Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ekonomi Jayawijaya belum pulih, tapi stok seimbang

Pasokan barang kebutuhan pokok masyarakat yang tiba di Bandara Wamena – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Amuk massa di Wamena 23 September 2019 sudah lewat satu bulan, namun secara keseluruhan perekonomian di Jayawijaya belum pulih seperti biasa.

Hingga kini daya beli masyarakat masih jauh menurun jika dibandingkan dengan sebelum kejadian, namun hal itu berbanding selaras dengan ketersediaan stok barang yang beredar di pasaran.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Jayawijaya, Semuel Munua, mengatakan pasca amuk massa pasokan dan kebutuhan barang masih berimbang.

“Karena pemasok barang masih enggan menyediakan barang dalam bentuk besar terkait menurunnya pembeli,” katanya kepada Jubi di ruang kerjanya, Selasa, 22 Oktober 2019.

Loading...
;

Munua mengatakan dua kali dalam seminggu selalu turun ke lapangan mengecek kondisi stok dan harga barang. Ketika ke lapangan minggu ini stok barang untuk dua minggu ke depan masih mencukupi.

“Memang kita di Wamena, misalnya untuk stok beras itu tiga bulan ke depan mesti ada, karena kita tergantung pesawat jadi datang beli langsung habis meski setiap harinya distribusi lancar,” ujarnya.

Hanya saja, kata Munua, yang terjadi para pedagang atau pemasok di Jayapura sedikit mengurangi utang dengan pedagang di Wamena, karena takut dengan kondisi sekarang ini membuat barang tidak lancar lalu pembayaran ke pemasok di Jayapura tersendat.

Prinsipnya, katanya, dalam satu minggu ke depan pasokan masih tetap lancar, bahkan ada penambahan armada Jayawijaya Dirgantara yang tadinya beroperasi satu pesawat sekarang ditambah satu lagi.

Itu membantu kondisi perekonomian Jayawijaya saat seimbang. Artinya meski pemasok mengurangi barang namun pembeli juga berkurang karena semua kebanyakan masih berada di kampung-kampung dan mengungsi keluar Wamena.

“Yang jadi masalah itu kalau pembeli banyak lalu barang kurang, tapi keadaan sekarang ini pembeli masih kurang,” katanya.

Namun Dinas berusaha meningkatkan karena memasuki November dan Desember biasanya kebutuhan masyarakat meningkat.

“Sehingga untuk antisipasi kita tetap imbau pedagang untuk tetap stok barang, begitu juga ke aviasi agar penerbangan tetap lancar,” katanya.

Pasalnya, kata Munua, jika dalam keadaan normal pada bulan-bulan seperti ini pemerintah daerah biasanya kesulitan mengendalikan harga dan stok barang karena kebutuhan masyarakat meningkat.

“Seperti tahun lalu pada bulan Oktober–November itu kita sudah pusing, harga sudah mulai naik, distribusi barang dari Jayapura ke Wamena kadang tersendat karena ketika fokus ke bahan bangunan lalu abaikan bahan pokok dan sebaliknya,” katanya.

Meski begitu Munua mengklaim sejauh ini harga kebutuhan pokok masyarakat tidak naik. Seperti rica/cabe rawit Rp80 ribu per kilogram, bawang merah Rp70 ribu per kilogram, bawang putih Rp60 ribu per kilogram, dan telur Rp85 ribu per rak.

Sedikit yang mengalami kenaikan ialah beras dolog 50 kilogram dari biasanya Rp900 ribu per sak menjadi Rp1,1 juta sehingga Dinas mengusulkan ke pemerintah pusat agar dilakukan operasi pasar untuk beras cadangan.

“Untuk gula, tepung, dan bahan pokok lainnya relatif stabil, begitu juga beras di pasaran selain Bulog dalam tahap normal, meski ada kenaikan namun masih dalam taraf wajar,” katanya.

Untuk pasar tradisional, kata Munua, hingga kini hanya Pasar Wouma yang belum beroperasi akibat belum adanya persetujuan dari pemilik ulayat, karena merasa kecewa tempat usaha turut dibakar oleh perusuh.

Sedangkan di Pasar Jibama terus diupayakan agar seluruh pedagang kembali, karena sejauh ini hanya mama-mama penjual sayur yang sudah masuk pasar, sedangkan beberapa pedagang non-Papua, baik pedagang kelontong maupun penjual ikan masih banyak yang bergabung di Pasar Potikelek.

“Pedagang mama-mama Papua yang jual sayur mereka minta kepada kami agar pedagang kelontongan kembali ke pasar jangan di kota lagi supaya sama-sama ramai, untuk Jibama sudah mulai normal, tetapi memang pasar satu-satunya yang ramai baru Potikelek dan Sinakma,” katanya.

Ronal, pedagang grosiran sembako di Jalan Irian Wamena mengaku kendala yang ia hadapi dalam penyediaan stok barang adalah penerbangan. Meski setiap hari sebanyak dua ton barang campuran yang masuk ke gudangnya, tetapi hanya sekali dalam sehari dan hanya satu armada.

“Memang kelihatan barang kosong, karena kami tidak berani menambah utang untuk pengambilan barang di Jayapura, karena memang pembeli berkurang,” kata Ronal.

Berkurangnya stok barang juga dialami Imanuel Itlay, pemilik kios kelontongan di wilayah Wesaput. Namun ia mengaku hal itu disebabkan karena banyak barang yang ia cari di kota tidak tersedia.

“Barang-barang ketika saya mau beli di kota habis seperti mie instan, rokok kosong, padahal saya cek dua hari sekali untuk beli ke kota,” ujarnya.

Manu juga mengakui ada kenaikan harga untuk beras bulog ketika ia mencari kepada penyuplai di kota. Harga beras bulog 10 kg Rp200 ribu dan 15 kg Rp300 ribu.

“Ada juga barang seperti biskuit yang banyak dicari masyarakat ketika dicari sudah habis di grosiran, tetapi untuk air minum kemasan baik botol maupun galon sudah mulai masuk ke Wesaput,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top