Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

FBLB diharapkan menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus di Papua

Salah satu peserta yang ikut melakukan pentas perang-perangan pada FBLB Tahun 2018 lalu – Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dewan Adat Papua (DAP) berharap Festival Budaya Lembah Balim (FBLB) ke-30 di Wamena dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam kehidupan masyarakat Wamena dalam menghargai tatanan budaya dan adat istiadat yang sudah ada.

Dominikus Sorabut, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) ketika diwawancarai Jubi, Senin (1/7/2019) mengatakan, tujuan dari festival ini untuk memberikan edukasi pada generasi penerus orang Papua, dan juga khalayak internasional. Apalagi dari seni tari tradisional yang dimiliki oleh masyarakat di sana.

“Seperti dansa tradisional, lagu-lagu tradisional. Tapi situasi perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi ini membuat kita sudah mulai meninggalkan itu semua, bila kita melihat dengan baik ternyata itu memiliki nilai ekonomi yang luar biasa bahwa itu juga bagian dari identitas, karakter bahkan ada juga pendidikan-pendidikan dasar (dini) sudah ada di situ namun berjalannya waktu kita sudah lupakan,” kata Sorabut.

Sorabut melanjutkan, di dalam festival seharusnya mengangkat sejumlah nilai-nilai yang disebutkan sebelumnya, karena selama ini yang ditampilkan hanya tarian perang-perangan karena pencurian babi bahkan sekilas soal pemerkosaan.

“Sesunguhnya yang harus diangkat dan dipertahankan itu bagaimana seorang kepala suku ‘Ap kain’ itu dia mempertahankan eksistensi teritorial wilayah adatnya,” katanya.

Ia berharap, dalam kegiatan festival ini sejumlah khazanah budaya Papua yang ada di tujuh wilayah adat dapat terakomodir, tidak hanya di Wamena sehingga pendidikan yang menjadi karakter dalam suku itu dapat dipertahankan, agar setiap orang Papua bisa mengingat untuk melestarikan budayannya.

Loading...
;

“Misalnya dongeng atau cerita rakyat yang sebenarnya satu nilai religi yang tersimpan (terbungkus) dalam cerita dongeng yang dulu masa kecil sebagai pengantar tidur namun setelah besar dongeng tersebut memiliki nilai religi. Lagu, ratapan (de iya) juga demikian,” katanya.

Sebelumnya Bupati Jayawijaya, Jhon R Banua mengatakan, di dalam festival ini nantinya juga berisikan kunjungan ke beberapa destinasi wisata, sebagai upaya untuk memperkenalkan Papua dan Kabupaten Jayawijaya yang terkenal dengan beberapa suku seperti suku Dani.

“Kontibusi pariwisata terhadap kemajuan ekonomi masyarakat di Papua khususnya Jayawijaya cukup besar dari festival ini,” ujarnya.(*)

 

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top