HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ini harapan terakhir mantan Presiden Nauru

Mantan Presiden Nauru, Sprent Dabwido, sekarang sedang menanti permohonan suakanya ke Australia. – PINA/SBS News

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Mantan Presiden Nauru – pemimpin yang membuka kembali pusat penahanan imigrasi Australia di negara kepulauan Pasifik itu – meminta agar pusat detensi untuk memproses pencari suaka dan pengungsi di lepas pantai Australia diakhiri, sambil menanti hasil dari permohonan suakanya sendiri di Australia.

Pada 2012, Sprent Dabwido membuat kesepakatan dengan perdana menteri Australia saat itu, Julia Gillard, agar negara kepulauannya yang miskin sekali lagi dibuka untuk pemrosesan pencari suaka dan pengungsi lepas pantai.

Saat itu ia berkata kepada media, bahwa Nauru bangga dapat membantu Australia pada saat mereka diperlukan.

“Perdana menteri Gillard telah meyakinkan kami bahwa mereka (para pencari suaka dan pengungsi) tidak akan berada di sana untuk selamanya, jika semua pemrosesan dapat dilakukan secepat mungkin, itulah yang kita semua inginkan,” katanya.

Loading...
;

Ini adalah kesepakatan yang sekarang dia sesali.

Pengaturan awal telah berubah

“Pengaturan yang saya mulai, saya pikir saya membantu, namun hal itu berubah. Hal Itu berubah dari uluran tangan menjadi kepalan tangan, dan itu adalah penyesalan besar saya, “ kisahnya kepada SBS News pekan lalu.

Dabwido menerangkan bahwa perjanjian awal itu tampaknya merupakan ‘pengaturan yang baik’ untuk mencegah ‘queue jumpers’ (istilah untuk pencari suaka yang tiba di Australia tanpa visa yang valid).

“Menurut saya, itu adalah kebijakan yang bagus karena pada akhirnya, mereka akan diizinkan masuk ke Australia,” katanya.

“Tapi, sejak saat itu, pengaturan ini telah berubah dan sekarang (Australia) berkata mereka tidak akan pernah bisa masuk ke sini. Keputusan yang diambil oleh pemerintah Australia ini, bukan pengaturan yang saya setujui dan tandatangani.”

Dabwido sekarang merupakan pendukung RUU Medevac yang baru – yang akan memungkinkan sejumlah pencari suaka dan pengungsi yang sakit, untuk dpindahkan dari pulau itu demi mendapatkan perawatan medis.

“Saya menyesalkan setiap kematian pencari suaka dan pengungsi di pulau saya,” sesalnya.

“Sudah tiba saatnya untuk mengakhiri pemrosesan di pusat detensi di Nauru… hal ini menyakiti Nauru, sama seperti ia menyakiti Australia, ini telah menghancurkan pulau saya.”

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, telah mengingatkan bahwa perubahan sekecil apa pun atas kebijakan penahanan lepas pantai, akan memicu naiknya penyelundupan manusia.

Melarikan diri ke Australia setelah ‘Nauru 19’

Dabwido sekarang sekarat. Ia menerima diagnosis kanker tenggorokan tahun lalu, setelah sebuah tumor ditemukan di lehernya. Sejak itu, penyakit ini telah menyebar ke bagian tubuh lainnya dan diagnosis adalah penyakit ini terminal.

Dia melarikan diri dari Nauru tahun lalu untuk pergi ke Australia dan menerima perawatan medis. Ia lalu mengajukan permohonan suaka.

Pria berusia 47 tahun itu mengatakan ia menyadari ironi itu.

“Saya tidak pernah menduga saya akan menjadi salah satu dari mereka yang mengantre untuk menjadi pencari suaka, terutama karena saya yang memungkinkan Australia untuk menggunakan Nauru,” katanya.

Perawatan kesehatan yang ia perlukan tidak tersedia di Nauru.

Dia berbicara kepada SBS News dari sebuah rumah yang disewa oleh keluarganya, dekat rumah sakit di Sydney, di mana ia menerima Radioterapi. Terapi ini dibiayai oleh Medicare (asuransi kesehatan dari pemerintah Australia).

“Apa pendapat warga Australia tentang saya? Saya menempatkan orang-orang ini di pulau saya, tetapi saya sendiri datang ke sini.”

Permohonan suaka Dabwido didasarkan pada klaim bahwa pemerintah Nauru saat ini menganggapnya sebagai ‘musuh negara’ dan mengancam akan memenjarakannya.

Setelah 18 bulan menjabat, ia berseteru dengan presiden Nauru saat ini, Baron Waqa.

Setelah turun jabatan pada 2013 dan menjabat sebagai MP oposisi, Dabwido menuduh pemerintah Waqa melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pemerintah Nauru telah menuduhnya dan MP oposisi lainnya telah menyebarkan berita yang tidak benar tentang negara.

Pada 2015, ia dan MP lainnya digugat menyusul kerusuhan akibat protes anti-pemerintah di luar gedung parlemen, dan ia terpaksa harus melawan tuntutan pengadilan, dikenal sebagai ‘Nauru 19’, untuk membersihkan namanya.

Tahun lalu, putusan pengadilan membebaskannya dari gugatan tersebut.

Dabwido telah mempertanyakan mengapa Australia tetap bergeming atas kasus ini, sementara Selandia Baru memotong bantuannya kepada Nauru sebagai tanggapan mereka.

Setelah gugatan itu, paspor Dabwido disita, dan ia perlu mengajukan perintah pengadilan agar paspornya dikembalikan dan ia bisa pergi ke Australia untuk berobat.

Sebelum ajal menjemput

Selain menyampaikan harapannya tentang masa depan prosedur pemrosesan pencari suaka dan pengungsi Australia, Dabwido juga punya keinginan pribadi yang terakhir yang ingin ia penuhi; melamar kekasihnya selama delapan tahun terakhir, Luci.

Dia berencana untuk melakukan hal ini di Paris, di puncak Menara Eiffel, namun akibat semua musibah yang menimpanya, ia tidak dapat melakukan itu .

“Sayangnya, dokter memberitahukan kepada saya bahwa waktu hidup saya tinggal beberapa hari atau minggu… Jadi saya melamarnya di kantin di rumah sakit (setelah menerima diagnosa) dan dia masih berkata ‘ya’.”

Sekitar 30 orang – hampir seluruh anggota komunitas Nauru di Sydney – berkumpul untuk menghadiri pernikahannya di Nurses War Memorial Chapel di Little Bay pekan lalu, mengarah ke Samudra Pasifik.

Air mata mengalir di wajah Dabwido saat dia berbicara tentang rumah (Nauru) yang tidak akan pernah ia lihat lagi, tetapi untuk saat ini, dia fokus pada kehidupan pernikahannya.

Masa depan Luci sendiri sekarang tergantung pada pengajuan suaka Dabwido.

“Saya berharap klaim saya disetujui, tetapi waktunya sangat ketat. Dokter hanya memberi saya beberapa hari, mungkin beberapa minggu paling lama, tetapi permohonan itu masih akan memakan waktu berminggu-minggu, dan hanya bisa disetujui jika saya masih bernafas,” tuturnya khawatir. (PINA/SBS News/PACNEWS)


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top