Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

ILO sebut kekerasan dan pelecehan dunia kerja bukan perilaku tunggal

Ilustrasi, pixabay.com

Namun serangkaian yang terjadi berulang kali hingga menimbulkan cidera atau dampak buruk bagi keadaan fisik maupun psikologis pekerja.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mendefinisikan kekerasan dan pelecehan yang terjadi di dunia kerja bukanlah suatu perilaku tunggal. Namun serangkaian yang terjadi berulang kali hingga menimbulkan cidera atau dampak buruk bagi keadaan fisik maupun psikologis pekerja.

“Kekerasan dan pelecehan yang terjadi di dunia kerja itu tidak terjadi hanya satu kali melainkan berulang kali kepada korban yang sama,” ujar penasihat senior ILO Tim De Meyer dalam diskusi interaktif ILO tentang kekerasan dan pelecehan di dunia kerja di Jakarta, Kamis, (10/10/2019).

Baca juga : Kekerasan dan pendidikan dasar bagi anak perempuan di PNG

Loading...
;

PM Ardern nyatakan permohonan maaf penanganan kekerasan seksual

KDRT dan kekerasan terhadap anak di Pasifik

Definisi mengenai kekerasan dan pelecehan di dunia kerja itu tercantum dalam Konvensi ILO No.190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja.

De Meyer menjelaskan konvensi tersebut mengambil pendekatan pragmatis, yaitu mendefinisikan kekerasan dan pelecehan sebagai serangkaian perilaku atau praktik yang tidak dapat diterima yang mengakibatkan cidera secara fisik, psikologis, seksual dan ekonomi.

“Di perangkat hukum ini tidak membedakan definisi kekerasan dan pelecehan. Definisi kekerasan dan pelecehan mencakup penyiksaan secara fisik, lisan, perundungan, pengeroyokan, pelecehan seksual, ancaman, dan penguntitan,” ujar De Meyer menambahkan.

Konvensi itu juga mempertimbangkan kondisi dan cara kerja di dunia modern saat ini, dalam kegiatan kerja seringkali dilakukan tidak di tempat kerja fisik, seperti kantor.

Konvensi ILO No.190 itu juga mencakup komunikasi yang berhubungan dengan kerja, termasuk yang mungkin terjadi melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Menurut De Meyer, konvensi itu memberikan kerangka aksi yang jelas untuk upaya membentuk masa depan dunia kerja yang bermartabat.

“Konvensi ini juga memberikan peluang untuk membentuk masa depan dunia kerja yang bebas dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top