Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Hambatan-hambatan migrasi tenaga kerja ahli dari Pasifik ke Australia

Lulusan Australia Pacific Training Coalition (APTC). – Development Policy Centre/Australian National University/DFAT/Flickr/CC BY 2.0

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Richard Curtain

Melalui Skema Tenaga Kerja Pasifik, sebuah jalur yang baru diperkenalkan bagi orang-orang dari Pasifik, agar dapat datang ke Australia dan bekerja di pekerjaan yang lebih ahli dan menerima gaji lebih tinggi, sampai tiga tahun lamanya. Tantangan terbesarnya sekarang adalah untuk menemukan pemberi kerja dengan posisi lowong di usahanya, untuk merekrut pekerja langsung dari Pasifik.

Kesulitan-kesulitan ini ditunjukkan oleh pengalaman pekerja Pasifik sehubungan dengan Perjanjian Designated Area Migration Agreement (DAMA) pertama, di Kawasan Australia Utara atau Northern Territory (NT), yang berlangsung dari Agustus 2014 hingga Desember 2018.

Sebelumnya saya pernah mengkaji peluang-peluang bagi para pekerja Pasifik dengan keahlian rendah atau semi-terampil, di bawah program DAMA. Di blog ini, saya akan mempelajari bagaimana kira-kira nasib pekerja Pasifik dalam pekerjaan dengan keahlian.

Loading...
;

Jumlah visa kerja keahlian yang diberikan selama periode DAMA pertama adalah 2.921. Lebih dari setengah (51%) dari visa yang diberikan adalah untuk pekerjaan dengan tingkat keahlian paling tinggi – tingkat 1 (profesional). Seperlima (19%) untuk pekerjaan di tingkat keahlian 2 (paraprofesional). Lebih dari seperempat (26%) untuk pekerjaan tingkat tiga (trades – pekerja yang memiliki keahlian terapan tertentu). Dan, hanya 4% diberikan kepada pekerjaan tingkat keterampilan 4 (dengan keahlian rendah atau semi-terampil, seperti yang pernah saya bahas di tulisan sebelumnya).

Jika kita fokus pada pekerjaan berbasis trades dengan tingkat keterampilan ANZSCO 3 (umumnya lulusan pendidikan vokasi), 750 visa kerja diberikan untuk periode DAMA pertama. Pekerjaan-pekerjaan ini sebenarnya dapat diisi oleh lulusan dari Pasifik, termasuk dari sekolah vokasi Australia di Pasifik, Australia Pacific Training Coalition (APTC) yang didanai oleh Australia.

APTC menawarkan kualifikasi yang relevan dengan pekerjaan berikut ini, yang sedang diperlukan di Australia: juru masak, mekanik motor, tukang kayu, tukang listrik, dan lain-lain. Namun, sangat sedikit migran terampil dari Pasifik yang mendapatkan pekerjaan di Wilayah Australia Utara selama periode DAMA.

Untuk pekerjaan berbasis trades (level keahlian 3 – paling rendah), hanya empat visa kerja di bawah program DAMA yang diberikan untuk pekerja Fiji, dan lima untuk pekerja dari Papua Nugini. Jumlah ini mewakili hanya 1% dari semua visa untuk pekerjaan berbasis trades yang diberikan kepada pekerja dari Pasifik.

Mengapa jumlah pekerja dari Pasifik sangat rendah? Salah satu faktor utama yang menentukan siapa yang direkrut adalah apakah pekerja tersebut sudah berada di Australia atau belum. Yang kedua adalah apakah pekerja tersebut berasal dari suatu negara, dengan sistem pelatihan yang dianggap baik. Ketiga, pekerja yang tidak memiliki dua faktor utama itu, mungkin dapat dibantu oleh adanya dukungan perantara, yang disediakan oleh agen migran dan komunitas diaspora.

Tiga dari lima visa kerja untuk tingkat keahlian 3 yang disetujui berasal dari pemohon yang sudah ada di Australia. Hal ini berarti, ada keuntungan besar bagi orang-orang dari negara yang sudah memiliki pengaturan untuk visa Working Holiday Maker (WHM) dengan Australia. Ini juga ditunjukkan oleh banyaknya visa ini yang diberikan ke negara-negara utama yang juga memenuhi syarat untuk visa WHM: Inggris (78%), Irlandia (91%), Republik Korea (87%) ), Italia (96%) dan Estonia (95%). Untuk negara-negara utama impor migran tingkat keahlian 3 lainnya yang tidak memiliki pengaturan visa WHM, pengajuan dari dalam negeri untuk negara-negara ini jauh lebih rendah: Filipina (31%), India (52%), Nepal (63%) dan Tiongkok, tidak termasuk Hong Kong (14%).

Pemilik usaha di Australia juga cenderung memilih pekerja, untuk pekerjaan berbasis trades yang berasal dari negara dengan sistem pelatihan dan pelatihan vokasi yang baik. Hal ini juga terlihat karena negara-negara yang mendominasi pekerjaan seperti tukang kayu, tukang listrik, tukang ledeng, dan mekanik adalah Irlandia, Inggris dan Yunani.

Dengan temuan ini, saya menyarankan tiga tanggapan. Pertama, lebih banyak lulusan Pasifik dengan kualifikasi relevan harus didorong untuk mengikuti Program Pekerja Musiman, dengan pekerjaan yang berkeahlian rendah. Hal ini akan memberikan mereka pengalaman kerja secara umum yang relevan, dan memungkinkan pemilik usaha untuk menilai mereka secara langsung di lingkungan kerja di Australia. Peluang yang serupa mungkin akan terbuka dalam waktu dekat di Selandia Baru.

Kedua, upaya untuk membantu menghubungkan pemilik usaha Australia dengan pekerja Pasifik perlu diperbanyak. Ketiga, negara asal pekerja perlu mendorong anggota komunitas diaspora mereka di Australia, untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mencari peluang kerja di Australia dan membantu pekerja untuk melamar pekerjaan.

Sekolah Australia Pacific Training Coalition (APTC) memiliki peran yang penting. Tugasnya yang paling sederhana, adalah menyediakan kualifikasi yang diakui oleh Australia dan standarnya. Tetapi ini saja tidak akan cukup untuk meningkatkan mobilitas tenaga kerja.

Kualifikasi APTC dalam pekerjaan berbasis trades yang ada dalam daftar keahlian yang diperlukan di Australia, bukan berarti otomatis mendapatkan persetujuan dari imigrasi. Pemberi pekerjaan harus terlebih dahulu menawarkan pekerjaan. Lalu untuk bisa mengambil pekerjaan itu, pelamar dengan kualifikasi Australia harus dinilai oleh badan ketiga, seperti VETASSESS, dalam program penilaian keahlian yang sudah ada untuk proses migrasi.

Manfaat utama dari kualifikasi APTC adalah untuk menunjukkan kepada calon pemberi kerja, bahwa pekerja itu telah dilatih dan dididik dengan standar Australia. Proses permohonan visa untuk pekerjaan berkeahlian di Australia itu tidak sederhana. Potensi migran dari Pasifik dan Timor-Leste menghadapi tiga hambatan: kurangnya akses atas kesempatan untuk bekerja di Australia dengan WHM, pengetahuan pemilik usaha di Australia yang terbatas tentang kualitas pelatihan dan pendidikan di Pasifik, atau akses yang terbatas ke beberapa perantara migrasi seperti komunitas diaspora dan agen migrasi. (Development Policy Centre/Australian National University)


Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top