Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Gunung Srobu, situs prasejarah yang harus dilestarikan

Peneliti muda Balai Arkeologi Papua, Herlin Novita Djami, ketika diwawancarai di kantornya – Jubi/Piter Lokon

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Gunung Srobu yang terletak di tengah teluk Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura ternyata menyimpan benda-benda prasejarah, alat-alat peninggalan nenek moyang orang Papua. Pemerintah harus membangun museum untuk menyimpan benda-benda prasejarah sebagai situs wisata, tempat penelitian dan pendidikan.

Kepala Kelurahan Abepantai, Karel Hanasbey, mengatakan Gunung Srobu sangat potensial dan harus dilestarikan, karena terdapat peninggalan-peninggalan prasejarah sesuai penelitian peneliti muda Balai Arkeologi Papua, Herlin Novita Djami sejak 2014. Berdasarkan penelitiannya selama enam kali, terdapat perkampungan di Srobu pada abad 16-17.

“Jadi, sekarang (apa yang) kita harapkan adalah pemerintah harus konsentrasi bagaimana benda-benda peninggalan itu bisa dilestarikan. Bisa juga sebagai tempat sarana pendidikan bagi adik-adik mahasiswa,” kata Hanasbey kepada Jubi di Abepura, Senin (5/11/2019).

“Bisa juga dilakukan sebagai tempat penelitian, bisa turis-turis datang mengambil data-data dari situ. Jadi, tempat itu harus ditata terus dan benda-benda itu harus ditaruh dalam satu wadah atau museum. Museum harus di tempat itu,” lanjutnya.

Loading...
;

Karel mengaku selalu diikutsertakan dalam setiap penelitian hingga sosialisasi yang dilakukan Balai Arkeologi Papua.

“Sekarang kita berharap supaya pemerintah provinsi dan kota buat terobosan. Tempat itu harus difungsikan,” pintanya.

Situs Srobu berlokasi di kelurahan Abepantai, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, tepatnya di sebuah tanjung di Teluk Youtefa. Ketika kita ke arah Kampung Nafri, terdapat tanjung melintang sepanjang sisi kiri jalan. Dari sana tampak jelas Jembatan Youtefa yang menghubungkan Hamadi dengan Distrik Muara Tami dan Kabupaten Keerom.

Situs Gunung Srobu ditemukan pada Februari 2014 setelah adanya laporan masyarakat kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. Ketika itu peneliti Herlin Djami dihubungi untuk mengecek lokasi yang ditemukan sejumlah tulang-tulang tengkorak orang Jepang oleh masyarakat saat mencari bia.

“Pada saat saya melihat tengkorak itu mata saya tidak tertuju kepada tengkorak, tetapi saya justru dikagetkan dengan banyak fragmen-fragmen tembikar atau fragmen-fragmen gerabah, bahkan alat-alat batu di situ, tetapi saya tidak berpikir lagi tentang tulang orang Jepang,” kata Djami.

“Saya berpikir, nah ini nenek moyang orang Papua ada di sini, begitu. Karena unsur-unsur budaya yang ditampilkan di situ bukan budaya-budaya orang Jepang, tetapi budaya-budaya dari nenek moyang orang Papua. Dari situlah kami tim arkeologi Papua pulang ke kantor dan menyusun rencana untuk melakukan penelitian di situ seperti apa temuan budaya yang ada di situs Srobu. Jadi, sejak tahun 2014 kami turun, kami lakukan ekskavasi di Situs Srobu dan tidak hanya ekskavasi yang kami lakukan, tetapi kami juga melakukan survei di bagian depan Gunung Srobu (situs) itu,” lanjutnya.

Penelitian Balai Arkeologi Papua di Srobu, lanjutnya, ternyata cukup variatif. Mereka tidak hanya menemukan tulang-belulang sesuai laporan masyarakat, tapi juga tumpukan-tumpukan kerang atau sampah kerang yang sudah membukit atau oleh Kjokkenmoddinger atau Midden (sampah dapur atau tumpukan karang). Ini suatu pertanda bahwa ada aktivitas budaya dimana masyarakat pendukung situs itu mengkonsumsi kerang sebagai makanan utamanya.

“Di antara tumpukan-tumpukan kerang itu bercampur dengan budaya. Jadi, di situ ada fragmen gerabah, bahkan ada alat kerang juga kami temukan, dan alat-alat batu yang cukup variasi kami temukan di situ. Bahkan tembikar-tembikarnya sangat-sangat indah sekali. Dari situlah kami mulai melakukan penggalian, untuk mencari tahu sudah sejak kapan manusia tinggal di situ, di situs Srobu. Kami melakukan penelitian di situ, kami lakukan penelitian ini sejak 2014 hingga 2019,” ujarnya.

Selama penelitian juga ditemukan arca megalitik pada 2018 dan kompleks-kompleks megalitik–bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar sebagai penciri utamanya.

“Kompleks megalitik menggambarkan bahwa nenek moyang kita pada masa itu sudah mempunyai kepercayaan yang sangat luar biasa, sudah mempunyai kepercayaan yang sudah mengenal satu sistem penguburan, tapi juga mereka bisa membagi ruang itu sudah bisa kita gambarkan ada struktur sosial didalam masyarakat,” kata lulusan arkeologi UGM 2004 ini.

Dia menjelaskan ada tiga arca megalitik yang ditemukan, bahkan satu di antaranya paling indah di Indonesia dan Pasifik. Arca dari situs Srobu memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.

“Sangat indah. Dari situ kita membayangkan bahwa memang situs ini situs yang sangat luar biasa, masyarakat yang sudah menciptakan suatu karya seni yang membawa cirinya sendiri. Jadi, bukan lagi budaya yang masuk dari mana-mana, tetapi mereka bisa membuat suatu karya yang luar biasa. Dari sana kami mencoba juga siapa ya manusia yang hidup di situ sehingga bisa mengkaryakan arca seindah itu,” ujarnya.

“Jadi, tahun 2019 ini kita mulai lakukan satu penelitian khusus berkaitan dengan pertemuan dengan dua ras besar yang bermigrasi ke Papua itu pada masa prasejarah, pertama ras australomelanesoid (Papua Melanesia) dan penutur austronesia–notabene adalah ras mongoloid bermigrasi ke Papua. Situs itu sudah ditempati sejak 1720 + 30 BP Masehi pada akhir prasejarah atau kita masuk pada masa paleometalik,” katanya.

Peninggalan yang luar biasa adalah megalitik Srobu, artefak batu, tulang dan kerang, serta sistem penguburan, gerabah Srobu. Penciptaan wadah-wadah dari tembikar berbagai macam.

“Jadi, tingkat pemahaman nenek moyang orang Papua itu sudah sangat luar biasa, penguasaan lingkungan alam bahkan potensi-potensi alam yang bisa mereka manfaatkan untuk mempertahankan eksistensi dari komunitas mereka,” katanya.

Dia berharap warisan budaya Srobu ini menjadi salah satu situs yang akan membangkitkan Papua.

“Setelah saya melihat geografis posisi Srobu ini jantung Papua itu mulai berdetak kembali, yang sudah pernah mati, di akhir prasejarah tapi dia berdetak kembali, dan saya beranggapan bahwa Srobu nenek moyang kita dia mengingatkan kita kembali bahwa kita Papua harus bangkit, kita itu punya potensi yang harus (di)kembangkan,” katanya.

Dia juga berharap agar situs Srobu ditetapkan sebagai cagar budaya dan mendapat perlindungan sesuai UU Nomor 10 Tahun 2011, sehingga dapat dikembangkan menjadi  objek wisata yang positif, wisata pendidikan atau sejarah.

“Karena kita akan mempelajari bagaimana nenek moyang kita hidup walaupun mereka tidak mengenal huruf, tapi mereka bisa berkarya. Maka pemerintah provinsi dan kota segera menetapkan cagar budaya, bahkan situs ini bisa menjadi situs bersifat nasional. Karena keunikannya dan potensi budaya ada di sana sangat kompleks jika dibandingkan dengan situs-situs prasejarah yang ada di Papua, Srobu itu sangat luar biasa yang menggambarkan ini loh Papua,” katanya.

Situs Srobu juga harus ditata dengan baik. Pemerintah dan masyarakat adat harus bersinergi agar pembangunannya berdampak positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat, maupun sosial masyarakat di kawasan itu.

“Kami harap masyarakat Nafri pemilik situs itu untuk tetap menjaga situs ini untuk tetap lestari,” katanya. (*)

Editor: Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top