Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Filep Karma: kekerasan tidak selesaikan masalah di Papua

Filep Karma – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura,Jubi – Tokoh West Papua, Filep Karma menegaskan semua komponen di tanah Papua jangan saling serang menyerang lantaran adanya informasi bohong (hoaks). Mestinya harus pilahkan mana yang benar dan tidak agar terhindar dari permusuhan.

“Kalau ada yang jadi korban karena hoaks, mari kita menahan diri. Jangan saling balas membalas. Kekerasan tidak menyelesaikan permasalahan di tanah West Papua,” ujar Filep Karma.

Ia menyarankan pihak kepolisian jeli melihat situasi ini agar konflik saling balas membalas tidak berkepanjangan. “Kita jernihkan masalah lalu lihat duduk masalah, silahkan tangkap pelaku dan lanjutkan proses hukum,” ucap Karma.

Menurutnya rakyat asli Papua dan non Papua di tanah Papua, saat ini menjadi  korban.

Loading...
;

“Jangan kita diadu domba. Karena orang-orang besar di Jakarta yang menikmati uang keamanan. Buktinya datangkan pengamanan dari berbagai provinsi, itu bunyinya miliar,” katanya.

Mahasiswa Papua, Alleb Koyau mengatakan, penyebaran isu hoaks dan provokasi akhir-akhir ini di tanah Papua ibarat dua striker yang sekali serang demi banyak menciptakan gol. Itu tiada lain, hanya untuk meredam banyaknya isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi hampir tiap hari.

Katanya, buah gol yang berikut adalah negara dan penguasa ketika menetapkan hoaks dan provokasi sebagai tersangka (dalil), maka masalah dasar seperti pelanggaran HAM dan gencarnya aspirasi penentuan nasib sendiri (The Right To Self Determination) disederhanakan.

“Bahkan dikaburkan menjadi persoalan kriminal biasa, atau ikut-ikutan akibat terhasut hoaks dan provokasi oleh oknum tertentu,” ungkap Alleb Koyau kepda Jubi di Jayapura, Sabtu, (28/9/2019).

“Padahal penyederhanaan dan distrosi masalah pada kenyataannya tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah,” ucapnya.

Sebagai contoh, kata dia, menanggapi kondisi demo damai yang berujung perusakan di Jayapura pada 29 Agustus 2019 lalu, Kapolri dan Panglima TNI telah berkantor di Papua. “Terjadi penambahan 6000-an pasukan dengan harapan dapat meredam dan menyelesaikan masalah,”katanya.

“Akan tetapi, berselang beberapa minggu saja kini meletus lagi aksi di Jayapura (Ekspo) dan Wamena akibat pencetus yang sama, yakni soal rasisme yang berujung tuntutan kemerdekaan,” ujar Alleb.

Ia menegaskan, perlu digaris bawahi apabila kanal-kanal ekspresi terus dibungkam dengan kekerasan, substansi masalah terus diabaikan, keterlibatan militer dalam pembunuhan terus merajalela.

“Ya, kriminalisasi terus terjadi dan nilai kemanusiaan terus direndahkan. Maka dampak terburuk yang bakal terjadi adalah pemberontakan dan perlawanan rakyat yang meluas dan serentak,” katanya.(*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top