Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Jurnalis diingatkan patuhi KEJ dalam memberitakan Papua  

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura mengingatkan jurnalis dan media massa agar hati-hati dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam memberitakan konflik di Tanah Papua.

AJI Jayapura bahkan mengutuk aksi rasisme yang berujung pada korban nyawa dan harta benda di Jayapura dan Wamena beberapa waktu terakhir.

Peristiwa di Wamena, Jayawijaya, Senin 23 September 2019, seperti dirilis AJI, mengakibatkan tragedi kemanusiaan dengan korban jiwa meninggal 33 orang, 76 orang mengalami luka-luka serta ribuan orang mengungsi dan dievakuasi ke Jayapura.

Data kerugian lainnya, ratusan kendaraan terbakar, dan ratusan ruko dan rumah juga hangus terbakar. Aktivitas warga saat ini belum benar-benar pulih.

Loading...
;

AJI Jayapura merasa berduka dan mengutuk perbuatan tidak berprikemanusiaan, dan berharap agar pemerintah daerah memulihkan kondisi di Wamena. Aparat keamanan dapat menjaga, melindungi seluruh masyarakat di Kabupaten Jayawijaya, agar masyarakat dapat beraktivitas kembali dalam kondisi yang aman.

“Atas situasi tersebut di atas AJI Kota Jayapura mengimbau pada teman-teman jurnalis yang berada di lapangan untuk menjaga diri dan berhati-hati dalam melakukan penulisan berita. Kemudian yang terpenting adalah jurnalis menerapkan jurnalisme damai, dengan memilih narasi yang tepat untuk menyikapi konflik di Wamena,” kata Ketua AJI Jayapura, Lucky Ireeuw melalui rilisnya kepada Jubi di Jayapura, Sabtu (28/9/2019).

Ia mengatakan, Kode Etik Jurnalistik pasal 8 menyebutkan bahwa wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

“AJI Kota Jayapura menyatakan sikap menghimbau jurnalis dan media untuk mengedepankan prinsip jurnalisme damai yang tetap mengedepankan fakta,” katanya.

“Tidak membuat berita yang mengandung SARA yang bisa berpotensi menimbulkan konflik susulan dan memilih narasi dalam pemberitaan yang mendamaikan, berimbang, dan terverifikasi dengan baik, sesuai kode etik jurnalistik,” lanjutnya.

Jurnalis juga diimbau agar tidak menulis berita berdasar prasangka atau diskriminasi antara penduduk lokal dengan pendatang, dan tidak menampilkan foto atau video yang mengandung unsur sadisme, termasuk tidak mempublikasi anak-anak korban kekerasan.

Ketua Divisi Advokasi AJI Jayapura, Fabio Lopes Costa juga meminta pemerintah setempat dan aparat keamanan untuk proaktif menyebarkan perdamaian dengan melibatkan para tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama, terutama dalam menenangkan warga agar tidak terprovokasi atau termakan hasutan yang dapat menimbulkan kekhawatiran, ketakutan dan atau memunculkan konflik baru.

“(AJI) Meminta pemerintah untuk membuka akses informasi di Wamena dan terus menginformasikan kondisi terkini, agar informasi bohong atau hoax tidak berkembang, yang justru akan memperkeruh suasana,” kata Fabio.

Fabio juga menghimbau kepada aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat agar tidak mengintimidasi, dikriminasi  atau menghalagi kerja-kerja jurnalis  dalam melakukan liputan di lapangan,” ujarnya.

Secara terpisah AJI Padang pada Sabtu (28/9/2019) juga menerbitkan siaran pers yang mengimbau media mengedepankan jurnalisme damai dalam memberikan kerusuhan yang terjadi di Wamena. AJI Padang menyatakan sangat mengutuk kekerasan yang terjadi di Wamena itu, dan menyampaikan rasa duka kepada korban, dan berharap situasi keamanan di Wamena segera pulih.

Dalam siaran pers itu, Ketua AJI Padang Andika Destika Khagen dan Bidang Advokasi AJI Padang
Aidil Ichlas mengimbau media berhati-hati dalam memberitakan kerusuhan di Wamena. AJI Padang menegaskan, penyajian berita yang vulgar justru akan memperkeruh suasana, dan berpotensi menambah korban jiwa.  Untuk itu, penyajian berita yang secara terang-terangan mengandung unsur Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) perlu dihindari.

AJI Padang mengimbau jurnalis dan media untuk tidak membuat berita yang menonjolkan unsur SARA serta berpotensi menambah konflik, serta mencari sumber berita yang kredibel dan tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Media juga diimbau tetap melakukan kritik kepada penanganan keamanan di Papua khususnya Wamena, sehingga korban tidak terus bertambah dan kondisi segera membaik.

Jurnalisme damai harus dikedepankan dalam memberitakan peristiwa konflik, khususnya yang terkait di Wamena saat ini. Jurnalisme damai tidak akan menghilangkan fakta, namun lebih menonjolkan pemberitaan yang bisa menurunkan tensi konflik dan mendorong  penyelesaian.

Pemerintah diharapkan membuka akses informasi di Wamena dan terus menginformasikan kondisi  terkini, agar informasi bohong atau hoax tidak berkembang, yang akan menambah konflik. Mengimbau pemerintah dan tokoh masyarakat untuk menyebarkan perdamaian dan menenangkan warga dari kemungkinan hasutan yang bisa memprovokasi.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top