Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Hadirnya ribuan aparat keamanan di Papua mesti benar-benar beri rasa aman

Ilustrasi aparat keamanan – Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Wakil ketua komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM DPR Papua, Tan Wie Long menyatakan keberadaan ribuan aparat keamanan yang diperbantukan ke Papua, mesti benar-benar memberi rasa aman kepada semua masyarakat Papua.

Ia mengatakan, negara menggunakan hak dan kewenangannya untuk melindungi setiap warga negara, dengan mengerahkan ribuan aparat keamanan ke Papua sejak dua bulan terakhir.

“Tapi sistem pengamanan akhirnya kebobolan juga, ada warga yang ditikam di Wamena pasca-insiden di wilayah itu, ketika perbantuan aparat keamanan telah dikerahkan ke Wamena,” kata Tan Wie Long kepada Jubi, Rabu (16/10/2019).

Menurutnya, yang mesti dipikirkan lagi adalah metode penanganan penyelesaian masalah yang terjadi di Papua belakang ini, secara terbuka dan menyeluruh, dengan melibatkan semua pihak. Tidak hanya pemerintah dan aparat keamanan, juga tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama serta pihak lainnya.

Loading...
;

“Konteks keberadaan aparat keamanan itu harus menyelesaikan masalah. Tidak bisa hanya sementara tanpa ada penyelesaian.

Memang suka tidak suka keberadaan aparat keamanan diperlukan, akan tetapi yang penting bagaimana menyelesaikan konflik tanpa mengesampingkan penegakan hukum,” ucapnya.

Kata Tan, kini secara tidak langsung terjadi saling curiga dan was-was di kalangan masyarakat Papua. Situasi ini tidak boleh dibiarkan. Mesti ada solusi konkrit dari semua pihak. Paling penting akar masalahnya harus diselesaikan. Akar masalah berbagai insiden di Papua belakang inikan, adalah ujaran rasisme di Surabaya.

“Kita minta negara melihat ini secara menyeluruh. Mesti segera diselesaikan agar tak ada lagi peristiwa yang merugikan semua pihak. Baik masyarakat asli Papua, warga nusantara dan aparat keamanan,” ujarnya.

Sementara itu,  Direktur Aliansi Demokrasi Papua (ALDP), Latifah Anum Siregar mengatakan, yang mesti dilihat kembali adalah penerapan sistem pengamanan. Bukan masalah berapa banyak aparat keamanan yang diperbantukan ke Papua.

“Intelijen mungkin yang diperkuat, bukan soal berapa banyak (aparat keamanan di Papua),” kata Anum Siregar.

Anum mencontohkan, kasus penikaman seorang warga di daerah Wouma, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya akhir pekan lalu terjadi tidak jauh dari pos keamanan.

Katanya, pasca-insiden 23 September 2019, ia ke Wamena. Di sana ia melihat sejumlah pos-pos penjagaan di wilayah itu.

“Saat saya baca kejadian penikaman itu, saya tahu persis lokasi kejadian jaraknyanya tidak sampai 100 meter dari pos (penjagaan aparat keamanan). Kenapa bisa terjadi? Jadi soal intelijen mungkin,” ujarnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top