HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Jumlah mahasiswa Papua yang ditangkap 43 orang, 4 diantaranya terluka

Suasana Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya, Jumat (16/8/2019). – Dok. AMP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras Surabaya, Fatkhul Khoir menyatakan jumlah mahasiswa Papua yang ditangkap saat polisi mendobrak dan menerobos masuk Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya pada Sabtu (17/8/2019) mencapai 43 orang. Sejumlah empat mahasiswa Papua terluka dalam penangkapan itu.

“Jumlah mahasiswa Papua yang ditangkap 43 orang. Sejumlah 40 diantaranya adalah laki-laki, dan tiga lainnya perempuan,” kata Fatkhul saat dihubungi di Surabaya pada Sabtu sore.

Fatkhul Khoir mengatakan empat orang mahasiwa terluka dalam penangkapan itu. “Seorang mahasiswa tangan kanannya terkilir. Seorang mahasiswa lainnya kaki kirinya terluka dan berdarah terkena lemparan gas air mata. Satu mahasiswa terluka di atas pelipis. Seorang lagi luka memar di punggung, dan di wajahnya ada bekas pukulan,” katanya.

Pada Sabtu sore, seluruh mahasiswa Papua yang ditangkap telah berada di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya. “Saat ini mereka sedang diperiksa polisi, dan ada juga mahasiswa yang sedang makan,” kata Fatkhul.

Loading...
;

Sebelumnya, pada Sabtu sekitar pukul 15.00 WIB, polisi mendobrak pintu dan menerobos masuk ke dalam Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya. Peristiwa itu terjadi setelah para mahasiswa Papua terkurung di dalam asrama selama 24 jam, gara-gara asrama mereka didatangi tentara dan dikepung warga.

Massa yang mengepung asrama sejak Jumat (16/8/2019) pukul 15.00 WIB itu meneriakkan ancaman dan melontarkan makian rasial. Semakin malam, massa yang mengepung asrama itu semakin besar. Fatkhul Khoir menyatakan massa masih terlihat berkumpul di sekitar asrama hingga Sabtu pukul 01.30 WIB.

Pada Sabtu pagi massa yang mengepung asrama tidak terlihat lagi. Akan tetapi, pada Sabtu sore, sejumlah orang kembali terlihat berkumpul di depan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III.

Dalam situasi seperti itu, polisi memakai pelantang untuk menyuruh para mahasiswa di dalam asrama untuk keluar. Para mahasiswa Papua memilih tetap bertahan di dalam asrama, dan polisi akhirnya mendobrak gerbang asrama.

“Kami ditembaki gas air mata. Saya mendengar sedikitnya ada lima tembakan gas air mata,” kata salah satu mahasiswa di dalam asrama itu.

Polisi lalu menerobos masuk ke dalam asrama, dan menyuruh para mahasiswa di sana tiarap. Para mahasiswa kemudian disuruh keluar dari asrama dengan berjalan jongkok. Saksi menuturkan para mahasiswa berjalan jongkok serta digiring menuju truk polisi, lalu dibawa ke Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya.

Kepala Polrestabes Kota Surabaya, Komisaris Besar Sandi Nugroho menyatakan menyatakan pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III pada Jumat (16/8/2019) dilakukan oleh masyarakat. Sandi menyatakan warga mendatangi Asrama Mahasiswa Papua setelah menemukan ada tiang bendera merah putih yang patah dan bendera yang dibuang ke selokan.

“Ada masyarakat yang menemukan tiang benderah merah putih dalam kondisi yang  patah, dan masyarakat melihat benderanya di buang di selokan,” kata Sandi saat dihubungi melalui sambungan telpon, Sabtu.

Sandi menyatakan sejumlah kelompok pemuda marah dengan penemuan bendera di selokan itu. Mereka kemudian bertemu dengan warga yang mengaku melihat orang yang mematahkan tiang dan membuang bendera itu. Warga itu menyatakan orang tersebut kemudian masuk ke dalam Asrama Mahasiswa Papua. Kabar itu menyebar cepat, sehingga semakin banyak warga mendatangi asrama.

Sandi menyatakan polisi tetap akan mengedepankan asas praduga tidak bersalah dalam menangani masalah itu. “Kami tetap akan menggunakan proses praduga tak bersalah. Jadi kita tidak akan menghakimi siapapun, dan memojokkan siapapun, karena ada saksi yang melihat bahwa setelah merusak dan membuang bendera, [orang itu] masuk ke asrama dan sampai saat ini belum keluar,” kata Sandi sebelum polisi mendobrak gerbang dan menerobos masuk asrama.

Sandi membenarkan pihaknya juga sempat mengamankan seorang aktivis Solidaritas Mahasiswa Indoenesia dan seorang aktivis Front Mahasiswa Nasional Surabaya. Kedua diamankan pada Sabtu dinihari, saat mengantar makanan bagi para mahasiswa yang terjebak di dalam asrama.  Namun Sandi membantah kedua orang itu ditangkap.

“Mahasiswa itu diamankan oleh polisi dan kami sudah melakukan negosiasi dengan mereka. Tidak benar ada penangkapan. Tapi benar bahwa ada kedua mahasiswa ituyang hendak mengantarkan makanan. Setelah interogasi, [kedua mahasiswa itu] kita pulangkan. Tidak kita tangkap, kita amankan dan interogasi, lalu sudah dipulangkan,” kata Sandi.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top