HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kabupaten Jayapura memang rawan banjir bandang

Lokasi terdampak banjir di AURI, Sentani. -Jubi/Kristianto Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Laporan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyampaikan penyebab banjir bandang di Kabupaten Jayapura akibat intensitas hujan yang terus mengguyur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya mulai dari sore hari, Sabtu (16/3/2019).

“Banjir merendam perumahan di Kelurahan Hinekombe, Dobonsolo, Sentani Kota, Kampung Yahim, dan Kehiran,” katanya, Selasa (19/3/2019).

Lanjutnya, memang tidak ada peringatan banjir bandang di Kecamatan Sentani pada Sabtu malam itu.16 Maret 2019. Namun hujan yang masih terus mengguyur Jayapura, dipastikan akan mengundang banjir susulan.

“Kabupaten Jayapura termasuk ke dalam wilayah yang berada pada indeks bahaya banjir bandang, sedang hingga tinggi. Sementara itu sebagian kecil wilayah, termasuk dalam kategori aman dan awas banjir. Hal ini mengindikasikan wilayah tersebut cukup berpotensi untuk terjadi bencana banjir,” katanya.

Loading...
;

Mengenai kondisi daerah bencana, kata dia, topografi/morfologi dan tata guna lahan/ infrastruktur terdekat, secara umum Kecamatan Sentani merupakan wilayah yang berbukit di bagian utara dan berangsur datar semakin ke selatan, dengan variasi ketinggian mulai dari 0-1800 meter di atas permukaan laut.

“Geologi wilayah (litologi dan struktur geologi) dan jenis tanah, berdasarkan Peta Geologi Lembar Jayapura (pegunungan Cycloops), Irian Jaya (Suwarna dan Noya, P3G, 1995), daerah bencana tersusun oleh aluvium dan endapan pantai (Qa) berupa kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lumpur di lingkungan rawa; Kipas Aluvium (Qf) berupa aluvium kasar dan fanglomerat; serta batuan malihan (metamorf) di perbukitan bagian utara wilayah terdampak.”

Mengenai prediksi gerakan tanah PVMBG, berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Sentani termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah.

“Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.”

Sementara itu, faktor penyebab dan mekanisme terjadinya banjir bandang, diperkirakan pada daerah hulu sumber banjir bandang, kemungkinan tersusun oleh lapukan batuan tebal yang mudah longsor.

“Berdasarkan peta geologi, wilayah terdampak tersusun oleh endapan aluvium berupa lanau dan lumpur yang mudah jenuh air apabila terjadi hujan deras dengan durasi lama. Berdasarkan hasil interpretasi citra Himawari yang dilakukan serta dipublikasikan oleh Lapan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi melanda Kecamatan Sentani sejak sore hari pukul 15.30 WIT. Intensitas hujan tercatat paling tinggi mencapai lebih dari 150 mm/hari. Hujan berlangsung selama beberapa jam hingga waktu kejadian dan baru berhenti pada pukul 04.00 WIT, 17 Maret 2019.”

Hujan yang sedemikian besar dengan durasi yang lama, lanjutnya, meningkatkan kejenuhan air di dalam tanah. Selain itu vegetasi juga menjadi faktor yang penting dimana kurangnya vegetasi, dapat meningkatkan terjadinya aliran permukaan (run off) dan kurangnya infiltrasi air ke dalam tanah.

“Akibat kemiringan lereng, tidak adanya vegetasi dan curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya longsor yang kemudian membentuk bendungan alami di daerah hulu. Bendungan alami menghambat air hujan sehingga terbentuk genangan yang semakin lama semakin jenuh air.”

Hal itu, kata dia, menyebabkan bendungan alami tidak mampu lagi mempertahankan posisi dan kedudukannya sehingga jebol dan membanjiri daerah hilir, di mana terdapat banyak permukiman warga.

“Banjir bandang bersifat tiba-tiba dan sulit untuk diprediksi. Sumber banjir bandang pada umumnya berada pada daerah hulu sungai yang berasosiasi dengan perbukitan berlereng terjal dan memiliki akses yang tidak mudah, sehingga diperlukan pengamatan yang intensif melalui udara untuk melihat adanya potensi banjir bandang di wilayah hulu sungai yang mengancam lokasi yang lebih rendah,” katanya.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan, sebenarnya sudah ada perda terkait perlindungan kawasan penyangga Cagar Alam Cycloop. “Tapi tidak didengar. Ini saya tegaskan agar kita jaga bersama kawasan Cycloop,” katanya belum lama ini. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top