HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

FRI dan AMP Semarang gelar aksi di depan Polda Jawa Tengah

Massa aksi FRI dan AMP Semarang saat demo di depan Polda Jawa timur -Jubi/ dokAmp semarang

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Semarang menggelar aksi spontanitas atas peristiwa pemukulan terhadap Aliansi Mahasiswa Papua & Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) di Malang, Pengepungan pemukulan dan penahanan mahasiswa Papua di Surabaya dan pemasangan spanduk dan represivitas Ormas reaksioner di Semarang.

Aksi digelar pada Minggu, 18 Agustus 2019, pukul 18. 00 – 20 . 02 WIB di depan Kantor Polda Jawa Tengah. Para pendemo mengutuk stigmasisasi, diskriminasi, pengepungan yang belakangan ini berkembang terhadap mahasiswa Papua di berbagai tempat, begitu yang dikatakan Nehemia Sobolim, salah satu peserta aksi melalui pesan WhatsApp, minggu malam (18/8/2019).

Menurutnya, berbagai tindak kekerasan, termasuk rasisme dan diskriminasi terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Papua, sejak terjadi proses aneksasi wilayah Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Adapun sikap yang dikeluarkan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Pusat adalah sebagai berikut:

Atas kejadian-kejadian represif ini kami menyatakan sikap:

Loading...
;

1. Mengutuk pelaku pengepungan asrama Papua Surabaya, dan penyerangan aksi damai di Malang, serta pemukulan yang berujung pada penangkapan di Ternate dan Ambon

2. Tangkap dan adili aktor dan intelektual pelaku dalam pengepungan asrama Papua Surabaya dan penyerangan aksi mahasiswa Papua di Malang (15 Agustus 2019)

3. Kepolisian Resort Kota Besar Surabaya, KODIM Surabaya dan Pemerintah Daerah Surabaya bertanggung jawab atas Pembiaran terhadap TNI, Pol PP dan Ormas yang dengan sewena-wena mengepung dan merusak Asrama Papua.

4. Pecat anggota-anggota TNI dan Satpol PP yang memulai provokasi penyerangan asrama mahasiswa Papua di Surabaya

5. Hentikan rasisme! Manusia Papua bukan Monyet!

6. Tangkap dan adili pelaku pemberangusan ruang demokrasi di Surabaya, yang mengakibatkan 5 orang terluka berat dan belasan lainnya luka-luka ringan.

7. Ganti segala kerusakan materiil dan immateriil akibat dari penyerangan Asrama Kamasan Surabaya!

8. Hormati dan Lindungi hak kebebasan berkumpul dan mengemukakan pendapat sebagaimana yang dimaksud dalam konstitusi.

Dan secara terpisah, mereka mengimbau kepada rakyat Bangsa West Papua:

1. Rasisme, penyebutan “monyet Papua” itu datang dari kelompok reaksioner berwatak kolonial. Kolonialisme di Papua sudah berlangsung sejak 1962 pasca Negara Imperialis, Amerika Serikat, terlibat dalam perjanjian New York yang melahirkan penjajahan baru di Bumi West Papua setelah Belanda.

Rasisme, sikap dan tindakan merendahkan martabat harga diri Rakyat Papua telah lama dilakukan lewat operasi-operasi militer mengakibatkan lebih dari 500 ribu juta jiwa meninggal dalam pembantaian. Mereka menguasai sumber produksi hingga di pelosok, mengambil semua kekayaan alam Papua untuk tuannya Imperialis Amerika. Mereka mengisolir rakyat Papua seakan bangsa yang tak bisa berbuat apa-apa selain bergantung kepada kolonial.

Maka, dengan peristiwa pengepungan, penangkapan, dan penyebutan “monyet Papua” yang berulang terjadi, kami imbau untuk tidak terprovokasi dengan propaganda-propaganda yang memicu saling menyerang antar kelompok etnis atau beragama di Papua. Sebab propaganda semacam itu Ia menghendaki tuntutan politik Papua merdeka yang sedang diperjuangkan oleh rakyat mau digiring ke dalam isu rasial, saling serang antara kelompok. Musuh kita jelas, militerisme, kolonialisme beserta tuannya, imperialisme.

Harga diri dan martabat bangsa West Papua dinodai oleh penjajah, Rakyat satukan barisan, kekuatan, bangun persatuan nasional, mobilisasi massa untuk mogok jalan, menuntut hak untuk menentukan nasib bangsa west Papua, bangsa yang kerap disebut Monyet oleh bangsa Penjajah.

2. Kepada Rakyat dan mahasiswa Papua di Luar Papua, khususnya di Jawa-Bali, pusat kota kolonial, yang mengatur strategi penjajahan di Papua, itu ada di pulau Jawa, Ibu Kota Jakarta.
Kita adalah kaum muda yang memikul tanggung jawab atas amanah sejarah perjuangan melawan penjajahan dan membebaskan rakyat West Papua, Mempeloporinya untuk menentukan kondisi objektif yang baru, yakni bangun bangsa yang bebas dari penjajahan.

Amanah itu adalah pertama, menciptakan kader pejuang yang matang secara teori dan praktik, yang teruji dalam aksi massa, dalam segala resiko perlawanan, termasuk menyaksikan langsung, menjadi saksi dan korban atas pengepungan, pemukulan, penangkapan, teriakan rasis, untuk mengenal siapa itu penjajah dan menumbuhkan iman perlawanan untuk perjuangan panjang menciptakan bangsa yang mandiri dan bebas dari watak kolonialisme. Kedua, kita adalah saksi, telinga, mata, bagi penderitaan rakyat Papua. Menyebarkan seluruh realita ketertindasan kepada rakyat Indonesia, bangun solidaritas kepada buruh, tani, nelayan, mahasiswa, LGBT, dan kaum minoritas yang tersingkir dari rezim kapital yang bersekongkol dengan pemodal Internasional di Indonesia.

3. Mengimbau kepada Seluruh Mahasiswa di luar Papua, siapkan kekuatan, mobilisasi massa dari asrama ke kampus, untuk mengepung Istana Negara, Jakarta, menuntut Rezim Jokowi segera dipulangkan kami ke West Papua dengan Syarat berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri kepada bangsa yang Anda menyebutnya “Papua Monyet”, Rakyat Bangsa West Papua. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top