Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ini kondisi pencari suaka di Kebon Sirih

Ilustrasi deportasi, pixabay.com

Diwajibkan menggulung tenda setiap pukul 6 pagi yang mereka tempati di Kebon Sirih.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Pencari suaka di trotoar Kebon Sirih menceritakan kesulitan mereka setelah terusir dari tempat penampungan di gedung eks kodim Kalideres. Saat ini mereka diwajibkan menggulung tenda setiap pukul 6 pagi yang mereka tempati di Kebon Sirih.

“Kami waktu awal kembali ke Kebon Sirih ini, diusir oleh petugas. Tapi lambat laun mereka memperbolehkan karena semakin banyak,” kata Syukria, pencari suaka yang kembali menempati trotoar Kebon Sirih, Selasa, (17/9/2019).

Berita terkait : Anak-anak pencari suaka dihibur dengan buku

Loading...
;

Syukria mengatakan selain jumlah pencari suaka yang terus bertambah, mereka diizinkan menempati trotoar asalkan tidak menggelar tenda sepanjang hari.

“Jadi kami setiap pukul 06.00 WIB pagi harus menggulung tenda, baru ketika malam pukul 19.00 WIB boleh mendirikan tenda untuk tidur,” kata Syukria menjelaskan.

Syukria dan pencari suaka lain juga tidak bisa makan dan mendapatkan akses untuk air bersih dengan mudah. Ia mengaku dapat air hangat dari warga sekitar yang berbaik hati, bahkan makan para pencari suaka  juga seada-adanya mengandalkan pemberian orang lewat.

Berdasarkan pantauan Antara pada pukul 15.00 WIB para pencari suaka yang berusia dewasa terlihat mengobrol di atas tikar yang digelar di trotoar dekat Gedung Ravindo yang merupakan Kantor pusat Badan Perserikatan Bangsa- Bangsa Untuk Urusan Pengungsi (UNHCR).

Selain orang dewasa, terdapat juga anak- anak yang masih berusia di bawah 5 tahun. Jumlahnya hampir sebanyak 7 orang.

Pencari suaka lainnya, Ali, yang sudah menunggu kepastian dari UNHCR selama 7 tahun di Indonesia mengaku tidak akan berpindah lokasi sampai UNHCR memberikan kepastian bagi para pencari suaka yang terusir dari Kalideres sejak 5 September 2019.

“Intinya kami akan tetap disini, sampai ada tempat tinggal yang layak dan kejelasan dari UNHCR,” kata Ali.

Sebelumnya, para pencari suaka yang berasal dari Kalideres kembali menempati jalur pejalan kaki di depan bank Gamon setelah bagian depan Gedung Ravindo dipasangi kawat berduri sejak Jumat sore (13/9/2019).

Mereka tidak bisa kembali ke gedung eks Kodim Kalideres karena telah menandatangani perjanjian dengan UNHCR dan menerima dana mulai Rp 1 juta untuk satu orang, Rp 1,3 juta untuk tiga orang, serta Rp 1,6 juta untuk lima orang. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top