Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Etalase Papua di perpustakaan daerah

Kepala Seksi Pelestarian Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Eli Worabai, ketika menunjukkan salah satu buku tentang Papua – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

AWAN tipis masih menggantung di langit Tabi, ketika Jumat pagi, 22 Maret 2019, kami menyambangi Perpustakaan dan Arsip Daerah Papua. Beberapa menit kemudian derai-derai gerimis terdengar. Lalu turun hujan deras.

Pengunjung belum tampak. Hanya beberapa pustakawan yang sibuk pada tugas masing-masing.

Seorang petugas menjelaskan koleksi buku di perpustakaan yang berlokasi di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura ini, sesuai dengan usia pengunjung–dari anak-anak sampai dewasa.

Saya langsung menyambangi ruangan (baca) khusus dewasa. Hanya sebentar saja. Sebab tak ditemui satu pun buku tentang Papua.

Loading...
;

“O, koleksi Papua di lantai 2,” kata petugas yang mengantar saya dengan ramah.

Saya pun bergegas ke lantai atas. Melewati ruangan berdinding peta Papua. Lampu di ruangannya padam, sehingga saya tak menyangka ada koleksi di dalamnya. Ada koran, majalah, dan CD (Compact Disk). Dijilid dan dalam bentuk aslinya, seperti majalah bola, dan lain-lain.

Membelok ke arah kiri ruangan ini, saya pun menemukan sebuah ruangan seperti rumah indekos. Tidak terlalu sempit, tetapi juga tidak terlalu luas.

Seorang bapak menerima saya. Namanya Eli Worabai. Dia menjabat Kepala Seksi Pelestarian Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua.

Worabai bercerita ruangan ini khusus mengoleksi buku-buku dan CD tentang Papua, baik yang ditulis di Papua, maupun di luar Papua. Adanya ruangan ini sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Untuk mewujudkan pelestarian dan pemanfaatan hasil karya budaya bangsa.

Koleksi-koleksi yang ada disebut deposit, sering orang sebut koleksi khusus Papua. Disusun di rak papan dan kaca menyerupai etalase. Tampak disusun sesuai DDC (Dewey Decimal Classification) atau Sistem Desimal Dewey. Klasifikasi Desimal Dewey dipelopori Melvile Louis Kossuth Dewey (1851-1931) tahun 1876, ahli perpustakaan berkebangsaan Amerika.

Melvile Dewey mengelompokkan buku-buku mulai dari 000 sampai 999 dari segala disiplin ilmu.

Koleksi di ruangan khusus Papua ditata sesuai klasifikasi DDC. Misalnya, berkode 330-339 DDC termasuk dalam kategori ilmu sosial, 400 ke atas berkaitan dengan linguistik, dan 500 lebih mengenai ilmu pasti (eksakta), 600-an tentang teknologi, dan agama 300-an. Penulisnya pun beragam, baik dari Papua, maupun di luar Papua.

Koleksi khusus Papua masuk dalam aplikasi sistem terpadu, untuk memudahkan pengguna menemukan buku-buku di rak atau mencari buku dalam fitur OPAC (online public access catalog). Dengan kata lain, OPAC memudahkan pengunjung mencari katalog, baik buku, majalah, mupun laporan penelitian.

“Seluruh koleksi ada 3.000 judul dan 4.000-an eksemplar. Koleksinya didominasi bidang sosial-budaya,” ujar Eli Worabai.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990, siapa pun yang menulis buku tentang Papua, harus menyumbangkan dua eksemplar khusus di ruangan koleksi Papua.

Koleksi khusus Papua tak banyak dikunjungi. Hanya sekira lima sampai enam pengunjung per hari dan 40-an orang setiap bulan.

“Yang sering mengunjungi adalah peneliti, mahasiswa, dan kadang-kadang anak-anak. Buka jam 8 jam sampai tiga sore,” katanya.

Selain sumbangan penulis, biasanya buku-buku diantar instansi-instansi pemerintah, seperti, biro hukum, biro umum, organisasi, dan DPR Papua.

Dia mengakui pengelolaannya mengalami kendala, karena perpustakaan masih dianggap sebagai pelengkap dalam pembangunan. Belum gencarnya sosialisasi juga dinilai sebagai salah satu faktor minimnya pengunjung.

“Kami mengirim info kepada instansi lain untuk kirim bukunya kemari lalu kami hunting,” katanya.

Kunjungan ke perpusda Papua

Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, pusat administrasi, ekonomi, dan pendidikan. Sejumlah gedung megah, sekolah dan kampus, bersanding dengan gedung perpustakaan yang berada di Kota Pelajar, yakni Distrik Abepura ini.

Kunjungan per 2015 sekira 31.000-an pengunjung. Dari kunjungan ini dirinci; mahasiswa 19.325 orang, pelajar SD 6.463, pelajar SMA/SMK 2.899, dan pelajar SMP 2.899 orang.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Hans Y. Hamadi,  mengatakan rata-rata tiap tahun sepanjang 2017–2019 mencapai 13.000 hingga 15.000 kunjungan, dengan lebih dari 54.000 koleksi. Pengunjung untuk anak TK, SD sampai 7.000 lebih, mahasiswa 5.000, umum 3.000 orang.

“Koleksi untuk mahasiswa 24 ribu, untuk umum 13 ribu lebih, anak-anak dan anak sekolah 20 ribu kurang,” kata Hamadi.

Dosen salah satu jurusan di Universitas Cenderawasih, Karl Karolus Wagab Meak, adalah salah satu pengunjung dan pemegang kartu anggota tetap perpustakaan. Hal ini memudahkan beliau meminjam buku. Persediaan buku dinilai dapat memenuhi kebutuhan intelektual pembaca. Meski demikian, dia menyarankan agar buku-bukunya terus ditambah.

“Kalau ketersediaan buku berdasarkan jurusan untuk kebutuhan kerja tugas dan lain-lain, saya pikir masih sangat kurang,” kata Karl.

Dia enggan menyebutkan koleksi tentang Papua, tapi menyarankan koleksi buku di perpustakaan ini ditambah. Katalog buku juga sedianya menggunakan sistem komputerisasi, untuk memudahkan pengunjung. Dirinya juga berharap perpustakaan dibuka hingga Sabtu, bukan hanya jam kantor. (*)

Editor: Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top