Jangan biarkan mereka sendiri

Jangan biarkan mereka sendiri

Ilustrasi anak jalanan tidur di emperan toko – Jubi/Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

BEBAN hidup terasa begitu berat bagi AT. Keceriaan masa kanak-kanaknya bersulih menjadi kelam. Kasih sayang utuh yang diharapkan dari kedua orang tua justru kerap berbuah kekerasan.

Bayang-bayang kekerasan menghinggapi kehidupan AT sejak ayahnya menikah lagi. Dia mengaku kerap mendapat perlakuan kasar dari ibu tirinya.

“Saya dan adik punya mama (ibu kandung) sudah tidak ada. Kami (tinggal) sama bapak dan mama baru, tetapi selalu dapat pukul dari mama,” kata sulung dua bersaudara itu.

AT lantas melepaskan kepenatan hidupnya di jalanan. Lem Aica-Aibon pun dijadikannya sebagai tempat mengadu. Menyesapi aromanya hingga jiwa serasa melayang indah. Plong! Semua masalah dirasakan reda seketika.

Permasalahan keluarga kerap terdengar sebagai alasan klasik penyebab ketergantungan terhadap alkohol, narkotika, dan zat adiktif. Namun, itu sulit ditampik lantaran menjadi semacam fenomena umum, termasuk di Nabire.

“Kurang kasih sayang dan perhatian. Mungkin kedua orangtua mereka telah tiada, dan hidup bersama keluarga yang kurang memperhatikan,” kata Amor Yeninar kepada Jubi, Sabtu (9/2/2019).

Yeninar mengelola rumah singgah di Kelurahan Oheye, yang menangani anak-anak korban kecanduan Lem Aica-Aibon. Para bocah tersebut terjebak menjadi pencandu diduga karena ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga. Lingkungan pergaulan juga turut memicu penyalahgunaan lem Aibon.

Berdasarkan amatan Yeninar, para pecandu Aibon di Nabire sebagian besar anak di bawah umur. Usia mereka berkisar delapan hingga 15 tahun.

Yeninar menengarai ada di antara mereka yang sudah terperangkap jauh, yakni menjadi pengguna ganja. Kondisi ini sangat merisaukannya.

“Kalau ini tidak ditangani serius, generasi muda Papua semakin hancur.”

Mengancam kehidupan

Lem Aica-Aibon sejatinya berfungsi sebagai perekat untuk barang berbahan dasar kayu, plastik, karet, dan sejenisnya. Lem bermerek Aica-Aibon, sebagaimana kebanyakan bahan perekat sejenis mengandung  Lysergic Acid Diethylilamide (LAD).

Berbagai literatur menyebut LAD dapat menyebabkan halusinasi bila terpapar atau dikonsumsi manusia. Efeknya dirasakan 1-12 jam kemudian, di antaranya rasa tenang luar biasa. Namun, pengguna bisa kehilangan kendali emosi, merasa superior, bingung, pening, dan panik sehingga dapat memicu tindakan membahayakan diri maupun orang lain.

‘Pengguna dalam jangka panjang merasakan efek halusinogenik (halusinasi/ilusi) selama berhari-hari hingga berbulan-bulan setelah pemakaian,’ tulis Jessica Florencia dalam laman klikdokter.com.

Karena menimbulkan efek ketergantungan kepada pengguna, LAD digolongkan sebagai zat adiktif sehingga dilarang keras dikonsumsi dalam bentuk dan dengan cara apa pun.

Berdasarkan penelitian Putri Pestaria, dan kawan-kawan, 2009, pemberian uap lem Aibon selama 20 detik menurunkan eritrosit, dan meningkatkan leukosit pada mencit. Eritrosit berfungsi sebagai pengikat oksigen pada tubuh, sedangkan leukosit membentuk antibodi. Penurunan eritrosit berdampak terhadap suplai darah ke jantung, sedangkan peningkatan leukosit dapat meracuni tubuh.

Pihak produsen sebenarnya telah mengingatkan dampak produk mereka terhadap kesehatan. Peringatan, ‘Jangan Dihirup (karena) dapat menyebabkan keracunan’, tertera pada kaleng Lem Aica-Aibon.

Kepedulian semua

Lem Aibon termasuk inhalansia, yakni zat adiktif yang digunakan dengan cara dihirup aromanya. Organisasi Internasional Anak (Unicef) menyebut penyalahgunaan Aibon dapat merusak saraf dan sel-sel otak hingga menyebabkan meninggal dunia.

Unicef dalam riset mereka juga mengungkapkan lem aibon merupakan salah satu zat adiktif yang marak disalahgunakan di Papua. Aibon mudah didapat dan berharga murah sehingga banyak dikonsumsi kalangan anak.

Menurut Yeninar dibutuhkan kepedulian semua kalangan dalam menanggulangi maraknya penyalahgunaan Aibon di Nabire. Mereka harus duduk satu meja untuk mencari solusi efektif.

“Pihak Gereja mungkin bisa mengajak anak-anak ini (pecandu Aibon) bergabung ke sekolah Minggu. Saya rasa hanya keluarga dan Gereja yang bisa mengatasi mereka,” kata Yeninar.

Warga Nabire, Gunawan Inggeruhi, berharap pemerintah serius dan bertindak cepat dalam menanggulangi penyalahgunaan Aibon di daerah mereka.

“Seharusnya ada instansi khusus menangani penyalahgunaan Aibon untuk menyelamatkan generasi muda Papua.” (*)

Editor: Aries Munandar

loading...

Leave a Replay

Leave a Comment

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

loading...