HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

‘Epidemi’ KDRT Samoa terungkap, perempuan Samoa mulai bangkit

Maluseu Doris Tulifau adalah pendiri Brown Girl Woke, sebuah kelompok yang berupaya meningkatkan kesadaran publik akan KDRT di Samoa. – The Guardian/Myka Stanley

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Cipratan darah di dinding. Memar berwarna plum di seluruh tubuh. Sepanjang ingatan Sefina (bukan nama sebenarnya), KDRT telah menjadi bagian dari hidupnya. Dia sering menyaksikan ibunya dipukuli oleh ayah tirinya. ‘Maaf,’ bisik ibunya setelah itu kepada anak-anaknya.

Kakak perempuan Sefina hampir terbunuh oleh sekelompok kerabat laki-lakinya karena ia melanggar jam malam. ‘Maaf,’ kata kakaknya saat dia meninggalkan pulau itu untuk selamanya.

“Itu sudah biasa di sini. Kita tidak perlu berbicara tentang KDRT, kita harus benar-benar diam,” kata Sefina, sekarang 22 tahun, dan menderita depresi dan kecemasan. Dia selamat setelah berkali-kali berupaya melakukan bunuh diri. “Tidak ada yang meminta bantuan, kita tidak bisa meminta bantuan keluar. Keheningan itu luar biasa, ia mencekik kita. Kadang saya merasa saya mulai kehilangan kewarasan saya.”

Samoa adalah negara Polinesia kecil yang terletak di Samudra Pasifik barat. Kebun talas berjejer di tepi jalan di daerah pedesaan, dan pohon kelapa yang terawat memenuhi desa-desa, di mana masyarakat pada umumnya hidup sangat tradisional: gereja, pertanian swasembada, dan kesetiaan kepada keluarga.

Loading...
;

Namun keindahan surga tropis ini menyembunyikan rahasia yang kelam: salah satu angka KDRT dan kekerasan seksual tertinggi di dunia. Tahun lalu, Samoa menjadi negara Kepulauan Pasifik pertama yang melakukan penyelidikan nasional terhadap KDRT. Diterbitkan pada akhir 2018, temuan ini mengungkapkan adanya ‘epidemi’ KDRT dan pelecehan seksual.

Laporan tersebut menemukan bahwa ‘KDRT mempengaruhi hampir semua keluarga di Samoa’, dengan sembilan dari 10 responden melaporkan kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Sekitar 60% perempuan pernah mengalami KDRT dari pasangan mereka, dan 20% perempuan melaporkan pernah diperkosa, sementara inses mencapai sekitar 10%.

Sama seperti semua statistik yang dilaporkan self-reported, jumlah sebenarnya dianggap jauh lebih tinggi.

Maluseu Doris Tulifau, 28, dulunya merupakan korban KDRT. Keluarganya berasal dari Samoa dan dia pindah ke sana dari Amerika Serikat 18 bulan lalu untuk meluncurkan kelompok pemberdayaan perempuan Samoa, Brown Girl Woke. Tulifau mengatakan budaya KDRT Samoa telah menyebar sampai ke AS, Australia, dan Selandia Baru melalui diaspora imigran Samoa, dan dia ingin ‘kembali ke akarnya’, untuk mempelajari dan menyelesaikan masalah tersebut.

Brown Girl Woke telah mengumpulkan banyak pengikut perempuan dan laki-laki muda melalui media sosial dan kampus-kampus lokal. Jumlah pengikut laki-laki dan perempuan sama banyaknya. Kelompok ini terutama bertemu di kampus-kampus – zona netral – di mana mereka mengadakan acara seperti open-mic, pembacaan puisi, dan kelompok ‘safe space’ untuk pelan-pelan memulai diskusi tentang apa yang mungkin terjadi di rumah mereka.

Tulifau mengatakan banyak generasi muda Samoa yang terbuka pada konsep kesetaraan gender, tetapi bingung antara kehidupan rumah mereka yang konservatif di desa-desa, dan kemungkinan adanya masyarakat yang lebih setara dan modern di masa depan.

Di jalan-jalan di Apia, laki-laki berjalan di dalam grup, melirik perempuan dan meneriakkan komentar yang cabul dengan suara keras. Perempuan dan anak-anak perempuan sudah tidak kelihatan di jalan-jalan pada sore hari, dan tidak akan keluar lagi sampai pagi tiba.

Dibesarkan dalam masyarakat yang sangat patriarkal, perempuan Samoa telah dilatih sejak lahir untuk mengambil ruang fisik sesedikit mungkin, untuk menggunakan suara-suara berbisik, dan untuk tunduk kepada semua laki-laki yang mereka temui.

“Kita tidak melihat diri kita sebagai individu, itu kita diam. Ketika salah satu dari kita dianiaya atau diperkosa, kita mengingat keluarga kita, dan keluarga pelaku, dan bagaimana seluruh desa kita akan terpengaruh. Banyak organisasi lain, karena mereka adalah bagian dari pemerintah, dinodai oleh korupsi. Mereka tidak bicara. Saya sendiri adalah orang dari luar negeri di mana saya tidak harus berurusan dengan omong kosong seperti itu,” kata Tulifau.

Victory Tuala-Tamalelagi, 19, adalah bagian dari Brown Girl Woke, dan aktivis kesetaraan gender di Samoa. Saat bertumbuh dia melihat tiga saudara perempuannya melakukan semua pekerjaan rumah, ini meyakinkan Victory bahwa sistem patriarki Samoa perlu diperbaiki.

“Bagi kita, anak-anak lelaki, secara umum – kita sudah mulai sadar,” kata Tuala-Tamalelagi sambil tersenyum. “Kalau dunia bisa melihat laki-laki membela perempuan, kita bisa memulai perubahan. Tujuan utamanya adalah kesetaraan gender. Saya ingin bangun pagi satu hari dan melihat ada setidaknya 16 anggota parlemen perempuan di Samoa.”

Ada lima perempuan di parlemen Samoa, dan sebagian besar perempuan tidak dilibatkan dalam memegang posisi otoritas atau pengambilan keputusan di dewan-dewan desa.

Tuala-Tamalelagi mengatakan bukti struktur patriarkal Samoa ada ‘di mana-mana’. Bahkan di kantin di kampusnya, ia melihat laki-laki muda secara halus mengendalikan pacar mereka. Dia sendiri telah menerima surat kebencian karena kejujurannya dalam berbicara tentang hak-hak perempuan.

Kelompok advokasi korban KDRT Samoa Victim Support group (SVSG), adalah satu-satunya layanan garis depan untuk KDRT di negara itu, namun beberapa ahli mempertanyakan transparansinya, tentang bagaimana kelompok itu beroperasi dan siapa saja yang dapat dibantu. Ada juga kekhawatiran tentang kualifikasi konselor-konselornya dan keadaan rumah singgah. SVSG menolak permintaan wawancara dari Guardian, begitu juga unit KDRT kepolisian dan komisaris polisi Samoa.

Gereja memainkan peran yang besar dalam kehidupan sehari-hari di Samoa.

Sekitar 99% orang Samoa aktif beribadah di gereja, dan Apia tengah dipenuhi berbagai gedung gereja.

Dr. Mercy Ah Siu-Maliko, satu-satunya dosen perempuan di sekolah tinggi teologi Piula Theological college, berkata pemahaman harfiah dari Perjanjian Lama dapat memperkuat pandangan patriarkal.

“Teologi yang patriarki terus membentuk penafsiran orang Samoa tentang Alkitab. Pembacaan dan pemahaman harfiah dari Alkitab masih digunakan untuk membenarkan dominasi laki-laki atas perempuan dan hak mereka untuk secara fisik ‘mendisiplinkan’ perempuan dan anak-anak,” katanya.

“Yang ada dalam pendekatan ini adalah pemahaman patriarkal tentang Tuhan. Jika Tuhan adalah sosok ayah laki-laki yang berkuasa, maka laki-laki harus seperti Tuhan yang maskulin ini, dan pertanyaannya kemudian berubah menjadi, sampai sejauh mana kendali ini bisa dilakukan?”

Dr. Ah Siu-Maliko percaya ia dipanggil untuk berbicara melawan KDRT, tetapi dia sering menjadi sasaran kritik.

Gereja Methodist, Gereja Katolik, dan Dewan Gereja-gereja Samoa menolak permintaan wawancara dengan Guardian.

Desa-desa di Samoa memerlukan bantuan dana untuk program-program kesetaraan gender.

Vaiee berjarak satu jam dari Apia, di Teluk Safata. Bersama dengan halaman rumah yang terawat, desa itu memiliki peraturan yang melarang KDRT.

Awal tahun ini, Kepala Suku Vaiee, Lealaimanu Mapusaga memperkenalkan denda sebesar $ 761 untuk setiap suami yang dinyatakan bersalah memukuli istrinya. Beberapa minggu setelah peraturan itu diberlakukan, seorang laki-laki memukuli putranya hingga babak belur, Kepala Suku Mapusaga lalu mengubah peraturan untuk memasukkan perlindungan terhadap anak-anak, dan memerintahkan bapak itu untuk membayar denda. Jika dia menolak, dia akan diusir dari desa.

Menurut kementerian perempuan, sekitar 17 dari sekitar 300 desa di Samoa kini telah menerapkan peraturan untuk melawan KDRT. Di beberapa desa, jam malam diberlakukan pada pukul 18:30, dan lonceng dibunyikan mengingatkan semua orang untuk pulang. Sekelompok laki-laki dengan membawa tongkat besar bertugas menegakkan peraturan itu, yang dirancang bukan untuk menyelesaikan KDRT, tetapi untuk menjaga orang-orang muda agar tinggal di rumah.

Sefina berkata kekerasan yang ia alami saat kecil telah berlanjut ke masa dewasanya berpacaran dengan laki-laki yang agresif. Tetapi dia telah bergabung dengan Brown Girl Woke, dan menerima pelatihan dari Tulifau tentang cara mengenali hubungan yang beracun dan KDRT.

Ia mulai mengekspresikan dirinya melalui puisi dan cerita, yang dibagikan melalui media sosial, dan telah mengumpulkan ratusan penggemar. “Saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya,” kata Sefina. (*)


Editor : Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top