gratis),” ujarnya.

Solusi yang sementara dilakukan oleh BPJN, kata Benyamin, yaitu hanya dilakukan penimbunan dan pengerasan.

“Kita dari PU tidak pernah tinggal diam, kami tetap bantu, meski alat mau  rusak  kita tidak  peduli yang penting masyarakat bisa lewat tanpa harus berjalan kaki,” katanya.

Diketahui, Penyidik tindak pidana korupsi Ditreskrimsus Polda Papua Barat, sedang menyelidiki anggaran pembangunan pekerjaan jalan Mameh di Distrik Tahota Kabupaten Manokwari Selatan. Pasalnya ruas jalan ini kerap menjadi keluhan banyak warga yang melintas antara Manokwari Selatan-Bintuni atau sebaliknya.

Polisi menyelidiki

Kanit Tipikor Ditreskrimsus Polda Papua Barat, AKP Tommy Pontororing mengatakan, berdasarkan bukti dokumen lelang proyek yang diselidiki,  pembangunan jalan di Mameh Distrik Tahota telah dianggarkan dalam APBN  2018, sekira Rp21 miliar.

“Anggaran sebesar itu, tapi ternyata hasil pekerjaan sepeti sekarang. Yang tadinya bisa ditempuh dalam waktu norman  6-8 jam, ini bisa 3-4 hari. Dokumen dan bukti-bukti inilah yang kami sedang telusuri,” ujar Tommy.

Tommy mengatakan, pengembangan dalam penyelidikan dugaan korupsi anggaran pembangunan jalan Mameh-Bintuni menjadi atensi Kapolda Papua Barat. Oleh karena itu, sejumlah pihak akan segera diapanggil dalam agenda klarifikasi selepas libur dan cuti bersama Lebaran Idul Fitri.

“Dugaan kasus ini jadi atensi Kapolda kita. Sejumlah pihak yang terkait sudah kami kirim undangan pemanggilan dan akan segera dilakukan pemeriksaan Rabu pekan ini. Salah satu yang akan dipanggil adalah Kasatker BPJN wilayah IV (Bintuni) dan pihak PPKnya,” kata Tommy. (*)

Editor : Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top