Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

FJAP: pelarangan liputan oleh polisi melanggar UU Pers

Hengky Yeimo (jurnalis Jubi), Benny Mawel (kontributor The Jakarta Post dan jurnalis Jubi), dan Ardi Bayage (jurnalis SuaraPapua.com) saat digelandang polisi untuk meninggalkan kampus Universitas Cenderawasih, Senin (23/9/2019). – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Koordinator Forum Jurnalis Asli Papua atau FJAP, Arnold Belau, mengatakan tindakan polisi melarang tiga wartawan meliput pembukaan Pos Solidaritas Eksodus Mahasiswa di halaman Auditorium Universitas Cendrawasih, Kota Jayapura, Papua, Senin (23/6/2019) melanggar Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Belau juga menyatakan pelarangan liputan itu bentuk diskriminasi terhadap jurnalis media lokal.

Polisi melarang tiga wartawan meliput pembukaan Pos Solidaritas Eksodus Mahasiswa di kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) pada Senin. Ketiga wartawan yang dilarang meliput itu adalah Hengky Yeimo (jurnalis Jubi), Benny Mawel (kontributor The Jakarta Post  dan jurnalis Jubi), dan Ardi Bayage (jurnalis SuaraPapua.com).

Belau menegaskan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) telah menjamin hak setiap wartawan untuk mencari, memperoleh, dan menyebarkanluaskan informasi. “UU Pers menjamin hak wartawan untuk melakukan liputan dengan bebas, tanpa ada intimidasi dan pembatasan dari pihak mana pun,” kata Belau melalui siaran pers FJAP, Senin.

Arnold Belau mengatakan, apa yang dilakukan polisi terhadap ketiga jurnalis asli Papua itu bentuk ketidakpahaman polisi terhadap tugas dan fungsi pers. “Aparat di papua harus memberikan jaminan kepada semua wartawan untuk melakukan kerja jurnalistik tanpa tekanan dari pihak mana pun,” katanya.

Loading...
;

Belau meminta aparat keamanan di Papua harus ubah cara pandang terhadap para jurnalis asli Papua, dan tidak mencurigai para jurnalis asli Papua. Ia menegaskan, selama ini banyak jurnalis menjadi korban pemukulan ataupun tindakan pembatasan liputan yang dilakukan aparat keamanan di Papua. “Forum Jurnalis Asli Papua sesalkan dan mengutuk keras perlakukan diskriminasi, intimidasi dan pembatasan akses wartawan untuk meliput secara bebas di Papua,” kata Belau.

Pada Senin pagi, sejumlah polisi melarang Hengky Yeimo, Benny Mawel, dan Ardi Bayage meliput di kampus Universitas Cenderawasih di Kota Jayapura. Selain melarang ketiga jurnalis itu meliput, para polisi itu juga memaki-maki dengan ungkapan yang kasar, dan menyebut Jubi sebagai media yang provokatif dan tidak berimbang dalam memberitakan peristiwa di Papua.

Peristiwa itu berawal pada Senin pagi, ketika ketiganya datang di kampus Uncen sekitar pukul 07.00 WP. Mereka sempat memotret serta merekam video spanduk bertuliskan “Posko Solidaritas Mahasiswa Exsodus Papua” yang dipasang para mahasiswa di pagar gapura kampus Uncen.

Beberapa saat kemudian, serombongan polisi yang dipimpin Kepala Kepolisian Sektor Abepura , AKP Clief G Philipus Duwitd tiba di gerbang Uncen, dan mencoba merobek spanduk di gapura itu. Yeimo, Mawel, dan Bayage memotret dan merekam video para polisi itu. Tetapi ada intel polisi menangkap mereka, yang lalu mendorong mereka pergi menuju area parkir motor. Ketiga jurnalis itu memprotes tindakan polisi, dan mencoba memotret dan merekam video lagi.

Intel dan sejumlah polisi kembali menghalangi, hingga berdebat dengan Yeimo, Mawel, dan Bayage. Polisi menyuruh Mawel melepas helm yang dipakainya, dan meminta Yeimo serta Bayage membuka topi mereka. Seorang polisi sempat membentak, “ei buka topi! Anjing, wartawan tidak jelas”, dan memukul kepala Bayage. Para polisi menyebut ketiga wartawan itu provokator.

Para polisi itu mencatut nama Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Jayapura, untuk menyatakan Kapolresta Jayapura melarang wartawan Jubi meliput berita. Seorang polisi berteriak “mereka tiga wartawan Jubi, wartawan Jubi provokator, kalian tulis berita itu tidak seimbang.”

Benny Mawel membantah tuduhan itu, dan menyatakan mereka bertiga bekerja profesional, independen, dan mematuhi kode etik jurnalistik maupun Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers). Akan tetapi, para polisi tetap memaki Mawel, Hengky, dan Bayage sebagai provokator, dan mendorong dengan kasar badan ketiga wartawan itu. Polisi juga memotret wajah ketiga jurnalis itu secara demonstratif, hingga ketiga jurnalis itu merasa terintimidasi.

Kepala Kepolisian Sektor Abepura AKP Clief G Philipus Duwitd yang melihat peristiwa itu tidak berupaya mengendalikan anak buahnya. AKP Clief G Philipus Duwitd bahkan ikut menyebut ketiga jurnalis itu provokator, dan memerintahkan anak buahnya membawa mereka ke Markas Polsek Abepura. Ketiga wartawan itu sempat mengingatkan tindakan para polisi itu melanggar UU Pers, dan mereka akan melaporkan polisi ke Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pers, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua.

Ketiga wartawan lalu digelandang keluar dari kampus Uncen. Mereka dibawa seorang intel polisi berjalan ke arah Markas Polsek Abepura, namun akhirnya intel polisi itu meninggalkan ketiga wartawan di dekat sebuah apotik di Abepura.

Ketiga wartawan itu akhirnya melaporkan kasus pelarangan liputan itu kepada LBH Papua dan Ketua AJI Kota Jayapura. Ketiga wartawan itu lalu mencoba kembali ke kampus Uncen, untuk mengambil sepeda motor mereka yang terparkir di depan gerbang kampus Uncen. Mereka telah meminta izin untuk mengambil sepeda motor mereka, dan menyatakan tidak akan mengambil foto ataupun video di lokasi itu, namun polisi tidak mengizinkan mereka mengambil sepeda motornya.

Ketiga wartawan itu juga sempat meminta bertemu Wakapolresta Jayapura, Kompol Heru Hidayanto yang melintas di depan kampus, dan menjelaskan kesulitan mereka. Akan tetapi, Heru juga tidak membantu ketiga jurnalis itu.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top