HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Jhon Manansang: Purtier Placenta bukan pengganti ARV dan legal

dr. Jhon Manansang – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – dr. Jhon Manansang selaku Team Elite PAVO Papua pada perusahaan Riway International di Singapura yang memproduksi Purtier Placenta Sixth Edition mengatakan, suplemen produksi New Zealand tersebut adalah sebagai pendamping bukan sebagai pengganti dari Antiretrovida (ARV).

Hal ini ditegaskan Manangsang atas berbagai pertanyaan soal keberadaan dari suplemen atau vitamin tersebut.

“Jadi saya mau tegaskan bahwa Purtier ini bukan sebagai pengganti dari ARV tetapi sebagai pendamping dari ARV itu sendiri,” kata Manangsang kepada Jubi, Selasa (14/5/2019) melalui sambungan telepon selularnya.

Dikatakan, dirinya sudah menginfomasikan hal ini kepada pihak Dinas Kesehatan Provinsi Papua, KPA Provinsi Papua dan juga intansi terkait yang berhubungan dengan dunia kesehatan.

Loading...
;

“Produk ini diproduksi dari New Zealand dan di organisir oleh perusahaan Riway International yang ada di Singapura. Sampai hari ini, sudah 80 negara yang mengkonsumsi Purtier Plasenta,” ujarnya.

Kata Manangsang yang juga mantan Direktur RS Abepura, Indonesia merupakan negara kedelapan yang mengkonsumsi atau menerima Purtier Placenta.

Kandungan dari Purtier Placenta tersebut menurutnya terdapat steamcell 100 mg ditambah 12 bahan-bahan alami atau herbal.

“Dari ilmu pengetahuan yang saya baca atau yang saya ketahui, Purtier adalah sebuah produk dengan nilai yang sangat unik dan sangat luar biasa. Dia (Purtier Placenta) bisa memberikan peningkatkan kekebalan (imunitas), dia juga bisa memperbaiki sel-sel yang rusak dan sel-sel yang mati bisa dihidupkan kembali,” katanya.

Manangsang mencontohkan, produk tersebut pertama kali diberikan ke salah satu pasiennya yang datang dengan keluhan inveksi HIV dan merasa jenuh mengkonsumsi ARV.

“Dia datang dalam kondisi drop karena berhenti mengkonsumsi ARV. Padahal sebelumnya dia rutin mengkonsunsi ARV hingga jalan tiga tahun. Saya tanya, kenapa drop? katanya sudah berhenti konsumsi ARV. Saya bilang pergi dan mintalah ARV, karena hanya ARV yang sudah direkomendasikan oleh dunia kesehatan,” ujarnya.

Namun, kata pasien tersebut bahwa dirinya ditolak oleh pusat layanan karena datang dalam keadaan drop dan sudah tidak lagi mengkonsumsi ARV.

“Dia sudah stadium tiga sehingga tidak bisa minum lagi obat ARV. Nah, dalam kondisi tersebut dan tidak minum obat apa-apa, saya suruh dia untuk mencoba produk Purtier Stemcell dan ternyata keesokan harinya mulai ada semangat dan perubahannya begitu cepat, sehingga satu minggu kemudian saya sarankan kembali ke pusat layanan untuk kembali mendapatkan ARV,” kata Manangsang.

Secara pribadi, dirinya menyarankan untuk pasien yang terinfeksi HIV dan AIDS untuk tetap mengkonsumsi ARV, karena ARV adalah lini pertama untu menekan virus agar tidak berkembang dalam tubuh pasien.

“Untuk sembuh itu harus diukur dari viral account dan dari CD4. Viral account harus nol (undetectable). Jadi kalau tidak terdeteksinya virus bukan berarti virusnya sudah tidak ada, tetapi harus diukur lagi dengan CD4. Kalau CD4 sudah diatas 600, baru dikatakan bahwa pasien tersebut telah bebas dari HIV,” ujarnya.

Disinggung soal legalitas dari produk tersebut, Manangsang mengatakan produk tersebut resmi dan legal  dan sudah ada di lima wilayah di Indonesia termasuk Papua. Dan produk sebelumnya juga telah mendapatkan registrasi dari BPOM, sedangkan produk terbaru ini sedang dalam tahap penelitian dari lembaga tersebut.

“Saya katakan legal sudah berjalan di lima wilayah di Indonesia, Papua masuk sebagai wilayah keenam, dan saat ini produknya sedang diteliti oleh pihak BPOM. Kalau sudah diperiksa pastinya akan diberikan nomor registrasi,” katanya.

Dikatakan, target dari perusahaan Riway selaku produsen Purtier Steamcell adalah bagaimana bisa memberikan nomor Balai Besar POM yang konstan untuk beberapa waktu kedepan.

“Perusahaan yang memproduksi produk tersebut setiap dua tahun melakukan perubahan izin untuk menghindari pemalsuan dan juga masa expired (kadaluwarsa),” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Pengendalian Obat dan Makanan (BPOM) di Jayapura, H.G. Kakerissa mengatakan ada produk suplemen dengan nama yang sama yang sudah memiliki nomor register dari BPOM Pusat.

“Jadi untuk suplemen Purtier adalah produk yang legal sedangkan untuk suplemen dengan nama Purtier (Placenta) adalah produk yang ilegal,” kata Kakerissa kepada Jubi, Senin (13/5/2019) diruang kerjanya.

Menurut Kakerissa, kegunaan dari sebuah suplemen adalah asupaan gizi tambahan dan bukan obat penyembuh, dan yang dapat merekomendasikan suplemen atau obat yang bisa menyembuhkan adalah pihak kesehatan.

“Saya juga mau ingatkan kepada pekerja kesehatan agar dapat memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang apa itu suplemen dan apa itu obat,” ujarnya.

Untuk BPOM sendiri menurut Kakerissa, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Papua untuk melakukan penelusuran terkait dengan penyebaran dari Purtier Placenta tersebut.

“Saya yakin penyebaran Purtier Placenta tersebut melalui Multi Level Marketing (MLM) dan terselubung. Kalau MLM, berarti ada testimoni-testimoni yang ditawarkan, mulai dari discon dan segala bentuk promosi agar produk tersebut terjual. Belum tentu testimoni tersebut bisa berhasil di orang lain dengan kondisi tubuh yang berbeda,” katanya. (*)

 

Editor      : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top