Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Isu lingkungan belum menjadi isu bersama di Jayapura

Aktivis lingkungan Gamel saat mengangkat sampah yang terjebak di akar pohon Mangrove di Entrop kota Jayapura – (Jubi Doc.)

Jayapura, Jubi – Aktivis Forum Peduli Port Numbay Green Gamel mengatakan, persoalan lingkungan di Jayapura selama ini lebih banyak disoroti perkelompok. Belum dijadikan persoalan bersama.

“Pemerintah jalan sendiri dan komunitas atau LSM jalan sendiri. Sekalipun ada beberapa LSM yang sudah bersinergi dengan pemerintah namun dampaknya belum sepenuhnya melahirkan kesadaran. Belum lahir kesadaran yang massif untuk memahami pentingnya keseimbangan,” katanya, kepada Jubi melalui selulernya Jumat (15/2/2019).

Menurutnya, ketika keseimbangan terganggu atau satu ekosistem terganggu maka akan mempengaruhi yang lain. Untuk Perlu penanganan secara holistik. “Pemerintah buat apa dan diterjemahkan oleh OPD Kemudian ke masyarakat,” katanya.

Masalah lingkungan di Jayapura pada umumnya adalah banjir dan sampah. Soal banjir Penanganan harus dari hulu dan direspon gerakan yang tumbuh di hilir. Sedangkan soal sampah, ia melihat upaya pemerintah sudah jalan untuk menyadarkan masyarakat. Tapi ini harus didukung oleh perangkat pemerintah di bawah seperti RTRW.

Menurutnya, setiap pihak tidak bisa menunggu banjir dan penuh sampah untuk mengkritik pemerintah. “Lihat Surabaya, Bandung yang mampu menyulap taman, sungai, kawasan kumuh menjadi tempat yang nyaman,” ujarya.

Loading...
;

Gamel mengatakan, pembangunan yang berwawasan lingkungan harus memerhatikan dan melaksanakan konsep serta analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, sehingga mampu mengoptimalkan potensi dan peluang yang ada serta dapat meminimalisasi kelemahan dan ancaman serta dampak yang mungkin ditimbulkan.

“Masyarakat harus dilibatkan, agar tepat sasaran,” katanya.

Untuk kedua pasangan kandidat Capres-Cawapres, sejak awal pihaknya mengingatkan keberadaan Papua sebagai benteng biodiversity terakhir di bumi.

“Hutan Papua harus dijaga jangan memasukkan sawit ke Papua. Cukup Kalimantan Sumatera yang menjadi korban hutan Sawit. Jangan Papua lagi,” katanya.

Sementara itu Direktur Walhi Papua Aihes Rumbekwan menambahkan, momentum pemilu kali ini akan sangat menentukan masa depan Papua, apakah rakyat dihadirkan sebagai subjek pembangunan atau masih sebagi objek kepentingan kapitalisme global.

“Pengalaman empiris menunjukkan, para calon legislatif yang telah berhasil, bukan saja kurang berniat mendiskusikan isu lingkungan hidup, melainkan tidak memahami persoalan mendasar dari berbagai krisis ekologis,” katanya.

Di sisi lain, lingkungan hidup harus diperjuangkan dan diletakkan dalam kerangka kehidupan manusia, baik individu maupun kolektif, dan diaktifkan sebagai sebuah gerakan dalam kehidupan manusia.

“Sehingga pada gilirannya akan menjadi kekuatan politik ekonomi yang berkelanjutan dan keadilan ekologis serta menjaga suhu bumi dari perubahan iklim ekstrim-pemanasan global,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top