HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Film “Pahlawan” Tanpa Tanda Jasa sabet Juara I FFP III

Foto bersama para juara bersama Ketua LMA Kabupaten Sorong (Silas Kalami), perwakilan Yayasan Tifa Jakarta, Nova Silitonga, Sekretaris Nasional Papuan Voices, Wirya, dan panitia FFP III, usai pemberian hadiah – Jubi/Yulan

Papua No. 1 News Portal | Jub

Sorong, Jubi – Film berjudul “Pahlawan” Tanpa Tanda Jasa yang disutradarai Christian G. Tigor Kogoya keluar sebagai juara pertama dalam ajang kompetisi Festival Film Papua (FFP) III, yang diumumkan pada penutupan Festival, Jumat (9/8/2019), di Kota Sorong, Papua Barat.

Juara II disabet “30 Tahun su Lewat” yang disutradarai Monaliza Upuya. Pilihan juri untuk juara ketiga jatuh pada film berjudul “Perempuan Papua di Tanahnya” yang disutradarai Kristina Soge dan Dion Kafudji.

Penentuan juara atau tiga film terbaik dari 10 besar film itu menjadi pekerjaan berat bagi dewan juri.

Penutupan acara FFP 3 . – Jubi/Yulan

Melanie, satu dari empat juri yang mengumumkan tiga film terbaik itu, mengatakan semua film dalam ajang kompetisi FFP III kali ini memiliki kesamaan yang menonjolkan isu tentang Perempuan Penjaga Tanah Papua.

Loading...
;

“Dan, banyak yang sutradaranya perempuan, angkat isu yang penting. Ini yang bikin jadi pekerjaan berat sekali mau pilih yang mana,” ujar Melanie, yang juga aktif bicara dan menulis tentang pemenuhan hak-hak perempuan melalui penulisan laporan situasi perempuan di Papua.

Meski diakui juri berat, agaknya ada kekompakan alami yang terbangun dalam ruangan Keik LMA Malamoi, Jumat malam. Pengunjung di hari terakhir FFP III yang membludak hingga di luar gedung, kompak meneriakkan berulang-ulang, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,” untuk menjawab pertanyaan juri, siapa juara pertama dari tiga film, yang ditonton bersama, sebelumnya.

Penyerahan Hadiah bagi pemenang FFP III  – Jubi/Yulan

Film hasil karya Kristian yang berdurasi 15 menit ini menceritakan tentang seorang mama janda yang menghidupi anak-anaknya dengan berjualan roti, sayur, ubi, dan uang pensiunan sebesar Rp13 ribu per bulan.

Meskipun pendapatannya sangat rendah, Mama Kogoya (karakter utama dalam film) bisa menyekolahkan delapan anaknya hingga sarjana. Salah satu kebanggaan mama adalah anak pertamanya, seorang perempuan, yang saat ini menjabat sebagai kepala puskesmas di Makki, Kabupaten Lanny Jaya (Papua).

Dari penilaian empat juri, Melanie bilang film “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” memiliki nilai lebih dari semua film yang berkompetisi.

“Alur ceritanya menarik, tokoh perempuan digambarkan dengan baik, untuk memenuhi maksud film, menyampaikan cerita dengan gabungan gambar lama (arsip pribadi) dengan masa kini. Kemudian, dikuatkan dengan pernyataan salah satu anaknya yang berhasil. Meskipun sedikit kurang shot establishment namun teknik film sangat baik dengan gambar dan suara jelas,” ujar Melanie Kirihio.

Sementara itu, dua film terbaik lainnya “Perempuan Papua di Tanahnya” dan “30 Tahun su Lewat”, masing-masing juara II dan III, dipandang laik masuk dalam tiga film terbaik.

Penyerahan hadiah bagi pemenang FFP III . – Jubi/Yulan

Tak hanya menilai isi cerita serta hal-hal teknis dalam pembuatan film. Bagi Melanie, keterlibatan perempuan sebagai sineas yang memproduksi sendiri film ini yang menjadi poin penting.

“Jadi bukan hanya ceritanya tentang perempuan penjaga Tanah Papua saja, tetapi mendorong lebih banyak perempuan yang berkarya sebagai sutradara film. Ini yang menjadi catatan penting,” ucapnya.

Pembina Papuan Voices, Max Binur, berharap pada kompetisi Festival Film Papua IV tahun 2020, yang akan dilangsungkan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, nanti akan lahir lebih banyak pembuat film muda Papua.

Ia berpesan kepada seluruh koordinator Papuan Voices di seluruh daerah untuk lebih aktif dan berinisiatif menjalankan program untuk meningkatkan kemampuan anggotanya dalam hal pembuatan film-film dokumenter.

“Saya ingin lihat, bukan saja laki-laki, tapi kitong punya perempuan-perempuan yang bikin film ini bertambah lagi. Karena seperti yang selalu saya bilang, kalau bicara perempuan itu pasti lebih menyentuh kalau yang bikin juga perempuan,” ucapannya, disambut tepuk tangan meriah, yang sekaligus menutup FFP-III di Gedung Keik LMA Malamoi. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top