Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Harga garam tradisional di Palu naik

Petani garam, pixabay.com

“Kenaikan harga itu karena produksi petani menurun sebagai dampak dari bencana alam gempa dan tsunami”

Papua No. 1 News Portal I Jubi, 

Palu, Jubi – Harga garam tradisional di tingkat petani di Palu, Sulawesi Tengah, mulai naik menyusul stok kurang dan permintaan meningkat. Pantauan di sejumlah tempat penjualan garam di Palu, pada Rabu, (27/2/2019) menunjukan harga garam di tingkat produsen sebelumnya rata-rata Rp 8 ribu per kilo gram dan naik menjadi Rp 10 ribu.

“Kenaikan harga itu karena produksi petani menurun sebagai dampak dari bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi pada September lalu,” kata Nining, seorang petani garam di kelurahan Pantai Talise, Kecamatan Palu Timur.

Nining menyebutkan bencana tsunami membuat petani garam mengalami kerugian karena produksi lokasi yang selama ini menjadi lahan penggaraman tradisional, serta rumah dan harta benda mereka rata-rata lenyap diterjang tsunami.

Loading...
;

Berita terkait : Petani Cirebon was-was masuknya garam impor

“Lahan penggaraman banyak yang rusak dan ditumpuki berbagai puing-puing bangunan sehingga perlu membersihkannya,” kata Nining menambahkan.

Selain itu para petani garam mulai kekurangan modal untuk mengolah kembali lahan penggaraman mereka, minimnya modal itu  banyak petani yang belum beraktivitas kembali.

Nining berharap mendapat bantuan modal dari pemerintah atau lembaga perbankan setempat agar bisa kembali mengolah lahan penggaraman yang sudah hampir lima bulan terakhir ini tidak digarap.

Baca juga : Kebutuhan garam impor di Aceh turun

Kepala Bidang Pedagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, Zainuddin Hak, membenarkan harga garam tradisional di tingkat petani naik.

“Kurangnya stok garam di tingkat petani dikarenakan masih sebagian besar petani hingga kini belum juga memproduksi garam karena kesulitan modal,” kata Zainudin.

Masalah yang dihadapi petani garam bukan hanya lahan mereka yang hancur diterjang gempa dan tsunami, tetapi juga rumah dan semua harta benda mereka ikut diterjang bencana alam tersebut.

Menurut dia, para petani garam harus berjuang dari awal untuk kembali memproduksi garam tradisional. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top