Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Filep Karma: Saya dukung mahasiswa pulang ke Papua

Mahasiswa Papua di Manado berbondong-bondong pulang ke Papua melalui Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado – Jubi/Piter Lokon.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Eksodus besar-besaran yang dilakukan mahasiswa Papua dari berbagai kota study di Indonesia mendapat dukungan dari Filep Karma. Menurutnya, kepulangan mahasiswa tersebut adalah hal yang tepat.

“Saya sangat setuju mahasiswa memilih pulang ke Papua, supaya menjadi perhatian agar jangan lagi anak Papua disekolahkan di Jawa. Kita kirim ke luar negeri,” katanya kepada Jubi, Jumat (13/9/2019) di Gedung Negara, Jayapura.

Menurut mantan tahanan politik (Tapol) ini, apabila tidak ada universitas di Papua dan Papua Barat yang tidak bisa menampung para mahasiswa tersebut sebaiknya Pemerintah Provinsi Papua berpikir untuk mengirim mahasiswa tersebut kuliah di luar negeri.

“Ada dana Otsus kenapa takut, karena dana itu untuk mereka (mahasiswa) dan memang untuk meningkatkan kualitas SDM Papua. Kalau memang mencari kualitas SDM di Jawa dan dihina lebih baik mencari SDM di negara orang lain,” ujarnya.

Loading...
;

Filep berkisah, dirinya pernah mengambil pendidikan di Filipina dan mendapatkan perlakukan yang cukup terhormat dari masyarakat di sana. Menurut Filep, masyarakat di luar negeri sangat menghormati sesama umat manusia.

Untuk itu Filep Karma berharap Pemprov Papua bisa mengirim mahasiswa tersebut ke beberapa Negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura , PNG, Filipina, Thailand, Vietnam, Pakistan, Banglades, dan India.

“Itu pikiran saya buat anak-anak kita yang sudah pulang untuk kuliahkan saja keluar negeri,” ujarnya.

Dirinya juga meminta seluruh stakeholder yang ada di Papua untuk memikirkan bagaimana nasib anak-anak Papua yang hingga kini belum bisa pulang ke Papua.

“Kita harus punya perhatian yang ekstra terhadap anak-anak kita yang masih ada di pulau Jawa. Jangan sampai mereka diintimidasi, mendapat perlakukan rasis dan persekusi oleh ormas-ormas yang memang dipelihara untuk melakukan hal-hal tersebut. Karena selain Ormas, pada umumnya masyarakat di pulau Jawa perlakukannya seperti itu. Mereka menghina kita sebagai monyet, dan perlakukan itu diterima oleh kita terima sehari-hari. Bahkan di kalangan intelektual (kampus) begitu,” katanya.

Hal ini juga pernah dirasakannya ketika berkuliah di pulau Jawa, di mana ketika itu dirinya mendapat study lapangan ke Jakarta.

“Kami waktu itu nginap di Asrama Haji-Bukit Durian, Banten. Kami yang melakukan study lapangan tersebut berencana wisata ke Ragunan. Terus ada satu teman saya katakan, ayo kita ke Ragunan untuk melihat saudara-saudaranya Filep. Saya sakit hati dengan perkataan tersebut. Saya katakan, kamu orang yang tidak bermartabat. Perlakuan itu sudah sering saya rasakan begitu juga dengan anak-anak kita saat ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe mengimbau kepada seluruh pelajar dan mahasiswa-mahasiswi yang saat ini menempuh pendidikan di luar Papua agar tidak pulang jika situasi  di kota studi-nya aman.

“Saya sampaikan kalau di NKRI tidak aman, yah kita pulangkan, tapi kalau daerahnya aman untuk apa kita pulangkan?” kata Gubernur Lukas kepada wartawan belum lama ini di Jayapura.

Kata Enembe, kepulangan mahasiswa saat ini merupakan inisiatif pribadi bukan karena paksaan Pemerintah Provinsi maupun kabupaten/kota.

“Mereka ini pulang karena atas kemauan sendiri. Sebagian besar sudah pulang dari beberapa kabupaten/kota. Saat ini kami pusing mau tempatkan mereka di mana,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top