Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ini pengakuan peserta yang dipaksa ikut pertemuan 61 “tokoh Papua” dengan Jokowi

Presiden Jokowi temui 61 warga Papua di Istana Negara, Selasa, 10 September 2019, [Jubi/Setpres]

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – 61 yang orang mengaku diri sebagai ‘tokoh’ dari Papua bertemu dengan Presiden Joko Widodo [Jokowi} pada Selasa [10/9/2019] di Istana Kepresidenan Jakarta, justru di antaranya terdiri dari 20 orang mahasiswa asli Papua di luar Papua.

Hal itu diungkapkan Leonardus O. Magai utusan Jawa Barat. Ia mengatakan, dirinya bersama rekan-rekannya ikut pertemuan yang difasilitasi Staf Presiden Moeldoko dan Budi Gunawan jutru dipaksa dan dijebak oleh Badan Intelijen Negara [BIN].

“Saya mau tegaskan bahwa saya dengan beberapa mahasiswa Papua ikut temui Jokowi itu bukan murni kesediaan kami. Saya pernah tanya utusan mahasiswa lain yang ikut termasuk Daniel Gerdy Adii dari Jawa Timur bahwa kami disuruh ikut dengan cara yang berbeda. Saya dipaksa saat ikut kegiatan seleksi trainer BNSP [Badan Nasional Standar Pendidikan] di Jakarta.

Mereka yang lain juga sama, ada yang dipaksa, ada yang ditipu dan ada juga yang dijebak,” ujar Leonardus O. Magai kepada Jubi lewat sambungan telepon selulernya, Senin, (16/9/2019).

Ia ungkapkan rahasia itu, pasca daftar nama utusan dari Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta dan Banten di sosial media pada Minggu, (15/9/2019) malam.

Loading...
;

Ia mengatakan, dirinya dijemput oleh pihak yang diduga intelijen. Penjemput itu, awalnya mengaku mereka adalah wartawan sambil bertanya-tanya tentang kondisi Papua terkini. Hanya beberapa menit kemudian mobil Avanza tiba. “Dan saya disuruh naik di mobil, lalu mereka bawa saya ke tempat pertemuan itu,” ucapnya.

“Semua itu mereka lakukan untuk memenuhi kuota dan suara mahasiswa Papua karena terbukti saat penyampaian aspirasi pun kami dibatasi untuk berbicara. Yang lebih banyak bicara itu dari kelompok orangtua,” katanya.

Selama pertemuan berlangsung,  dijaga ketat oleh pihak aparat keamanan bahkan telepon genggam juga diambil hingga akhir pertemuan barulah dikembalikan, sehingga tak ada peserta yang bisa mengabadikan momen itu.

“Yang saya rasa aneh adalah pembahasannya terlalu jauh dari harapan dan keinginan orang asli Papua (OAP). Mungkin juga karena dalam pertemuan itu ada pengamanan ketat dari pihak keamanan jadi kelihatannya mereka takut menyampaikan yang sebenarnya,”ujar dia.

Berkaitan dengan kondisi terkini di Papua, kata dia, telah disampaikan oleh beberapa orang Papua salah satunya, Pdt. Wabiser yang berbicara terkait penyelesaian dan penuntasan kebenaran sejarah Papua, marginalisasi dan kekerasan terhadap OAP.

“Usulan (aspirasi) itu tidak diakomodir oleh panitia sebagai aspirasi OAP tetapi mereka lebih banyak akomodir terkait pemekaran provinsi di Papua. Salah satunya Tabi, evaluasi Otsus, penempatan pegawai, pembangunan infrastruktur, pembangunan asrama  nusantara, serta istana presiden di Papua. Jadi saya mau bilang bahwa semua itu settingan panitia melalui buah pikir para orangtua tadi, bukan buah pikir mahasiswa,” ujar Magai.

“Maka, saya melihat bahwa pertemuan bersama Jokowi itu kayaknya dibuat oleh BIN dan Barisan Merah Putih [BMP],” katanya.

Salah satu pemuda Papua asal Meepago, Doni Donatus Gobai yang namanya masuk dalam daftar peserta mengaku, ia tidak ikut pertemuan itu walaupun dihubungi berkali-kali oleh kelompok yang berangkat dari Papua.

“Saya kemarin full di Merauke, karena ada kegiatan konferensi studi regional PMKRI Papua dan Papua Barat. Saya awalnya ditawari untuk ikut tapi menolak tawaran itu,” ujar Doni. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top