HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ironis, tema Pacific Games 2019 di Apia ‘One in Spirit’, sementara Samoa terpecah

Ironis, tema Pacific Games 2019 di Apia ‘One in Spirit’, sementara Samoa terpecah

Pelajar sekolah di Samoa dalam acara pembukaan Pacific Games, Minggu malam (7/7/2019). – RNZI/Vaitogi Asuisui Matafeo

Oleh Mata’afa Keni Lesa

Ini yang kita tahu sejauh ini. Selama beberapa minggu dan bulan terakhir, frasa ‘one in spirit’ atau bersatu dalam jiwa, banyak diucapkan di mana-mana. Di Samoa, itu mungkin adalah ungkapan yang paling populer, dengan pembukaan Pacific Games dilakukan di Apia Park, Minggu malam lalu (7//7/2019).

Jangan salah, siapa pun yang menciptakan ungkapan itu, sebagai seruan agar bangsa Samoa berkumpul bersama-sama untuk menjadi tuan rumah acara ini, adalah seorang genius.

Kita mengatakan hal ini karena kita tahu bahwa hanya dalam kesatuan dan persatuan, segala sesuatu dapat dilakukan. Kita juga tahu bahwa gunung dapat ditaklukkan, lautan dapat dipindahkan, dan apa pun dapat terjadi ketika kita bersatu, ‘one in spirit’.

Sayangnya, dari sudut pandang kita, Samoa adalah bangsa yang tidak ‘one in spirit’, mengingat beberapa perkembangan besar yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Tidak bisa diragukan bahwa banyak dari kita mencoba untuk menunjukkan wajah persatuan demi tamu kita, tetapi jauh di lubuk hati kita tahu kebenaran yang pahit.

Lihatlah ke sekeliling negara ini hari ini, kita sama sekali tidak memiliki persatuan. Pertama, gereja Congregational Christian Church of Samoa (CCCS) menghentikan lima ratus siswa yang akan mengambil bagian dalam upacara pembukaan malam itu, menyalahkan fakta bahwa acara tersebut diadakan Minggu.

Ditanya apakah ini adalah cara gereja CCCS untuk membalas pemerintah akibat perselisihan mengenai pajak yang sedang berlangsung, Sekretaris Jenderal Pendeta Vavatau Taufao, berkata tidak.

Jika kalian memperhatikan gereja CCCS, kita selalu mendukung inisiatif pemerintah,” katanya. “Contohnya, Maluafou (suatu sekolah tinggi) adalah salah satu sekolah pertama yang memasang dekorasi dalam menunjukkan dukungan kami (untuk Pacific Games).”

Tetapi untuk menjawab pertanyaan ini, dukungan gereja tidak dapat mengesampingkan prinsip kami tentang hari Sabat. Kita tidak dapat menyokong sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kamu untuk menguduskan hari Sabat.”

Jika kita atau Anda mengikuti perdebatan di Samoa dan di media sosial selama beberapa hari terakhir, keputusan Gereja itu telah terbukti sangat memecah belah.

One in spirit’? Kita rasa tidak.

Bukan hanya itu saja. Berbicara tentang perseteruan antara Pemerintah dan CCCS akibat pajak, perkembangan lainnya yang juga memecah belah bangsa ini terjadi pada Kamis lalu, ketika pengadilan menghentikan dakwaan terhadap 20 pendeta yang digugat karena tidak membayar pajak atas alofa-nya.

Tetapi masalah ini, lagi-lagi isu yang sangat membagi negara, itu dan melibatkan denominasi gereja terbesar di Samoa dengan lebih dari 60.000 anggota, belum kunjung terselesaikan. Perdana Menteri Tuilaepa Dr. Sa’ilele Malielegaoi, yang merupakan sosok yang tidak suka kalah, telah berjanji akan melanjutkan pertarungannya.

Dalam mengumumkan bahwa Kantor Kejaksaan Agung akan mengambil alih tuntutan, ia berkata, “Ini kasus ini belum selesai.”

Ini adalah bagaikan sebuah permainan,” katanya, menambahkan bahwa Kantor Kejaksaan Agung sudah siap untuk memastikan apa yang terjadi pada Kamis lalu, tidak akan terulang lagi.

One in spirit’? Sekali lagi, Kita rasa tidak.

Namun, mungkin salah satu persoalan yang paling banyak dibicarakan di Samoa hari-hari ini adalah ditunjuknya kembali Presiden dari Lands and Titles Court President, Fepulea’i Atilla Ropati.

Perdana Menteri Tuilaepa telah mengajukan mosi di Parlemen, atas nama pemerintah, untuk memberhentikan pekerjaan Fepulea’i. Hasil dari pemungutan suara atas mosi itu tidak mencapai mayoritas dua pertiga yang diwajibkan agar mosi Tuilaepa berhasil. Dua puluh satu Anggota Parlemen (MP) menolak untuk menurunkan Fepulea’i, sementara 18 lainnya mendukung pemecatannya Fepulea’i. Dengan begitu, hasil pemungutan suara itu berarti seseorang yang pernah divonis, dalam hal ini didakwa bersalah setelah melakukan penganiayaan secara fisik, akan memimpin sebagai Presiden Lands and Titles Court di Mulinu’u.

Yang, sekali lagi telah memecah belah bangsa itu. Dengarkan Wakil Perdana Menteri, Fiame Naomi Mata’afa, sekali lagi: “Kami menjunjung hukum, kami adalah penyusun hukum, kami hidup, patuh, dan menghormati hukum.”

Saya ingin mengarahkan perhatian parlemen pada Pasal 15 dari Konstitusi kita, yang berkaitan dengan hak-hak individu,” katanya.

Pasal itu mengatakan tidak ada orang yang diberikan perlakuan khusus. Namun dalam kasus ini, Ketua Parlemen, bagaimana kita dapat berkata bahwa tidak ada perlakuan khusus dalam penanganan Presiden LTC? Anda sudah mendengarkan pidato-pidato sebelum saya; kita harus berbelas kasihan, dia melayani pemerintah dan dia juga melayani Parlemen.”

Apa artinya? Ketua, itu berarti Parlemen ini telah melanggar Pasal 15 dari Konstitusi. Mengapa? Karena kita memberi Fepulea’i perlakuan khusus. Dan ini menyimpang dari apa yang biasanya dilakukan terhadap anggota masyarakat biasa, yang juga didakwa sebagai pelaku tindak kriminal.”

Wakil Perdana Menteri menegaskan bahwa keputusan parlemen itu mengirimkan pesan yang salah. Fiame memang benar, dan sekali lagi, inilah sebabnya negara ini terbagi karena isu ini.

Ironisnya, semua kejadian yang memecah belah bangsa ini dimulai seraya semua orang meneriakkan ‘one in spirit’.

Pemimpin-pemimpin bangsa ini, mulai dari pemerintah, Gereja, hingga desa-desa, memiliki banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan. Dan mereka harus melakukannya dengan baik, menelan harga diri dan ego mereka, merendahkan diri, dan duduk untuk bicara, menemukan titik kompromi atas beberapa perselisihan ini, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan ini.

Marilah kita ingat kembali bahwa ini adalah negara Kristen, di mana kita, sebagai orang Kristen, harus dibimbing oleh firman dan roh Allah. Di mana ada perpecahan, tidak ada roh Tuhan.

Tetapi, Tuhan juga tahu bahwa kita cenderung menghadapi masalah dalam hidup kita. Saat kita berbuat salah, Allah dengan setia memberikan kesempatan kedua, ketiga, bahkan keseratus untuk setiap orang. Hal yang sama berlaku untuk bangsa ini dan kita semua. Kita semua pernah gagal, pada suatu saat, atau saat lainnya.

Ingat hal ini? Samoa tidak seharusnya menjadi menjadi tuan rumah Pacific Games tahun ini.

Tetapi, mungkin kesempatan untuk menjadi tuan rumah dan menyambut semua pengunjung ke pantai-pantai kita, adalah suatu momen untuk membantu apa yang tampaknya adalah negara yang sangat terpecah belah, agar dapat bersatu dan berada dalam ‘satu jiwa’?

Selamat datang kepada semua pengunjung yang ada di negara kita untuk Pacific Games XVI 2019, Tuhan memberkati! (Samoa Observer)


Editor: Kristianto Galuwo

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)