HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Empat karya sineas perempuan masuk 10 film terbaik FFP III

Empat perempuan Papua, pembuat film dokumenter: (dari kiri ke kanan: Helena Kobogau, Lidya Monaliza Upuya, Irene Fatagur (tokoh dalam film), dan Naomy Wenda) – Jubi/Yulan

Papua No. 1 News Portal | Jubi

KARYA empat sineas perempuan Papua terpilih dari total 10 film dokumenter terbaik dalam ajang Festival Film Papua (FFP) III, yang sedang berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat.

Perempuan pertama adalah Lidya Monaliza Upuya (26), yang memproduksi film dokumenter berjudul “30 Tahun su Lewat”.

Film berdurasi 17 menit 39 detik ini bercerita tentang kehidupan warga trans lokal dari Serui yang bekerja di perkebunan kelapa sawit Perusahaan Tinggi Perkebunan Nusantara (PTPN) II di Kabupaten Keerom, Papua, sejak tahun 1998. Mulai tahun 2015 sampai sekarang, keluarga Mama Karolina Wayangkau harus keluar dari perumahan karyawan di Afdeling 4/5 mencari lokasi baru, hidup hanya dengan menerima separuh gaji setiap bulannya dari perusahaan tersebut.

Perempuan peserta workshop pada FFP-III di Sorong – Jubi/Yulan

“Lewat film ini, saya mau tunjukkan bagaiamana Mama Karolina berjuang untuk bertahan hidup ketika perusahaan hanya memberikan separuh gajinya dan harus mencari tempat baru untuk di daerah suku lain. Di sini sangat jelas terlihat peran perempuan yang begitu besar untuk keberlangsungan hidup keluarganya sampai saat ini,” ujar sineas bernama akrab Mona ini.

Loading...
;

Berikutnya adalah Kristina Soge dengan karyanya berjudul “Perempuan Papua di Tanahnya”. Film ini bercerita tentang pengalaman Irene Fatagur, seorang perempuan asal Arso, Kabupaten Keerom, yang mengalami konflik tanah lebih dari 36 tahun, karena perkebunan kelapa sawit PTPN II masuk ke kampungnya. Film berdurasi 15 menit itu dikerjakan Kristina bersama Dion Kafudji.

Irene, yang ditemui Jubi di sela-sela acara, mengatakan secara budaya perempuan Papua hampir tidak diakui oleh adat dan orangtua terkait hak atas tanah. Padahal, menurutnya, perempuanlah yang selalu berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan keluarga dan tanah ulayat ketika masalah datang terkait lahan yang dijual oleh kaum laki-laki.

“Seharusnya, kami perempuan juga punya hak yang sama yaitu hak menjaga, hak memakai dan hak memiliki tanah itu. Saya mau bilang, masyarakat asli Papua yang masih punya tanah itu tolong, jangan kamu jual. Tanah itu ibarat mama yang kitong harus jaga sama-sama karena kitong semua makan dan hidup dari situ,” pesan Irene.

3. Salah satu stand pada FFP-III yang memajang foto-foto aktivitas perempuan Papua. – Jubi/Yulan

Selanjutnya, Helena Kobogau, sineas perempuan ketiga yang memproduksi film dengan durasi 8 menit 33 detik dalam film berjudul “Daerah Hilang” di Timika, Papua. Film ini menceritakan tentang hilangnya kampung akibat operasi dan pembuangan limbah tailing PT. Freeport melalui jalur sungai hingga ke laut.

Kata Helena hingga saat ini masyarakat suku Amungme dan Kamoro mengalami banyak kendala.

“Setiap akses jalan terputus oleh pasir kimia yang menutupi permukaan sampai ke laut. Ikan, udang, dan siput tidak ditemukan lagi, apalagi air bersih,” katanya.

Tak hanya berbicara tentang lahan. Pada film hasil produksi sineas ketiga, Naomy Wenda, dalam filmnya yang berjudul “Menembus Batas” itu mengangkat sosok perempuan asal Wamena, Ester Haluk. Pada film berdurasi 13 menit itu, Ester berjuang menyebarkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan terutama terhadap perempuan.

Naomi merasa penting membuat film tentang aktivitas Ester Haluk, yang merupakan seorang dosen pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Fajar Timur Post Tujuh, Sentani itu.

“Saya lihat yang dikerjakan Kaka Ester itu sangat penting karena saya dan teman-teman mengalaminya juga. Saya lebih senang lagi kalau teman-teman laki-laki nonton film ini, supaya laki-laki jangan hanya teori saja, tapi kamu harus bisa terapkan kesetaraan dan berlaku adil untuk teman-teman perempuan,” kata Naomi.

Keempat film itu masih akan berkompetisi dengan enam film lain–juga tentang perempuan–yang diproduksi anak muda Papua. Pada puncak acara, Jumat (9/8/2019), dewan juri FFP III akan mengumumkan tiga film terbaik yang akan keluar sebagai juara.

Melihat daftar film dokumenter yang masuk dalam Festival Film Papua sejak 2017, 2018 dan 2019, keterlibatan perempuan sebagai pembuat film belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. Dari total 25 film pada festival pertama, lima film di antaranya dibuat oleh perempuan. Pada tahun kedua, jumlah menurun menjadi hanya dua perempuan dari total 19 film. Dan, tahun ini naik lagi menjadi lima perempuan pembuat film dari total 17 film yang berkompetisi.

Pembina komunitas Papuan Voices, yang juga budayawan Papua, Max Binur, mengapresiasi semua karya film yang masuk pada FFP III ini. Ia berharap pada festival tahun 2020, akan lahir lebih banyak sineas perempuan Papua.

“Karena kalau perempuan sendiri yang membuatnya, apalagi mereka yang menjadi korban yang berjuang, pasti hasilnya akan lebih menyentuh hati semua orang yang menontonnya,” ujarnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top