Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Frits Ramandey: Ada penyebab pengungsi Nduga terkesan diabaikan

Warga Distrik Yigi, Kabupaten Nduga saat menuju Nigiagin yang berbatasan dengan Kabupaten Lanny Jaya pada 26 Desember 2018 – Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala kantor Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey menyatakan penilaian berbagai pihak terkait kesan adanya perbedaan perhatian terhadap pengungsi dari Kabupaten Nduga dan pengungsi Wamena, Kabupaten Jayawijaya disebabkan beberapa faktor.

Salah satunya kata Frits, karena pengungsi Nduga hanya dapat (mau bertemu) dengan pihak-pihak tertentu.

“Saya tidak bisa bilang mereka tertutup, tapi tidak bisa semua pihak bertemu dengan mereka. Kalaupun ada bantuan-bantuan yang akan disalurkan, mesti dikomunikasikan dengan sejumlah pihak,” kata Ramandey kepada Jubi, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, warga Nduga dan Wamena mengungsi dalam kasus berbeda. Warga beberapa kampung di Nduga mengungsi ke sejumlah wilayah di antaranya Wamena, lantaran serangkaian aksi kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata di wilayah Nduga sejak jelang akhir 2018.

Loading...
;

Sementara warga Wamena mengungsi karena demonstrasi rusuh di wilayah itu pada 23 September 2019.

“Pengungsi Nduga ini mereka terkena dampak. Komnas HAM dua kali mendatangi pengungsian (warga Nduga). Untuk berkomunikasi dengan mereka mesti melalui kelompok-kelompok tertentu,” ujarnya.

Kata Ramandey, penanganan pengungsi Nduga dan Wamena memang berbeda dalam pengelolaannya. Akan tetapi para pengungsi diharapkan bisa terbuka berkomunikasi dengan siapa saja karena dalam prinsip HAM, siapa pun dia ketika menjadi pengungsi boleh ditemui oleh siapa saja, dan di mana saja.

“Siapa pun orangnya, darimanapun lembaganya ketika datang memberikan bantuan kemanusiaan, bisa mengakses kelompok-kelompok pengungsi secara bebas,” ucapnya.

Katanya, dari aspek kultural, sikap pengungsi Nduga bisa dipahami. Akan tetapi atas kemanusiaan Komnas HAM berharap pengungsi Nduga tidak boleh dilupakan atau kemudian diabaikan.

“Tidak boleh, karena dua-duanya pengungsi. Mereka tetap harus mendapat perlakuan sebagai pengungsi,” katanya.

Gubernur Papua, Lukas Enembe beberapa hari lalu juga menilai Pemerintah Pusat dan media massa mengabaikan keberadaan pengungsi Nduga. Padahal ada sekitar 5.000 warga Nduga yang mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya dan Lanny Jaya.

“Saya pikir kita juga harus fokus dengan pengungsi Nduga,” kata Enembe.

Katanya, ia telah berkoordinasi dengan bupati Jayawijaya dan Lanny Jaya untuk memperhatikan para pengungsi Nduga di wilayahnya.

“Warga yang mengungsi dari Nduga tersebut adalah masyarakat Papua yang perlu perhatian pemerintah,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top