Globalisasi dan ketahanan budaya Papua

Globalisasi dan ketahanan budaya Papua

Tarian asli Papua yang dipentaskan dalam FDS  – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hari Suroto

Saat ini pengaruh globalisasi merupakan ancaman serius terhadap ketahanan budaya Papua. Perlu dicari format atau konsep untuk melestarikan budaya Papua agar tidak terkikis. Kalau tidak, generasi muda Papua sebagai penerus akan kehilangan jati diri karena terbius budaya global dan modernisasi.

Pengembangan kesenian berbasis akar budaya dan tradisi dapat menjadi keunggulan. Terdapat dua pendekatan yakni pendekatan kreatif dan pendekatan akademis.

Dalam pendekatan akademis, kesenian dimainkan seperti apa adanya atau berdasarkan keasliannya. Tujuannya, untuk melestarikan kebudayaan tersebut.

Sedangkan, dengan pendekatan kreatif, kesenian tersebut terus berkembang, dikemas secara kreatif dengan teknologi modern, walaupun tetap terlihat akar tradisinya.

Keanekaragaman seni tradisi dan pengembangannya dengan menggunakan pendekatan kreatif dapat menjadi kekuatan dan modal yang besar. Pengembangan itu disertai dengan penghargaan dan penghormatan terhadap seni budaya lain.

Festival budaya yang dilaksanakan tiap tahun di Papua di antaranya Festival Teluk Humbold, Festival Danau Sentani, serta Festival Budaya Lembah Baliem, selain untuk melestarikan budaya setiap etnik yang ada, juga untuk mengetahui peta perkembangan seni pertunjukan Papua, guna mewujudkan masa depan budaya dan pariwisata daerah yang lebih baik, maju, dan bermanfaat.

Kehadiran festival budaya Papua, sekaligus sebagai penangkal arus budaya global yang tak bisa dipungkiri mulai merasuk, bahkan dikhawatirkan akan merusak generasi muda Papua. Kalau tidak ada penyaring seperti pesta ini, ada kekhawatiran generasi muda Papua akan asing dengan budayanya sendiri.

Festival budaya yang selalu diadakan setiap tahun merupakan kesempatan besar bagi Papua  untuk memperkenalkan budaya. Melalui acara ini, peserta dari luar diminta hadir dan melihat sendiri proses dan latar belakang budaya Papua sehingga mereka bisa menghargai produk budaya Papua dengan lebih baik dan memahami nilai-nilai budaya Papua.

Sesungguhnya festival budaya Papua dan even budaya yang sejenis, merupakan even yang diperuntukkan bagi masyarakat pemilik tradisi budaya itu untuk melakukan aktivitas mencipta, menggali, mengembangkan dan melindunginya, dan ini berarti masyarakat diberi kesempatan dan peran sebesar-besarnya untuk melakukan upaya pelestarian sumberdaya budaya Papua.

Program pelestarian budaya Papua yang harus dilaksanakan, pertama, pelestarian budaya berbasis masyarakat; kedua, pengembangan sarana dan prasarana pendukung kebudayaan; ketiga, peningkatan koordinasi antar stakeholders dalam penyusunan dan pelaksanaan program/rencana, implementasi dan evaluasi pelaksanaan kegiatan.

Koordinasi sebagai sebuah bentuk kegiatan bersama pada tahun-tahun mendatang akan menghasilkan kinerja yang lebih baik, mengingat hampir semua aspek utama dalam kebudayaan dapat diungkap.

Fungsi-fungsi pelestarian budaya Papua yang seharusnya dilaksanakan adalah:

Pertama, fungsi memelihara: menggali, melindungi, menjaga budaya yang ada ataupun yang pernah ada;

Kedua, fungsi memanfaatkan: terhadap apa yang dipelihara harus ada kemanfaatannya dalam berbagai aspek kehidupan dengan tetap memelihara dimana pemanfaatan dan pemeliharaan harus seimbang, dan;

Ketiga mengembangkan–memelihara dalam jiwa dinamis dengan kemampuan menyesuaikan dan mengikuti perubahan/perkembangan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar identitas. (*)

Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

Editor: Timo Marthen

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)