HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

ISPA penyakit nomor satu di Kota Jayapura

Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, bertanya kepada pengunjung salah satu puskesmas di Kota Jayapura – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

WAKIL Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, memantau 14 Puskesmas yang ada di Kota Jayapura pada pertengah Maret 2019. Berdasarkan pantauannya, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan penyakit nomor satu dari 10 besar penyakit yang diderita warga Kota Jayapura.

Nomor dua terbanyak adalah penyakit kulit dan kelamin. Kemudian malaria dan hipertensi.

“Kami minta kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak boleh ada sarang nyamuk di rumah, saluran air bersih seperti got dan drainase bersih, mandi dua kali dalam sehari, rumah memiliki ventilasi agar matahari masuk, jaga kesehatan dengan banyak makan sayur dan buah, olah raga, dan rajin periksa ke dokter,” kata Saru, di Jayapura, Kamis, 14 Maret 2019.

Menurut Saru, penyakit ISPA banyak diderita warga karena kondisi cuaca hujan yang tinggi, ditambah beberapa pemukiman yang kurang bersih atau kumuh.

Loading...
;

“Upaya pemberantasan penyakit lebih difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata laksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita sehingga semua penderita langsung ditangani,” katanya.

Upaya itu, lanjutnya, dilakukan melalui berbagai survei pelajar, survei kontak, dan pemeriksaan intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak dengan penderita.

Data didapatkan dari Puskesmas Koya Barat, Puskesmas Skouw, Puskesmas Jayapura Utara, Puskesmas Imbi, Puskesmas Tanjung Ria, Puskesmas Hamadi, Puskesmas Yoka, dan Puskesmas Abepura.

Kepada Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari, mengatakan berdasarkan data 2012 laporan dari puskesmas, penyakit terbanyak memang ISPA yaitu 65.311 pasien. Kemudian penyalit kulit sebanyak 16.649, dan penyakit malaria sebanyak 12.524.

“Data 2018 untuk IMS kasusnya belum dilaporkan ke saya dan ternyata penyakit kulit dan kelamin itu, laporannya masuk di HIV dan IMS, trennya menurun bila dibandingkan data lima tahun terakhir, penyakit kusta data 2017 ada 417 kasus, kami mau supaya kasus ini hilang,” ujarnya.

Ni Nyoman menjelaskan penyakit ISPA di Kota Jayapura tinggi karena debu dan asap perokok. Sedangkan penyakit kulit karena masyarakat kurang menjaga kebersihan sehingga gampang tertular penyakit kulit.

Penyakit malaria juga disebabkan karena masyarakat kurang menjaga kebersihan lingkungan.

“Penyakit paling tinggi itu ISPA karena mudah menular,” katanya.

Ni Nyoman mengimbau masyarakat agar setiap keluhan segera ke tempat layanan masyarakat agar tidak sampai tambah parah.

Selain itu, menjaga kebersihan diri agar tidak mudah sakit saat perubahan cuaca.

“Penanganannya masyarakat harus berperilaku hidup bersih dan sehat, antisipasinya hidup bersih, kurangi merokok, dan jaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Data 2018, kata Ni Nyoman, kasus demam berdarah ada 49 kasus dan 22 kasus pada Januari 2019, 5 kasus pada Februari 2019. Namun tidak ada yang meninggal karena malaria.

Untuk penanggulangan, Dinas Kesehatan rutin melakukan pelayanan di lapangan.

Menurut Ni Nyoman, salah satu ancaman serius terhadap pembangunan kesehatan, khususnya pada kualitas generasi mendatang adalah stunting. Dimana rata-rata angka stunting di Indonesia sebesar 37,2 persen. Menurut standar WHO, persentase ini termaksud kategori berat.

Untuk mengurangi dampak penyakit, Dinas Kesehatan Kota Jayapura rutin menggelar pelayanan langsung dari rumah ke rumah.

“IPM Kota Jayaputa sekarang sudah 79 persen dan angka harapan hidup manusia mencapai 72 persen, dokter di Puskesmas bisa menuntaskan 10 besar penyakit seperi kusta, frambusia, dan malarian, pelayanan gratis,” katanya.

Kepala Puskesmas Hamadi, Apolonia Yanthewo, mengatakan dalam sehari melayani 300 pasien yang datang memeriksakan penyakit mereka. Paling banyak memang penyakit ISPA mencapai 40 orang.

“Banyaknya keluhan penyakit ISPA disebabkan masyarakat mengkonsumsi makanan dan minuman yang kurang bersih, ditambah lagi sering menghirup debu, solusinya masyarakat perlu memasak makanan dan minumannya sendiri di rumah,” ujarnya.

Infeksi tersebut, katanya, umumnya disebabkan virus yang menyerang hidung, trachea (pipa pernapasan), atau bahkan paru-paru, sehingga menyebabkan fungsi pernapasan terganggu.

“Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan dan menyebabkan tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen,” ujarnya.

Menurut Yanthewo, kondiri tersebut bisa berakibat fatal, bahkan sampai berujung pada kematian. Ia menyarankan masyarakat agar hidup sehat dan pola makan teratur karena tidak selamanya ISPA disebabkan oleh virus, namun polusi dan lingkungan juga berdampak pada penderita.

“Kalau sudah terkena ISPA rajin minum obat sesuai dengan anjuran dokter. Banyak istirahat dan jaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat agar terhindari dari penyakit ISPA dan menggunakan maskes saat berada di jalanan, serta minum air putih yang banyak,” katanya.

Warga Kota Jayapura, Bernard Marani, mengatakan penyakit bisa diderita sebagian warga karena kurang menjaga kebersihan lingkungan, banyak terpapar debu, dan polusi yang cukup tinggi.

“Untuk sarana dan prasarana sudah memadai hanya saja tinggal masyarakat harus berani lapor ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas, selain itu masyarakat tidak mengkhawatirkan biaya untuk bisa mendapatkan perawatan medis karena sudah dijamin BPJS, terutama masyarakat miskin,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top