Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ini sa pu noken!

Noken suku Mee yang biasa disebut Agiya – Jubi/IST

Oleh : Rosa Moiwend

“ Sa pu nene Mote (dari suku Mee) yang bikin noken ini khusus untuk sa”

BEGITULAH saya memperkenalkan noken saya pada peringatan Hari Noken, tanggal 4 Desember lalu di akun media sosial. Noken yang saya pakai adalah noken bergaya Mee tentunya.

Dalam Bahasa Mee, noken biasa disebut Agiya. Untuk ukuran yang lebih kecil, biasanya disebut Ute. Noken ini terbuat dari bahan dasar kulit kayu Genemo, yang dalam bahasa Mee disebut Damiyo Bebi (kulit kayu Genemo untuk menganyam noken). Ia selalu menemani saya ketika berpergian ke luar Papua. Di saat perasaan saya sedang cemas, hanya dengan memeluknya, seketika itu juga saya seperti mendapatkan kekuatan dan ketenangan kembali. Ia membuat saya nyaman dan aman, serta merasa tetap dekat dengan rumah.

Nene saya adalah seorang perempuan Mee dari kampung Bagou, yang menikah dengan tete (kakek) saya, seorang guru perintis berdarah Muyu dari kampung Ninati, di Boven Digoel.

 Nene belajar menganyam noken dari mamanya sejak kecil. Sekarang nene telah berusia hampir 90 tahun dan masih aktif menganyam noken setiap hari. Penglihatannya masih sangat tajam, sehingga masih dapat melihat tali anyaman nokennya dengan jelas. Setiap hari pekerjaannya adalah menganyam noken. Dalam seminggu nene bisa menghasilkan satu buah noken seukuran dengan yang saya pakai. Nene selalu membuat noken untuk keluarga kami.

Loading...
;

Mama saya pun belajar membuat noken dari nene sejak kecil. Mama pernah bercerita kepada saya bahwa dulu ketika mama pergi bersekolah, mama selalu membawa noken pemberian nene saya. Nokennya biasa diisi dengan nota (ubi) bakar sebagai bekal ke sekolah. Setiap hari mama dan kawan-kawannya harus berjalan kaki dan berenang menyeberangi sungai untuk ke sekolah. Noken kecil itu tidak pernah lepas dari dirinya. Bahkan ketika mama melanjutkan pendidikannya ke Jayapura, noken itu ikut bersamanya. Ia telah menjadi saksi cerita mama semasa sekolah.

Saat ini, mama telah pensiun sehingga banyak waktunya tersedia untuk menganyam noken. Saya dan adik pun mendapatkan hadiah noken hasil karya tangan mama. Noken pemberiannya selalu saya pakai bergantian atau bersamaan dengan noken pemberian nene. Beberapa kawan dekat saya pernah mendapat hadiah noken buatan mama.

Sampai saat ini, saya belum bisa menganyam noken sendiri. Saya masih terus belajar dari mama saya. Ternyata membuat noken tidak semudah yang saya bayangkan. Prosesnya memerlukan konsentrasi, keterampilan, konsistensi, dan kesabaran tersendiri.

Dengan terus memakai noken pemberian nene dan mama, saya belajar memahami makna noken bagi kehidupan. Sebagai seorang anak perempuan dan seorang perempuan Papua, saya sadar bahwa saya terikat dengan noken. Mama saya lahir dan besar dari noken nene saya yang berisikan nilai dan warisan pengetahuan identitas Mee dan Muyu secara bersamaan. Ketika mama membawa nokennya dan bertemu dengan bapa saya, seorang seniman berdarah Malind Anim, saya dan adik- adik dilahirkan dari noken mama dan mewarisi identitas Mee, Muyu dan Malind Anim. Demikianlah kami membawa noken identitas kami. Begitulah saya menarasikan keterikatan saya dengan noken saya.

Tradisi membuat noken dan memberikannya kepada anak perempuan, bagi saya sangat penuh makna dan pesan. Menurut saya, noken melambangkan rahim seorang perempuan Papua yang kuat dan sehat, yang terbentuk dari mama tanah alam Papua. Di dalamnya terbentuk sebuah kehidupan, yang selama 9 bulan mendapatkan nutrisi dan sifat-sifat baik dari mama, sang pemilik rahim. Setelah kehidupan itu lahir, ia dirawat dan dijaga di dalam noken yang dianyam secara khusus untuk menidurkan bayi. Kehidupan itu tumbuh dan berkembang dengan asupan makanan dari dalam noken.

Ketika kehidupan tersebut bertumbuh menjadi besar, noken menjadi sumber pengetahuan bagi dia. Mama dan bapanya mendidik dia dengan pengetahuan yang tersimpan di dalam noken mereka. Maka bagi saya noken juga adalah sumber pengetahuan akan nilai-nilai dan kearifan.

Generasi yang lahir dari noken mama, ia membawa identitas dan kehormatan kedua orangtuanya, keluarga besarnya, clannya, komunitasnya dan bangsanya. Noken menyimpan sejarahnya sendiri serta sejarah dan cerita hidup pemiliknya. Siapapun yang masih memiliki noken, ia masih mewarisi akar identitasnya, sambil terus membentuk jati dirinya dengan pengalaman dan konteks hidup di masa kini. Saya berharap suatu saat nanti saya pun dapat menurunkan noken kepada generasi berikut saya.

Kita baru saja memperingati hari noken yang ke 7, setelah noken ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia pada tanggal 4 Desember 2012. Kita diajak untuk memakai noken sebagai lambang identitas kepapuaan. Namun, apakah perempuan Papua generasi kita masih memiliki noken beserta isinya? Jangan-jangan kita bangga memakai noken hanya karena keindahan dan keunikannya.

Identitas perempuan Papua melekat dengan noken, artinya perempuan Papua adalah noken itu sendiri. Karena itu, ketika sebuah generasi hidup dalam keterpurukan dan penindasan, perempuan Papua sebagai noken berkewajiban untuk menyelamatkan kehidupan generasi tersebut.

Mari jadikan noken sebagai landasan filosofis perempuan dalam membangun gerakannya untuk membebaskan manusia Papua dari penindasan. Noken yang kuat terbentuk dari anyaman tali hasil pintalan kulit kayu pohon yang tumbuh kokoh.

Sudah saatnya perempuan-perempuan Papua pemilik noken berpijak kokoh pada tanah dan bergerak untuk menganyam noken kekuatan bersama demi menjaga dan menyelamatkan manusia dan Tanah Papua. (*)

*Penulis adalah aktivis perempuan Papua

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top