Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Hanya ARV satu-satunya obat HIV

Dinas Kesehatan Papua menggelar acara jumpa pers terkait ARV belum lama ini – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

KETUA Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Jayapura, dr. Samuel M. Baso, menyatakan pengobatan HIV-AIDS selain menggunakan ARV disebut keliru menurut dunia kedokteran.

“Antiretrovirus adalah obat satu-satunya bisa membuat sehat, bukan sembuh, kami punya pasien yang sudah 15 tahun minum ARV, jadi itu bukti kalau ARV sangat menjanjikan,” kata Samuel Baso, di Jayapura, Selasa, 14 Mei 2019.

Ia mengatakan jika ada orang yang datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan penyakit HIV-AIDS, ada infeksi oportunistik seperti TBC, mencret, dan penyakit lainnya, itu diobati terlebih dulu baru kemudian segera diberikan ARV.

“Jadi ARV tidak ada pengganti dan satu-satunya obat yang sangat terbukti, kalau ada yang katakan suplemen atau vitamin bisa menyembuhkan ARV, saya katakan tidak,” ujarnya.

Loading...
;

Baso mengatakan bahwa pengobatan HIV masih gratis dari pemerintah. Obat tersebut tidak murah, karena jika dihitung untuk konsumsi seorang ODHA selama satu bulan biaya obatnya bisa Rp2 juta.

Menurutnya, pada 2030 Papua mestinya bisa bebas HIV-AIDS karena Papua sudah mengkover 70 persen kasus. Ia mencontohkanbila ibu hamil dengan HIV yang sudah diobati maka anaknya tidak tertular. Orang yang terifeksi HIV diobati maka tidak ada menularkan HIV, yang sehat tetap mencegah HIV.

“Saya mau katakan, kalau lebih mudah mengobati HIV-AIDS daripada sakit jantung atau sakit gula karena orang dengan HIV-AIDS bebas makan, ARV diminum sebelum tidur setiap malam hanya satu tablet, obatnya harus diminum secara terus-menerus karena kalau putus minum maka virusnya berkembang lagi,” katanya.

Di Papua, tambahnya, ada pemeriksaan HIV kalau terkena virusnya maka diberikan ARV. Satu sampai dua tahun dilakukan tes ulang tidak terdeteksi lagi karena virusnya sangat kecil. Kalau ada penderita langsung diobati sampai tuntas agar 2030 Papua bebas HIV-AIDS.

Pemerhati HIV-AIDS, Robert Sihombing, menyatakan sejak 2001 sampai sekarang sudah melakukan pendampingan kepada penderita HIV-AIDS.

Besarnya temuan kasus HIV-AIDS di Papua dan sedikit mendapatkan akses perawatan atau 34 ribu jiwa, namun yang baru mendapatkan perawatan lebih 21 ribu jiwa.

“Ini menjadi perhatian bersama antara pemerintah, layanan kesehatan, dan LSM, jika ODHA teratur menggunakan ARV maka tidak akan menularkan kepada pasangannya dan sebagainya,” ujar Sihombing.

Menurut Sihombing, isu yang berkembang telah ditemukan pergerakan ada yang mencoba meningggalkan ARV yang diganti dengan suplemen.

“ARV salah satunya obat yang bisa menangkal HIV tetapi di sisi lain juga ada simulasi yang diikuti dengan santunan dan janji melalui suplemen yang bisa menyembuhkan, itu tidak benar,” ujar Sihombing.

Ditegaskan Sihombing, satu orang dengan HIV meninggal dunia akibat minum suplemen sehingga membuat virus semakin berkembang dan terus tumbuh dalam tubuh sehingga menyebabkan ia meninggal dunia.

“Jadi, kami sepakat dengan pemerintah dan Dinas Kesehatan kalau ARV adalah satu-satunya obat yang digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV,” katanya.

Sihombing berharap pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan memberikan penguatan kepada masyarakat, baik yang sudah terinfeksi amaupun yag belum agar melakukan pencegahan dan rajin minum obat ARV.

“Konselor ada di layanan-layanan kesehatan, tanpa konseling yang baik maka bias informasi yang diturunkan sejak dulu akan terus teringat kalau HIV tidak ada obatnya dan mematikan, stigma ini harus dihapus melalui konseling yang baik sehingga 2030 tidak ada lagi HIV dan tidak ada lagi diskriminasi,” ujarnya.

Diakui Sihombing, sudah ada 15 orang dengan HIV-AIDS menggunakan suplemen stemcell, dan satu orang meninggal dunia dan itu dominan ada di Kabupaten Jayapura.

“Kami berharap kepada pemerintah, BPOM, IDI, Dinas Kesehatan dengan melakukan invenstigasi karena pelakunya dari tenaga kesehatan, tapi kalau itu dimintakan menjadi sebuah laporan kami akan memberikan laporan itu kepada IDI tentunya,” katanya.

Anggota KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Papua, Anton Mote, menyatakan secara lembaga dan legal dari KPA tidak pernah ada kesepakatan tertulis kalau suplemen mau menggantikan ARV.

“Dengan penyataan tegas kami sampaikan KPA tidak pernah menyetujui bahkan men-support suplemen-suplemen itu menjadi salah satu pilihan obat sebagai pengganti ARV,” kata Mote. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top