Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Jateng jaga debit air waduk hadapi musim kemarau

Ilustrasi, pixabay.com

Ada 41 waduk di Jateng yang mengalami penurunan debit air pada awal musim kemarau tahun ini.

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Semarang, Jubi – Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air Dan Penataan Ruang, Provinsi Jawa Tengah berupaya menjaga debit air puluhan waduk yang tersebar di daerah setempat. Langkah itu dilakukan sebagai persiapan menghadapi kekeringan pada musim kemarau.

“Kami berupaya menjaga debit air di waduk-waduk yang debitnya terus mengalami penurunan saat memasuki musim kemarau,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah, Eko Yunianto, Selasa, (25/6/2019).

Berita terkait : Pembangunan waduk Bulango Ulu ditolak warga

Loading...
;

Ribuan pohon ditanam di lereng gunung Wilis

Banjir masih genangi perumahan warga di sejumlah tempat

Tercatat sedikitnya ada 41 waduk di Jateng yang mengalami penurunan debit air pada awal musim kemarau tahun ini, bahkan penurunan sudah mencapai 24 persen. Eko mencontohkan waduk yang sudah mengalami penurunan debit air antara lain, Waduk Malahayu, Waduk Cacaban, Waduk Kedungombo, Waduk Wadaslintang, Waduk Jatibarang, Waduk Penjalin, Waduk Jombor hingga Waduk Tempuran.

“Penurunan debit air terparah terjadi di Waduk Tempuran,” ujar Eko menambahkan.

Lembaga yang ia pimpin sedang mempercepat proses pemeliharaan 41 waduk di 35 kabupaten dan kota untuk menjaga aliran air ke lokasi pertanian tetap berfungsi dengan baik sekaligus memperkuat daya tampung waduk agar tetap terjaga.

Menurut Eko Jateng sudah memelihara 41 waduk atau setara 1,8 miliar meter per kubik agar daya tampung air dapat terjaga. Sedangkan penurunan debit air di sejumlah waduk tersebut sesuai dengan informasi peringatan dini dari BMKG yang menyebutkan bahwa musim kemarau pada 2019 akan berlangsung cukup panjang hingga mencapai tujuh bulan.

“Saat ini tidak hanya waduk saja, sungai juga mengalami penyusutan debit air,” katanya.

Ia berpendapat dengan kondisi irigasi masih mengandalkan aliran air sungai, maka menyebabkan kebutuhan air untuk lahan pertanian semakin menurun saat musim kemarau. Bahkan diakui sudah terasa ada banyak keluhan petani yang kekurangan pasokan untuk air irigasinya.

Hal ini menjadikan ia berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk menanggulangi persoalan kekeringan di Jateng, dengan langkah memperkuat koordinasi dengan kabupaten dan kota.

“Karena harus kita sadari kalau itu bukan bersumber dari waduk, ya hanya bisa mengandalkan dari air yang mengalir. Apapun itu kita harus ada upaya yang maksimal untuk menolong para petani,” kata Eko menjelaskan. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top