HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Jejak penyebaran Islam di Fakfak

Masjid Patimburak, masjid tertua di Fakfak – Jubi/Kemenag.go.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hari Suroto

Dalam sejarahnya penyebaran Islam di Kokas, Fakfak, Papua Barat tidak lepas dari pengaruh kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk Islam. Sejak itulah, sedikit demi sedikit Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Fakfak.

Menurut Onim (2006) dalam buku Islam dan Kristen di Tanah Papua, proses Islamisasi di wilayah Fakfak dilakukan melalui jalur:

Pertama, perdagangan. Jalur perdagangan dilakukan ketika para pedagang datang, kemudian mereka menetap di permukiman masyarakat di sekitar daerah pesisir pantai. Selain berdagang mereka juga memperkenalkan agama Islam dengan mengajarkan penduduk untuk melakukan salat;

Loading...
;

Kedua, perkawinan. Para pedagang umumnya menempuh cara perkawinan agar lebih gampang atau mudah memperoleh kemungkinan dan jalan masuk untuk mendapatkan hasil pala dari masyarakat Fakfak. Para pedagang datang ke wilayah ini, kemudian mereka kawin dengan kaum wanita di tempat tersebut. Dengan demikian ia dijadikan pemimpin dalam agama Islam;

Ketiga, pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal dilakukan melalui pusat-pusat pengajian yang berlokasi di masjid-masjid maupun di rumah-rumah para mubaliqh;

Keempat, melalui jalur politik. Politik yang dimaksud dengan penyebaran dakwah melalui saluran politik ialah bahwa atas jasa dan upaya para raja dan pertuanan dan keluarga-keluarganya, maka agama Islam turut disebarkan.

Pada abad ke-16 pemimpin-pemimpin Semenanjung Onin mengunjungi Kerajaan Bacan. Dari kunjungan itu terbentuklah kerajaan-kerajaan. Di antara kerajaan-kerajaan itu adalah Atiati, Rumbati dan Patipi.

Pelaut Spanyol Luis Vaez de Torres yang berkelana pada 1606 ke wilayah pesisir barat Papua menyebut bahwa sudah banyak orang Islam di Fakfak. Kapal-kapal Makassar dan Bugis, Seram, dan Gorom membeli biji pala (Myristica argentea), kulit kayu massoi, teripang, burung cenderawasih di Semenanjung Onin pada abad ke-17 dan ke-18, terutama di Rumbati, Patipi, dan Ati Ati.

Para pedagang Bugis, Makassar, Seram, dan Gorom ini berperan sebagai agen-agen perdagangan, menukar tekstil dan barang-barang yang terbuat dari besi dengan produk-produk lokal.

Sir Thomas Walker Arnold (1896) dalam buku “The Preaching of Islam” menyebutkan di Papua sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat (mungkin semenanjung Onin) oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian di Semenanjung Onin terdapat beberapa kerajaan tradisional, seperti pertuanan Patipi, Rumbati, Fatagar, dan Atiati.

Pertuanan Rumbati, di Rumbati dan sekitarnya dengan marga raja Bauw. Letak pusat-pusat pertuanan tersebut saling berdampingan di ujung barat Semenanjung Onin. Sekitar 1878, pertuanan Fatagar dan Atiati bergeser ke Pulau Ega.

Dalam perkembangannya kemudian, raja Atiati memindahkan pusat kerajaan ke suatu tempat di daratan Semenanjung Onin. Kawasan ini lalu disebut dengan Atiati, berseberangan dengan Pulau Ega. Sedangkan raja Fatagar memindahkan pusat kekuasaanya ke Merapi, di timur Distrik Fakfak kini.

Pertuanan Fatagar memiliki sejarah panjang dalam membentuk peradaban Islam di Fakfak. “Sejarah Masuknya Islam di Fakfak” yang disusun Tim Ahli dari Pemerintah Daerah Fakfak pada 2006, mencatat Islam masuk di Fakfak pada 8 Agustus 1360. Tanggal itu bertepatan dengan kehadiran Abdul Ghaffar seorang ulama Aceh di Fatagar Lama. Abdul Ghaffar berdakwah selama 14 tahun, antara 1360 hingga 1374 di Rumbati dan sekitarnya. Dia meninggal dan disemayamkan di Kompleks Masjid Kampung Rumbati.

Pertuanan Patipi berada di ujung barat Semenanjung Onin, sedangkan pertuanan Arguni di Pulau Arguni. Dua pertuanan lain yaitu Sekar dan Wertuar terdapat di Kokas. Pertuanan-pertuanan tersebut terletak di Teluk Berau.

Pertuanan Patipi berperan penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan Semenanjung Onin. Raja Teluk Patipi XVI, Haji Ahmad Iba, menyimpan warisan masa lalu; delapan manuskrip kuno beraksara Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran.

Kitab-kitab Islam itu dibawa Syeh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai yang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke timur. Mereka mendarat di Mes, pusat kerajaan Teluk Patipi saat itu. (*)

Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

Editor: Timo Marthen

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top