Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Gustav Pui bangga Jason Armando dipanggil TC Timnas U19

Pelatih Timnas U-18 Fakhri Husaini (tengah) memberikan arahan kepada pemainnya – Jubi/ist.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pelatih sepak bola Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Papua Gustav Pui mengaku bangga karena anak didiknya Jarson Armando dilirik oleh pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia U19 untuk mengikuti proses seleksi dan pemusatan latihan yang dipersiapkan untuk Kualifikasi Piala Asia U19 yang akan dihelat 2020 mendatang.

“Pemain ke Timnas menjadi kebanggaan saya, karena pemain yang kita bina di PPLP tujuannya untuk pembentukan Timnas Indonesia,” kata Pui kepada wartawan, Kamis (26/9/2019) di Jayapura.

Kata Pui, Jarson Armando yang baru berusia 17 tahun merupakan pemain yang andal. Ia merupakan satu dari dua pemain yang dilirik oleh pelatih kepala Timnas U19, Fakhri Husaini.

“Terpilihnya Jarson karena kami setelah mengikuti kejuaraan PPLP di Bogor, Jawa Barat, ada bulan September kemarin, ada tim teleskoting dari Timnas U-19 turun langsung memantau pemain pada Kejurnas PPLP tersebut,” ujarnya.

Loading...
;

Sekadar diketahui, pemusatan latihan Timnas U19 sudah dimulai sejak 25 September hingga 1 Oktober 2019 mendatang.

Merujuk dari sejarah, sejak mulai bergulirnya turnamen elite di kawasan Asia Tenggara pada 1996, para pemain asal tanah Papua nyaris tak pernah absen membela skuad merah putih. Sejak masih bernama Piala Tiger ada nama Aples Tecuari yang menghiasi daftar pemain Timnas Indonesia saat itu.

Aples dikenal sebagai salah satu pemain tangguh yang pernah dimiliki Indonesia. Gaya permainannya yang taktis dan tak kenal kompromi membuatnya jadi pilar andalan di benteng pertahanan Indonesia.

Selain di Piala Tiger, Aples juga terlibat dalam sejumlah even besar internasional di antaranya Piala Asia 1996. Di bawah asuhan pelatih Danurwindo kala itu, pemain bernama lengkap Aples Gideon Tecuari selalu dipercaya menjaga pertahanan skuat Garuda.

Seusai Piala Asia 1996, Aples masih sering wara wiri di Timnas Indonesia hingga 2004. Terhitung ia sudah tampil bersama Timnas Indonesia sebanyak 36 kali. Prestasinya mempersembahkan medali perak SEA Games 1997 serta runner up Piala Tiger 2002.

Setelah Aples, ada juga nama Ronny Wabia. Pemain yang satu ini mungkin tak terlalu tenar seperti halnya Aples. Tapi pemain yang menghabiskan karier profesionalnya bersama Persipura Jayapura ini punya andil penting dengan memberikan assist kala Widodo Cahyono Putro mencetak gol spektakuler dengan salto saat menghadapi Kuwait di Piala Asia 1996.

Meski berada di bawah bayang-bayang rekannya sesama pemain Papua Eduardo Ivakdalam, Wabia tak bisa dianggap sepele. Pemain yang memperkuat Timnas periode 1996 hingga 1997 ini dikenal tajam saat di depan gawang dan mahir dalam menciptakan peluang.

Lalu ada nama Alexander Pulalo. Pemain Papua yang memiliki postur mungil ini adalah andalan di Timnas Indonesia sejak kelompok umur. Sejak menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola PSSI di Ragunan 1993 silam, Pulalo jadi andalan di Timnas Indonesia mulai dari U-16 hingga ke level senior.

Setelah itu ada nama Elie Aiboy. Salah satu legenda hidup Timnas Indonesia ini melejit namanya kala membela skuad Garuda di bawah asuhan Ivan Kolev. Di gelaran Piala Asia 2004, ia menjadi motor serangan sekaligus terciptanya gol pembuka bagi Timnas Indonesia kala menghadapi Qatar. Assistnya di paruh awal babak pertama mampu dimaksimalkan Budi Sudarsono menjadi gol.

Gol itu kemudian melecut semangat para penggawa merah putih hingga mampu digandakan oleh Ponaryo Astaman di babak kedua. Qatar dalam laga itu mampu memperkecil kekalahan jelang laga bubaran. Akibat kekalahan itu, pelatih Qatar saat itu Troussier dipecat.

Di tahun 2012, Elie sempat kembali dipanggil Timnas Indonesia di bawah asuhan Nilmaizar. Sayang Timnas saat itu performanya tengah jeblok. Elie yang saat itu didaulat jadi kapten tim, gagal membawa Timnas Indonesia berbicara banyak di gelaran AFF. Mereka tersingkir di fase grup setelah kalah dari Malaysia.

Selanjutnya ada Boaz Solossa. Pemain yang satu ini pertama kali mencicipi Timnas Indonesia senior saat dipimpin oleh Peter Withe di ajang Piala Tiger 2004 ketika itu usianya baru 19 tahun. Boaz kala itu jadi sosok pemain muda paling cemerlang.

Ia menjadi pencetak gol pertama Indonesia di AFF 2004. Tak hanya satu tapi dua gol dilesakkannya kala bersua Laos. Laga itu pun berkesudahan dengan skor 6-0.

Boaz juga menjadi salah satu kreator kemenangan Timnas Indonesia kala sukses revans atas Malaysia di babak semifinal Piala AFF 2004. Satu golnya sukses membawa skuat Garuda kala itu melaju ke final menantang Timnas Singapura. Laga kontra Malaysia di leg kedua itu berakhir dengan skor 4-1, Timnas Indonesia menang agregat 5-3.

Boaz sempat mengalami situasi di titik terendah saat mengalami cedera parah jelang Piala Asia 2007 silam kala beruji coba kontra Hong Kong.

Sempat menepi setengah tahun nyatanya tak menghilangkan insting mencetak golnya. Terbukti di musim 2008-2009, lalu 2010-2011 dan 2013 ia mencatatkan diri sebagai top skor di kompetisi domestik. Ia bahkan mampu menembus persaingan pencetak gol terbanyak di kompetisi liga Indonesia yang selama ini didominasi pemain asing.

Sementara itu bersama Timnas Indonesia Boaz sudah mencetak 14 gol sepanjang kariernya. Meskipun masih kalah dari Bambang Pamungkas yang mengemas 36 gol dari 77 penampilan bersama Timnas Indonesia, Boaz seringkali jadi andalan Timnas Indonesia kala mengalami kebuntuan. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top