Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Filep Karma: Kultur Indonesia dan Papua itu berbeda

Filep Karma – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Mantan tahanan politik (Tapol) Papua, Filep Karma mengatakan ujaran rasisme terhadap orang Papua sudah terjadi sejak lama dan para pelakunya tak pernah mendapatkan proses hukum.

“Sejak orang Papua dipaksa menjadi Indonesia, rasisme sudah terjadi. Bukan hal baru dan itu saya sudah alami termasuk senior-senior saya juga mengalami perlakuan yang sama. Kami sudah sampaikan perlakuan ini terhadap senior-senior kami di pemerintahan namun tidak ada tanggapan,” kata Filep Karma kepada Jubi, Jumat (13/9/2019).

Kata Filep Karma, ketidaktegasan pemerintah pada berbagai kasus pelanggaran di Papua adalah penyebab bergejolaknya aksi massa di Papua dan Papua Barat.

“Sekarang ini meledak dan pada puncaknya. Seluruh Indonesia biar tahu dan memang itu kelakuan dasarnya,” kata Filep Karma.

Loading...
;

Filep menganalogikan lakon wayang. Tokoh yang kulitnya hitam (dibuat dari bahan kulit dan diwanai hitam) itu berkonotasi negatif. Inilah yang membuat Papua dan Indonesia tidak bisa bersama karena memiliki kultur yang berbeda.

“Jadi mereka melihat semua orang yang berkulit hitam di dunia, konotasinya memang negatif. Bagaimana mau mengubah mindset?” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe menegaskan, rakyat Papua bukan bangsa monyet sebagaimana teriakan yang dilontarkan oleh sejumlah aparat keamanan dan ormas kepada mahasiswa Papua dalan insiden di Asrama Papua jalan Kamasan No. 10 Surabaya, Jumat (16/8/2019).

“Kami bukan bangsa monyet. Kami adalah manusia Papua yang punya harga diri dan martabat sama dengan suku bangsa lain. Tindakan rasial yang dilakukan di Surabaya harus dihentikan, itu sangat melukai hati rakyat Papua,” kata Gubernur Lukas kepada wartawan di Jayapura belum lama ini.

Ia juga meminta kepada seluruh masyarakat non Papua maupun aparat kemanan di seluruh wilayah Indonesia untuk tidak melakukan hal-hal atau tindakan inkonstitusional seperti persekusi, main hakim sendiri, memaksakan kehendak, bertindak rasis, diskriminatif, dan intoleransi yang dapat melukai hati masyarakat Papua serta mengganggu harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita sudah 74 tahun merdeka. Seharusnya tindakan-tindakan intoleransi, rasis, dan diskriminatif tidak boleh terjadi di negara Pancasila yang kita junjung bersama,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top