HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Gubernur cari jalan keluar untuk mahasiswa

Gubernur Papua Lukas Enembe berbincang dengan Helena Windesi (kanan) dan kedua anaknya, Adriana Rosema Windesi dan Bernard Steven Jack Windesi – Jubi/Roy Ratumakin

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Gubernur Papua Lukas Enembe berjanji akan mencarikan jalan keluar kelanjutan studi ratusan mahasiswa Papua yang pulang dari kota studinya karena khawatir dengan keselamatan mereka.

“Saya ditelepon oleh seseorang, katanya polisi, dia bilang mau ketemu dengan saya tetapi di kos. Saya bilang, mau ketemu untuk apa? Kata polisi itu mau diskusi soal kejadian di Surabaya dan Malang. Saya bilang saya tidak tahu apa-apa dan Jambi jauh dari Surabaya dan Malang.”

Itulah cerita Adriana Rosema Windesi, 19 tahun, mahasiswa Universitas Jambi asal Papua.

Ia ditelepon seseorang yang mengaku polisi. Karena takut, Adriana langsung menelepon ibunya, Helena Windesi, dan menceritakan kejadian tersebut.

Loading...
;

Ibunya menyuruh Adriana untuk tidak bertemu dengan orang tersebut.

“Saya bilang jangan, kalau memang dia seorang polisi dan ingin mengumpulkan anak-anak Papua kenapa tidak langsung bersurat ke Ketua Ikatan Mahasiswa Papua? Kenapa harus ke personnya?” kata Helena Windesi.

Helena mengatakan anaknya sempat takut sehingga meminta saran kepada dirinya apakah anaknya tetap bertahan di Jambi untuk melanjutkan kuliahnya atau harus pulang kembali ke Waropen sambil menunggu kondisi stabil.

“Saya bilang ke anak saya, kamu pulang nak, kami di sini memang awalnya sempat tidak bisa keluar rumah karena ada aksi demo yang berujung anarkis, tetapi karena ada kiriman pasukan yang ribuan makanya kami bisa keluar rumah, kenapa kami di sini aman, baru kalian di situ tidak aman,” ujarnya.

Adriana menambahkan, ia sempat curiga bahwa orang di balik telepon tersebut memang seorang polisi, namun caranya sudah menyalahi prosedur.

“Kalau mau sesuai prosedur, yah harus melalui Ketua Ikatan Mahasiswa Papua, kenapa harus langsung menelpon saya? Saya jadi takut, ini sama saja dengan intimidasi secara langsung,” kata Adriani yang kini duduk di semester tiga Jurusan Teknik Kimia.

Hal tersebut juga terjadi kepada kakaknya, Bernard Steven Jack Windesi, 21 tahun. Bernat, panggilannya, semester lima di Teknik Sipil Kelautan Basah, Institut Teknik Bandung (ITB). Ia mengaku tidak bisa keluar dari rumah kontrakan karena ada informasi dari rekan-rekannya agar anak-anak Papua tidak berkeliaran di atas pukul 18.00 WIT, karena akan mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan oleh warga sekitar.

“Jadi kalau kami mau keluar harus memakai jaket, tutup kepala, pakai masker, pokoknya jangan sampai kami diketahui sebagai anak Papua. Kalau itu sampai terjadi, maka kami siap-siap diintimidasi oleh orang yang kami temui di jalan,” kata Bernat.

Atas dasar inilah, Bernat dan Adriana memilih untuk pulang ke Jayapura, Papua untuk sementara waktu dan berharap Pemerintah Provinsi Papua bisa melihat hal ini sebagai masalah yang harus ditangani dengan cepat.

“Saya baca di surat kabar bahwa Pemprov Papua akan berusaha mencari universitas negeri di Papua untuk memasukkan anak-anak yang pulang ke Papua di universitas tersebut. Tapi kalau untuk anak saya tidak bisa, karena disiplin ilmunya tidak ada di universitas yang ada di Papua dan Papua Barat. Saya berharap ada langkah kongkret dari Pemrov untuk anak-anak yang disiplin ilmunya tidak ada di Papua dan Papua Barat,” kata Helena.

Helena mengatakan juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Polda Papua melalui Propam Polda Papua. Polda Papua, katanya, bergerak cepat untuk menelusuri kasus ini melalui tim Cyber Polda Papua untuk melacak nomor yang menelepon anaknya.

“Anehnya lagi, kenapa mereka bisa tahu nomor telepon anak saya, padahal nomor yang dipakai Adriana ini adalah nomor milik bapaknya, kebetulan waktu pulang liburan kemarin, HP-nya rusak, jadi disuruh pakai HP Bapak saja, sambil menunggu pembetulan HP milik Adriana,” ujarnya.

Setelah mendapatkan laporan, kata Helena, Polda Papua langsung menelepon anggota Polisi di Jambi.

“Kata orang Polda yang mereka telepon adalah Ajun Komisaris (ia menyebutkan nama) di Polda Jambi, saya tidak tahu urusan selanjutnya, yang saya inginkan adalah anak saya sudah aman dengan saya, tapi untuk masa depan anak saya saya berharap Pemrov Papua bisa menyelesaikan hal ini secepatnya,” katanya.

Setelah mendengar keluh-kesan Helena Windesi, Gubernur Lukas Enembe kepada wartawan mengatakan berjanji dalam pekan ini akan melakukan pertemuan dengan pimpinan daerah dan pihak terkait di Papua dan Papua Barat.

“Minggu depan, saya akan bertemu dengan Gubernur Papua Barat, MRP Papua Barat, DPRD Papua Barat, DPR Papua, MRP, seluruh kepala daerah baik kota dan kabupaten, serta Rektor Uncen, Unipa, dan Rektor Musamus untuk membicarakan hal ini,” katanya di Jayapura, Senin, 9 September 2019.

Gubernur Lukas mengatakan mahasiswa yang pulang dari beberapa kota studi sudah sampai 300-an dan kemungkinan akan masih terus bertambah.

“Kalau yang disiplin ilmunya ada di universitas negeri di Papua tidak jadi masalah karena kami akan meminta kelas tambahan, tetapi yang punya disiplin ilmunya tidak ada ini yang menjadi soal, mungkin alternatifnya kita kirim mereka kuliah ke luar negeri atau yang paling dekat ke Papua Nugini dan Australia,” ujarnya.

Untuk itu, Gubernur Lukas berharap para orang tua yang anaknya memilih pulang ke Papua karena merasa tidak aman di daerah atau kota studinya agar bersabar karena pihaknya juga tidak akan tinggal diam dengan masalah tersebut.

“Yang pulang ini adalah masa depan Papua yang harus diselamatkan,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top