Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Insiden Wamena disebut tak pengaruhi pariwisata

Honai di Lembah Baliem, Jayawijaya – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pascademo 23 September 2019 di Wamena, Jayawijaya yang berujung pada amuk massa, korban nyawa, harta benda, dan gelombang pengungsian, objek-objek wisata budaya atau wisata alam masih bisa dikunjungi oleh para traveler.

Hal ini karena destinasi wisata tersebut dalam kondisi aman, tidak terkena dampak insiden tersebut. Selain itu, letak objek-objek wisata tersebut berada di pinggir Kota Wamena, sedangkan kejadian amuk massa hanya terjadi di pusat perekonomian Wamena.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan selain hal-hal tersebut di atas, dalam budayanya, suku Dani sebagai pemilik objek wisata budaya seperti mumi, selalu menjaga peninggalan leluhur mereka.

Rumah-rumah tradisional suku Dani di sekitar Wamena dan Lembah Baliem juga masih utuh, sehingga bagi penyuka trekking masih dapat menyaksikan kehidupan tradisional dan pemukiman tradisional suku Dani.

Loading...
;

“Situs Gua Kontilola dengan gambar Alien di dalamnya juga aman dari kerusuhan. Mama-mama suku Dani yang kreatif juga masih tampak terlihat bersemangat merajut noken, baik untuk dipergunakan sendiri atau untuk dijual pada wisatawan,” katanya kepada Jubi di Jayapura, Selasa (8/10/2019).

“Labu air pembuat koteka, juga masih banyak dijumpai di pekarangan honai. Rotan dan rumput sebagai bahan untuk membuat gelang dan cincin khas Wamena juga masih banyak dan mudah didapatkan,” lanjut Suroto.

Ia mengatakan kebun-kebun di pinggiran Wamena juga masih menghasilkan ubi jalar dan keladi, sebagai kuliner tradisional Lembah Baliem. Tak hanya itu, udang selingkuh juga masih didapatkan di Sungai Baliem. Koteka, noken, gelang, dan cincin khas Wamena merupakan oleh-oleh bagi traveler. Ubi jalar dan keladi yang diolah dengan bakar batu, serta udang selingkuh merupakan kuliner unik yang banyak dicari bagi para traveler yang berkunjung ke Wamena.

“Lembah Baliem sendiri merupakan daerah eksotis dengan keindahan alam dan budayanya. Dengan modal objek wisata budaya, alam dan produk kreatif khas Wamena maka pariwisata akan membangkitkan perekonomian Wamena yang terpuruk akibat kerusuhan,” kata Suroto.

Sedangkan pelaku pariwisata Andre Liem mengatakan pihaknya selama dua hari belakangan memfasilitasi dan menggali informasi pada Kementerian Hukum dan HAM serta Polda terkait SKJ (surat keterangan jalan atau travel permit) travel warning dari kejadian 23 September lalu bagi dunia pariwisata Papua, terutama Kabupaten Jayawijaya.

Pasalnya, kejadian itu mengakibatkan kampung-kampung wisata mulai bergairah kembali setelah sempat tenggelam, redup, dan total akan mengalami masa panceklik kunjungan wisata.

“Maka teman-teman pelaku dan pemerhati wisata diminta bangkit, bahu-membahu menjajaki strategi tiga bulan ke depan dengan fokus pemetaan wilayah ternyaman dan keamanan terjamin 100 persen, agar bisa menjadi rekomendasi, dengan mengajak konsolidasi di tiap Pilamo Adat agar ada komitmen tertulis mendukung Dunia pariwisata Lembah Baliem bangkit kembali,” kata Andre Liem.

Maka dengan demikian, katanya, Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya diminta segera mempersiapkan kekurangan kampung-kampung wisata tersebut, agar akses atau sarana prasarana yang kurang dilengkapi tahun depan menyongsong Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB).

Andre Liem juga meminta agar konsolidasi dari Dewan Adat Lembah Baliem juga turut mendukung, sehingga pelaku dan pemerhati pariwisata akan bekerja keras untuk meyakinkan turis mancanegara datang ke Wamena dan Papua.

“Bahwa Bom Bali bisa kembali normal, tetapi Wamena kota juga dapat melepaskan belenggu traumatis itu pelan tapi pasti. Yogotak Hubuluk Hanorogo,” kata Andre Liem.

Menurut Andre Pemerintah Provinsi Papua dan Kementerian Pariwisata harus proaktif bekerja sama dengan kedutaan besar-kedutaan besar, agar mereka memberikan masukan dan dukungan melalui pernyataan-pernyataan resminya. Pernyataan-pernyataan Pemerintah Provinsi Papua dianggap menjadi kekuatan untuk menjamin suasana kondusif bagi para turis pasca surat kepolisian Jayawijaya.

Informasi yang diterima Jubi menyebutkan surat dari Polres Jayawijaya bernomor B1635 IIX/2019/Res Jawi kepada Jepala Kantor Imigrasi TPI Tingkat I Jayapura tentang pembatasan wisatawan asing ke Wamena. Surat itu merujuk Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri dan Laporan Harian Khusus Nomor: LHK 111/IX/2019/Intelkam tentang kejadian 23 September 2019.

Dalam surat yang ditandangani 27 September 2019 oleh Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda itu menyebutkan bahwa kepolisian memohon kepada Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jayapura untuk membatasi wisatawan asing berkunjung ke wilayah hukum Polres Jayawijaya sementara waktu mengingat suasana belum sepenuhnya kondusif.

“Jadi, ada travel warning dikeluarkan oleh Imigrasi Kelas I TPI Jayapura. Itu diajukan ke Kepolisian (Daerah Papua) maupun Mabes Polri,” katanya. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top