Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ini pesan Kaisar Akihito menjelang turun tahta

Ilustrasi Candi Matsumoto Jepang

Pesan tersebut dinyatakannya pada Minggu, (24/2/2019), dalam peringatan 30 tahun ia bertugas sebagai sebagai kaisar.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tokyo, Jubi – Kaisar Jepang Akihito, yang akan melepaskan takhtanya pada akhir April meminta negaranya bersikap terbuka dan membina hubungan yang tulus dengan dunia. Pesan tersebut dinyatakannya pada Minggu, (24/2/2019), dalam peringatan 30 tahun ia bertugas sebagai sebagai kaisar.

Akihito, berusia 80 tahun, menjadi simbol perdamaian dan pemulihan hubungan setelah ayahnya Hirohito meninggal. Ia juga menekankan harapannya agar rakyat Jepang hidup dalam kedamaian.

“Menurut saya, negara pulau kita ini… sedang diminta untuk lebih membuka diri kepada dunia luar di tengah globalisasi, untuk membentuk posisinya sendiri dengan kearifan serta membangun hubungan dengan negara-negara lain secara tulus,” kata Akihito.

Loading...
;

Baca juga : Putri Jepang Ayako menikah dengan rakyat biasa

Akihito akan mundur sebagai kaisar pada 30 April dan akan digantikan keesokan harinya oleh Putra Mahkota Naruhito, yang berusia 59 tahun. Upacara pada Minggu itu dihadiri oleh Permaisuri Michiko, Perdana Menteri Shinzo Abe serta tamu-tamu agung lainnya.

Hubungan Jepang dengan negara-negara tetangganya, di antaranya China, Korea Selatan dan Korea Utara, telah sekian lama terganggu dengan peninggalan masa perang yang pahit serta penjajahan Tokyo di Semenanjung Korea.

Hubungan dengan Seoul, pada khususnya, selama ini dingin karena persengketaan soal kenangan masa perang serta perselisihan bidang militer.

Akihito, yang ayahnya pernah dianggap bagaikan tuhan, ditetapkan oleh undang-undang dasar pascaperang sebagai simbol persatuan, tanpa kekuatan politik namun sangat dihormati.

Baca juga : Jepang khawatirkan dampak dari utang Pasifik

Ia kerap membicarakan soal pentingnya mengenang kengerian perang, hal itu terinspirasi ingatan bahwa setelah ayahnya meninggal pada 1989, Permaisuri Michiko menulis sebuah puisi tradisional tentang perdamaian.

Puisi tersebut berbunyi, “Negara dipenuhi dengan harapan semua orang untuk membangun sebuah masa yang penuh dengan kedamaian bersama.”

Sejumlah pakar melihat peninggalan Akihito berada di bawah ancaman agenda konservatif Abe saat generasi masa perang berguguran. Putra Mahkota Naruhito telah menjelaskan bahwa ia berniat mengikuti jejak langkah ayahnya.

Upacara hari Minggu menampilkan sebuah lagu yang diciptakan Kaisar dan Permaisuri setelah lawatan pada 1975 ke Okinawa. Pulau yang tercabik perang itu menjadi kenangan khusus di hati mereka.

Dalam pidatonya di televisi pada 2016, Akihito mengisyaratkan bahwa ia ingin turun dari takhta karena masalah umur. Saat menyampaikan pidato, Akihito terlihat sempat kesulitan membuka lembaran halaman dan Michiko menghampiri untuk membantunya. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top