Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Hindari apropriasi budaya, tari api Baining dibatasi di PNG

Tari api Baining di Tolai Mask Festival Juli tahun ini. – Post Courier

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kerevat, Jubi – Tari api Baining versi PNG tidak akan lagi ditampilkan di mana pun di daerah kota atau di hotel-hotel.

Ini adalah pesan dari ketua kelompok Uramat Incorporated Land Group (ILG), Hosea Kaelam, di Provinsi East New Britain.

Pada awalnya, sebelum tari ini muncul di hadapan publik dan dianggap sebagai budaya baru dari Provinsi East New Britain, tarian api Baining hanya dilakukan beberapa hari, biasanya selama pertemuan-pertemuan penting seperti pesta tradisional atau upacara tradisional.

Kaelam menerangkan bahwa dalam pertemuan yang diadakan pada 2 September 2019, dihadiri oleh pemimpin-pemimpin Baining di bawah tema ‘Kisim Bek Indigenous Identity’, mereka sepakat bahwa semua kegiatan budaya akan diadakan di tingkat desa-desa, untuk mempertahankan nilai dan kerahasiaan ritual Baining dan praktik budayanya.

Loading...
;

Selain itu, pengubahan itu diharapkan akan mendorong pembangunan hingga ke masyarakat pedesaan, serta memberdayakan rasa kepemilikan dan kekayaan identitas budaya pribumi, dalam mempromosikan Provinsi East New Britain dan PNG sebagai destinasi festival budaya.

Kaelam berkata para pemimpin telah meminta bantuan dari otoritas pariwisata Provinsi East New Britain, untuk menginformasikan dan memberikan arahan kepada semua sektor kementerian yang tepat dan hotel-hotel, bahwa tidak boleh lagi ada lagi tarian api Baining, dan kegiatan budaya Baining hanya dilaksanakan di desa-desa dan bukan dalam kota.

Kaelam juga berkata bahwa pemimpin suku Baining telah diberikan wewenang, untuk memberikan izin pertunjukan tarian api untuk setiap kesempatan. Persetujuan untuk melakukan tarian api Baining harus didapatkan terlebih dahulu dari pemimpin suku itu, sebelum dipentaskan.

Pemberitahuan ini, menurut Kaelam, diumumkan sebagai tanggapan atas keluhan apropriasi budaya dan cultural theft oleh orang-orang asing yang telah menimbulkan kekhawatiran di antara kepala-kepala suku, tetua desa, dan perempuan dari Uramat, serta mendorong upaya untuk melindungi dan melestarikan nilai-nilai dan praktik budaya, untuk kepentingan generasi mendatang dan tidak membiarkan hilangnya budaya melalui manipulasi oleh budaya Barat. (Post Courier)


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top