Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Info KLB kematian anak di Distrik Kembu Tolikara, hoaks

Ibu menyusui dan ibu hamil program 1000 hari pertama kehidupan HPK sedang menerima asupan makanan bergizi di Kembu, Tolikara, Papua – Jubi/Diskominfo Tolikara

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Karubaga, Jubi – Bupati Tolikara, Usman G. Wanimbo, membentuk tim yang dipimpin Asisten I Sekda Tolikara, Panus Kogoya, dan menugaskan tim tersebut turun langsung ke Distrik Kembu mencari fakta terkait informasi yang berkembang di media sosial bahwa ada Kejadian Luar Biasa (KLB) kematian anak berturut-turut di distrik tersebut.

Anggota tim terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan Tolikara, Elsen Genongga, yang diwakili Sekretaris Yusak Totok Krido, dan Sekretaris Satpol PP Tolikara, Wemban Kogoya.

Tim ini menemui para dokter dan tenaga kesehatan di Puskesman Kembu. Selain itu, tim juga menemui para Pendeta Jemaat GIDI di wilayah Kembu guna mengecek langsung kebenaran informasi KLB tersebut, Senin (28/10/2019). Temuan di lapangan, informasi itu tidak jelas sumbernya.

Informasi terjadi KLB kematian anak di Distrik Kembu beredar di media sosial Facebook yang diunggah akun pribadi seorang intelektual anak Tolikara berinisial WW.

Dengar pendapat antara petugas kesehatan dengan warga Kembu saat kunjungan Tim Pemkab  Tolikara di Kembu, Senin (28/10/2019) – Jubi/Diskominfo Tolikara

“Hari Sabtu yang lalu saya melihat di Facebook di salah satu akun milik seorang intelektual asal Distrik Kembu berinisial WW, menyatakan kejadian luar biasa dimana ada anak-anak meninggal, sehingga saya memerintahkan Asisten I untuk turun mengecek langsung di lapangan karena berita KLB adalah masalah sensitif di bidang kesehatan,” jelas Bupati  Tolikara, Usman G. Wanimbo, dikediamannya usai menerima laporan tim yang turun mengecek kebenaran info KLB kematian anak di Distrik Kembu, Selasa (29/10/2019).

Menurut Bupati Wanimbo, istilah KLB sering digunakan Indonesia sebagai akibat timbulnya atau meningkatnya peristiwa kematian manusia berturut-turut dalam kurun waktu tertentu. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada dan meningkatnya kematian manusia terus-menerus dengan jumlah penderita baru meningkat dibanding dengan jumlah rata-rata perbulan sebelumnya.

Loading...
;

“Kami menyambut baik adanya informasi dan kritikan dari kaum intelektual Tolikara melalui berbangai media. Namun informasi atau kritik dan saran yang disampaikan harus proporsional dan seimbang. Apabila menyampaikan informasi kejadian luar biasa diistilahkan KLB ini sepatutnya dengan data yang akurat, misalnya penyakit apa, jam, hari, bulan, dan tahun tentu bekerjasama dengan dokter atau paramedis yang bertugas di daerah, sehingga sebuah informasi itu bisa dipertanggungjawabkan,” kata Bupati Wanimbo.

“Tim kami yang turun di Kembu telah mempertemukan penyebar informasi melalui  akun pribadinya di FaceBook berinisial WW dengan para dokter dan tenaga medis bahkan para pendeta gereja wilayah Kembu. Namun para dokter tidak pernah koordinasi dengan WW sehingga informasi yang disampaikan itu tidak benar,” sambungnya.

Bupati Wanimbo berkomitmen akan menerjunkan tim lebih besar lengkap dengan tenaga medis tambahan dari Karubaga untuk menyisir rumah-rumah warga Kembu, guna memastikan apakah ada masyarakat Kembu menderita sakit atau tidak.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kembu, dr Richard Beteng, mengatakan berdasar data pasien dalam empat bulan terakhir, tidak ada peningkatan jumlah pasin di Puskesmas Kembu. Pasien berobat rata-rata sakit batuk berdahak terdapat biji-biji di tenggorokan.

Kondisi ini dialami masyarakat Kembu karena perubahan cuaca. Selain itu kebiasaan masyarakat hidup di honai membuat tungku api di tengah honai tanpa ventilasi atau jendela rumah untuk asap. Kondisi ini membuat masyarakat di pegunungan lebih akrap dengan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

“Kami dengar kabar satu pasien anak meninggal di rumah keluarga, pasien ini diantar orangtua setelah kondisi kesehatan memburuk. Pertolongan intensif kami sudah lakukan namun tidak tertolong sehingga pasien anak kecil ini meninggal,” jelas dr Richard Beteng.

Dikatakannya, sebenarnya tidak ada bayi yang meninggal secara berturut-turut. Apabila ada tentu para pendeta dari gereja melaporkan kepada kepala distrik untuk diteruskan kepada petugas kesehatan di puskesmas, dan kepada bupati melalui bawahannya. Namun hingga kini kondisi kesehatan masyarakat Kembu pada umumnya masih baik sesuai data pengobatan di Puskesmas Kembu.

”Kami minta kerjasama dari aparat kampung dan juga masyarakat di Distrik Kembu jika ada kedapatan pasien yang sakit segeralah dibawa ke puskesmas agar mendapat perawatan intensif dari puskesmas,” imbaunya.

Tim Pemkab Tolikara foto bersama petugas kesehatan di Puskesmas Kembu dan tokoh gereja setempat – Jubi/Diskominfo Tolikara

Tokoh agama GIDI wilayah Kembu, Pendeta Nayus Wenda, mengapresiasi petugas medis yang setia melayani masyarakat di Puskesmas Kembu selama waktu 24 jam. Walaupun beberapa pekan lalu terjadi amuk massa di Wamena kota dan beberapa kota besar lainnya di Papua, yang membuat warga pendatang mengungsi ke luar dari pengunungan, namun para tenaga medis dan para guru sekolah yang bertugas di Kembu tidak ada yang mengungsi.

“Karena itu kami warga Kembu salut para petugas yang datang melayani masyarakat di Kembu dengan hati. Beberapa hari lalu memang ada salah satu pasien anak kecil sempat dirawat di rumah sakit tetapi tidak tertolong karena saat berobat kondisi kesehatan sudah memburuk akibat kelalaian orangtua lambat antar ke puskesmas,” kata Pendeta Nayus Wenda.

Dikatakan beberapa bulan lalu sejak bulan Juni hingga Oktober, orang sakit batuk meningkat dan beberapa bulan terakhir ini ada anak-anak kecil meninggal tetapi waktunya tidak berturut-turut.

“Ada kejadian bayi meninggal berselang satu hari. Situasi ini membuat kami sempat panik namun hingga kini kondisi kesehatan masyarakat Kembu pada umumnya sehat. Puji Tuhan kami patut bersyukur masih sehat,” imbuhnya.

Penyebar informasi hoaks melalui media sosial berinisial WW ketika dikonfirmasi saat tim meninjau layanan kesehatan di Puskesmas Kembu, mengakui ia menyebarkan informasi itu karena kesal dengan kondisi kesehatan masyarakat yang rata-rata sakit batuk. Mereka berobat di Puskemas Kembu, dilakukan pemeriksaan dan pengobatan namun hasil pengobatan tidak pernah ada perubahan dan tidak sembuh dengan cepat.

“Saya melihat masyarakat mayoritas menderita sakit batuk. Mereka berobat pun tak kunjung sembuh. Apaka dokter salah kasih obat atau kenapa, mesti cari tahu,” kata WW. (Diskominfo Tolikara)

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top