Guru yang didepak dan mencari keadilan 

Guru yang didepak dan mencari keadilan 

Vonny Aronggear (tengah) dan kawan-kawannya ketika menunjuk laporan ke ORI Papua, Polsek Japut dan Dinas Pendidikan Papua – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Vonny Aronggear membawa setumpuk dokumen dalam sebuah map. Tak dinyana, kertas-kertas yang disimpan rapi itu merupakan laporan dan pengaduannya dalam mencari keadilan di Ombudsman dan Kepolisian.

Satu demi satu kertas itu ditunjukkannya kepada Jubi saat ditemui di Abepura, Kota Jayapura, Jumat sore, 8 Februari 2019.

Salah satu surat bertuliskan TBL/409/XXII/2018/Papua/Res Jpr Kota/Sek Japut, tertanggal 14 Desember 2018. Dalam surat ini, Aronggear sebagai pelapor atas perkara pengancaman dan perbuatan tidak menyenangkan di ruang guru SMA 2 Jayapura terhadap dirinya.

Dalam laporan yang ditandatangani Aipda Mukhlis atas nama Kapolsek Jayapura Utara dan penerima laporan Bribka Faisal, disebutkan kronologi kejadian yang menimpanya.

Dalam laporan tersebut Aronggear dituduh sebagai penyebab anak gadis si pelaku mabuk, dan menyebarkan berita itu di sekolah. Setelah itu pelaku pulang ke rumah dan mengambil parang lalu mengancam dan membunuh guru Vonny Aronggear.

Sedangkan pada surat lainnya, Vonny Aronggear menunjuk surat pengaduan ke Ombudsman RI perwakilan Papua untuk mencari keadilan atas dirinya.

Disebutkan dalam surat bernomor 0008/11/JPR/2019, Christina D.W, Kepala Sekolah SMA 2 Jayapura sebagai terlapor. Laporan tersebut ditandatangani Kepala Ombudsman RI Papua, Iwanggin Sabar Olif, selaku fasilitator.

Tak berhenti di situ, guru muda Geografi ini, juga menunjuk surat yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua, Elias Wonda. Surat bernomor 800/277 ini menyebutkan Vonny ditarik dan ditempatkan pada Dinas Pendidikan Papua terhitung sejak 7 Februari 2019.

Guru Geografi SMAN 2 Jayapura, Vonny Aronggear, tak menerima dirinya dimutasi ke dinas tersebut. Dia menduga dirinya didepak karena ketidakadilan dan “ketidaksukaan” sekolah terhadap kiprahnya sebagai penggiat literasi.

Dirinya yakin tidak bersalah. Dia bahkan menuding pihak sekolah sudah melakukan main hakim sendiri. Oleh sebab itu, dia meminta agar nama baiknya dipulihkan, dan kembali mengajar di sekolah yang berlokasi di Dok 9 Atas, Distrik Jayapura Utara itu.

Sebagai penggiat literasi dan sudah menelurkan tiga buku, Vonny Aronggear terus mendorong anak didiknya untuk menulis dan berkarya. Alhasil buku “Punah” diterbitkan. Tetapi pihak sekolah tidak memberikan apresiasi kepada siswa-siswi yang berpartisipasi dalam penulisan buku itu.

“Semenjak buku itu ditulis mereka mengatakan bahwa kami band terburuk nama sekolah. Selain itu ada siswa-siswi juga yang mabuk selalu marah kepada saya,” kata Vonny Aronggear.

Buku “Punah” malah memantik simpati dan apresiasi Dinas Pedidikan dan Kebudayan Kota Jayapura. Pada April 2017, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa, memberikan penghargaan kepada 10 siswa. Mereka adalah penulis buku Punah–binaan Vonny.

Penghargaan diberikan kala itu, bersamaan kepada 14 siswa Smanda yang menjuarai Olimpiade Sains Nasional (OSN) se-Kota Jayapura. Sekolah ini keluar sebagai juara 1 dan 2 fisika, juara 1 astronomi, komputer juara 3, geografi juara 1, 2, dan 6, dan ilmu kebumian juara 2 dan 6.

Kepala Sekolah SMA 2 Jayapura, Christina D.W, ketika dikonfirmasi melalui nomor Whatsapp-nya, 081247016XXX, Jumat malam, 8 Februari 2019, ihwal persoalan yang menimpa Vonny, belum memberikan klarifikasi.

Jubi pun terus meminta klarifikasi beliau sehari setelahnya. Konfirmasi serupa dilakukan media ini melalui nomor yang sama pada Sabtu, 9 Februari 2019. Namun hingga berita ini ditulis, Christina urung memberikan jawaban.

Marinus Yaung, yang mendampingi Vonny Aronggear, saat menemui Jubi, Jumat sore, mengatakan, dirinya akan membantu Vonny untuk menyelesaikan persoalannya. Yaung bahkan meminta pihak sekolah untuk mengembalikan nama baik Aronggear.

“Saya harap juga kepada pihak sekolah harus membuka diri dan tidak boleh saling menuduh. Alangkah baiknya tiap sekolah duduk bersama dan membicarakan secara kekeluargaan. Itu jalan terbaik yang harus diambil,” ujarnya.

Yaung berpandangan, Aronggear sudah lama mengajar di sekolah tersebut, bahkan menorehkan keberhasilan bagi anak didiknya.

“Apabila (Vonny) dipindahkan ke dinas lalu penggantinya siapa? Dirinya sudah lama mengajar di sekolah tersebut hal ini akan justru mengganggu proses belajar mengajar,” kata Yaung.

Melani Kirihio dari Ombudsman RI Papua membenarkan adanya laporan Vonny. Pihaknya akan menemui Dinas Pendidikan Papua.

“Iya benar, untuk bertemu dinas diagendakan minggu depan, karena kepala PWK sedang tidak di tempat,” kata Melani Kirihio, Minggu, 10 Februari 2019.

Menurut Kirihio, Ombudsman akan memonitor berita acara tersebut ke sekolah.

“Karena isinya sekolah akan menyelesaikan tapi kami juga heran sekolah sudah menyampaikan bahwa ibu Vonny sudah dimutasikan pada hari yang sama setelah pertemuan di ombudsman,” ujarnya.

Melani mengaku belum menerima salinan surat dari dinas soal mutasi.

“Yang kami tahu bahwa mutasi dari dinas sudah turun ke sekolah dan pihak sekolah sudah menyampaikan ke ibu Vonny, padahal masih ada langkah yang harus dilakukan sekolah pasca pertemuan dengan ombudsman, tapi kejadiannya berubah jadi kami akan konfirmasi juga ke kepala sekolah mengenai hal ini,” katanya. (*)

Editor: Timo Marten

loading...

Leave a Replay

Leave a Comment

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

loading...