Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

GMKI Cabang Wamena: polisi harus percepat proses hukum pelaku rasisme  

Sekretaris Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Wamena, Simon Walilo. – Doc. Pribadi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sekretaris Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia atau GMKI Cabang  Wamena, Simon Walilo menyatakan prihatin dan berbela sungkawa atas peristiwa amuk massa di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada Senin (23/9/2019). Walilo meminta polisi segera menangkap semua pelaku ujaran rasisme di Surabaya.  Polisi juga diminta menyelidiki dugaan ujaran rasisme di Wamena, demi memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Walilo berharap polisi mempercepat proses hukum terhadap para pelaku rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Ia mengingatkan, gejolak, unjukrasa, dan amuk massa yang terus terjadi di Tanah Papua berakar kepada ketidakpuasan publik atas proses hukum terhadap para pelaku persekusi dan rasisme itu.

“Kami sangat prihatin polisi belum mengungkap [semua] aktor ujaran kebencian terhadap orang Papua. Imbasnya, terjadi protes yang mengakibatkan anak sekolah meninggal dunia, dan masyarakat yang tidak tahu menahu ikut menjadi korban dan meninggal. Kami turun berbelasungkawa atas meninggalnya para korban yang tidak tahu menahu [masalah tindakan rasisme terhadap orang Papua],” kata Walilo kepada Jubi, Rabu (25/9/2019).

Simon Walilo mengatakan para aktivis GMKI akan melakukan aksi serentak untuk menyampaikan duka cita bagi para korban berbagai kasus kekerasan pasca kasus rasisme di Surabaya. Aksi itu juga akan menuntut polisi untuk segera menuntaskan proses hukum para pelaku rasisme .

Loading...
;

“Sebab, bias dari pada ujaran rasis itu menyebar ke seluruh Tanah Papua. Termasuk [dalam informasi] ujaran rasis yang [diduga] disampaikan oleh oknum guru di Wamena. Hingga sampai saat ini aparat penegak hukum belum mengungkapkan tuntas kasus itu, tetapi mengklaim itu hoaks. Ketidaktuntasan itu bisa membuat masalah bertambah besar,” kata Walilo mengingatkan.

Simon Walilo menyesalkan proses hukum atas tindakan rasisme yang tak kunjung selesai, karena berdampak ke mana-mana, termasuk memantik amuk massa di Wamena yang menewaskan sedikitnya 30 warga sipil yang tidak bersalah. Simon juga menyesalkan pendekatan keamanan yang digunakan pemerintah, hingga mendatangkan aparat keamanan yang tidak memiliki pengalaman dan pemahaman tentang budaya orang asli Papua.

“Hal itu memperkeruh suasana daerah, mengapa sampai terjadi orang warga tewas, masyarakat Papua, dan saudara-saudara kami yang sudah menetap di Wamena sejak lama. Kami menolak penambahan pasukan [di Tanah Papua]. Pasukan [tambahan itu] tidak tahu karakter dan psikologi orang Papua, sehingga mereka akhirnya menembak masyarakat yang tidak bersalah,” katanya.

Sementara itu Arius Tibul meminta agar masyarakat tetap menahan diri, dan tidak terpancing dengan isu yang mememecah belah masyarakat di Wamena. “Kita tetap jaga wamena yang aman dan terkendali. Bagi pihak pihak yang mengucapkkan bahasa rasis, bisa ditindak secara hukum,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top