Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ibu rumah tangga di Bintuni kirim karangan bunga duka cita ke PLN

Karangan bunga simbol kekecewaan warga Bintuni yang diletakkan oleh puluhan ibu rumah tangga di depan kantor PLN cabang Bintuni. (Jubi/IST).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bintuni, Jubi – Puluhan ibu rumah tangga (IRT) di Bintuni, Sabtu kemarin menyambangi kantor cabang PLN Bintuni. Kedatangan mereka untuk mempertanyakan kinerja PLN karena setelah sekian lama mekar dari Manokwari, listrik di Bintuni belum normal atau sering byarpet.

Mereka pun meletakkan karangan bunga, di depan kantor PLN cabang Bintuni. Karangan bunga tersebut bertuliskan ‘Turut berdukacita Ibu-ibu rumah tangga atas wafatnya listrik kabupaten Teluk Bintuni’.

“Lisrik di Bintuni lebih banyak matinya, daripada hidup. Jadi kami para IRT juga turut berduka,” ucap Yohana, salah satu peserta aksi tersebut.

Kata Yohana, IRT ingin meminta kejelasan pihak PLN yang berjanji bahwa listrik akan normal di pertengahan bulan Juni tapi janji itu tidak ditepati.

Loading...
;

“Banyak perabot elektronik kami yang rusak, karena pemadaman listrik tiba-tiba. Karangan bunga ini pun inisiatif kami sendiri agar Pemda Bintuni juga bisa lihat dan ambil langkah,” tuturnya.

Senada dengan itu, Mama Dorce Kambunandiwan mengatakan di rumahnya ia lebih memilih menggunakan kompor minyak dan kayu bakar untuk memasak. Bukan karena tidak punya perabot rumah tangga elektronik, tapi dengan kondisi listrik yang tidak normal dia khawatir akan rusak.

Dikatakan mama Dorce, janji PLN untuk menormalkan listrik pada Juni ini sudah dinantikan sejak Januari hingga Maret. Tapi tiga bulan terakhir pemadaman bergilir makin parah, karena tak menentu diberlakukan malah mati lebih lama dibanding menyala.

“Saya tidak tahu, apa alasannya ada lagi pemadaman bergilir, tapi bisa setengah hari (12 jam) mati lampu. Bagi orang yang punya uang bisa beli mesin generator, tapi saya pakai lampur carger atau pelita saja,” tutur mama Dorce yang kesehariannya sebagai penjual pinang.

Pemerintah Teluk Bintuni bahkan habis banyak untuk menopang PLN agar bisa menormalkan listrik. Tetapi PLN sendiri masih belum maksimal kinerjanya.

Apa gunanya PLN di Bintuni?

Dalam wawancara terpisah, Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw sempat kesal dengan kinerja PLN Bintuni. Kekesalah sang Bupati ini cukup beralasan. Karena selain adanya suplai power (daya) dari LNG-Tangguh, Pemda Bintuni sendiri sudah sepenuhnya  beri dukungan dan kepercayaan kepada PLN.

“Persoalan listrik itu kewenangan PLN, dan kita semua pengguna (pelanggan) yang rutin membayar. Seharusnya, itu tugas utama PLN menyiapkan listrik, dan Pemda hanya berikan dukungan,” ujarnya.
Dijelaskan Petrus, kondisi saat ini bahwa Bintuni punya akses power dari Tangguh-LNG sebesar 4 MW, tapi jaringannya panjang, sehingga ada kehilangan (terjadi induksi) sehingga suplai power yang sampai ke Bintuni hanya sebesar 2,8 MW.

Apalagi usia jaringan tersebut sudah hampir 10 tahun dan ada kerusakan-kerusakan sehingga itu menjadi kendala utama terganggunya pasokan listrik dari LNG-Tangguh ke Bintuni.

Sementara PLN harus menyiapkan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Disel) sebagai bantuan, jika suplai dari LNG-Tangguh macet, PLTD harus siap. Dan peran Pemda Bintuni sudah maksimal, karena Pemda sudah melakukan serah-terima operasi lima generator kepada PLN.

“Jadi Pemda sudah serahkan lima generator. Bukan saja itu, kita juga serahkan tanah dan jaringan karena Pemda juga pernah bangun jaringan, tapi itulah, saya tidak tahu apa masalahnya,” katanya.

Bahkan lanjut Petrus, karena desakan masyarakat, maka lewat kebijakannya, Pemda  sudah hibahkan tiga hektar lahan secara gratis kepada PLN, hingga proses penimbunan lahan tersebut juga oleh Pemda melalui APBD, lalu PLN tinggal membangun dengan menyiapkan lima generator yang sedang dalam perjalanan.

Petrus membenarkan, bahwa PLN mengaku kepada Pemda dan rakyat Bintuni, bahwa listrik akan normal pertengahan bulan Juni 2019.

“Itu pengakuan PLN kepada saya dan kepada rakyat Bintuni. Bahwa bulan Juni, listrik normal. Artinya, PLN sudah siap,” ujarnya.

Tetapi ke depan, lanjut Petrus pihaknya sedang berupaya, jika PLN tidak mampu maka mereka sudah siap seperti Sorong, dengan membangun PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas).

“Karena kita punya suplai gas dari LNG, tapi kami masih beri kepercayaan kepada PLN. Tapi kalau semua harus ditangani oleh Pemerintah, maka untuk apa keberadaan PLN di Bintuni?” katanya.

Diapun jujur, bahwa Pemda tidak bisa membangun di bidang lainnya jika terus mengurus PLN.

“Dampaknya, Pemda tidak bisa melihat pembangunan bidang lain, tapi demi rakyat Bintuni, saya sudah katakan kepada PLN kalau tidak sanggup silakan jujur kepada Pemda, karena ada hal-hal yang menurut saya tidak masuk akal,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top