HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

“Kaka polisi, jangan pukul mereka!”

Kondisi kawasan PTC Entrop, Distrik Jayapura Selatan usai aksi Kamis lalu – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Saya menangis, sedih. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Ditambah lagi di rumah, istri saya menelpon dan meminta saya untuk pulang”

Saya merekam kondisi aksi pada Kamis, 29 Agustus 2019, pukul 16.16 sore WP. Saya berada di kerumunan masyarakat Papua, sebelum massa “menyerang”. Saya ikut menyelamatkan diri bersama masyarakat Papua. Massa yang kemudian diketahui Paguyuban Nusantara menguasai perempatan di samping Kepolisian Sektor Jayapura Selatan, Entrop sambil memegang senjata tajam.

Setengah jam kemudian, rombongan pendemo dari masyarakat Papua (kloter ketiga) datang dari arah PTC (Papua Trade Centre) Entrop. Saya bergabung dengan mereka, dengan niat mau mengambil gambar untuk kepentingan berita.

Kami semua berhenti di samping lapangan PTC karena dihadang massa. Saya melihat seorang mahasiswa mengarahkan rombongan untuk tetap tenang.

Loading...
;

Sekitar satu meter kami melangkah, sekelompok massa itu menyerang massa, diiringi teriakan “serbu!” sambil membawa senjata tajam.

Anehnya, polisi yang sedang berjaga di depan Polsek Japsel justru meloloskan massa yang makin beringas.

Massa pendemo semuanya bubar. Lagi-lagi saya tidak sempat ambil gambar. Massa Paguyuban Nusantara serang dari depan, polisi serang dari arah belakang.

Saya berdiri di samping tembok, melihat massa pendemo dari masyarakat Papua pecah. Mereka lari ketakutan. Saya meneteskan air mata. Ditambah lagi tembakan gas air mata dan air yang mengalir deras ke arah rombongan masyarakat Papua.

Lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri, kenapa polisi tidak ikut pukul mundur massa dari Paguyuban Nusantara itu, yang dengan leluasa menyerang rombongan masyarakat Papua?

Baru kali ini saya menyaksikan brutalnya polisi memukuli masyarakat Papua sambil berteriak “Kamu pulang!” dan mengayunkan pukulan ke arah kepala, kaki, tangan, dada, dan belakang. Aksi polisi yang brutal memukuli mereka yang naik motor, ditendang sampai terjatuh. Lalu, dipukuli sambil berteriak, “Kamu pulang!”

Saya menangis. Sedih. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Ditambah lagi di rumah, istri saya menelpon dan meminta saya untuk pulang. Kata istri saya, Skyline banyak polisi, RT/RW kumpulkan warga sambil memegang senjata tajam.

Sementara di balik pagar di dalam lapangan PTC, saya melihat ada perempuan yang masih usia anak-anak dan ibu-ibu. Jumlahnya ada 20 orang. Mereka ketakutan. Mereka dipukuli oknum polisi.

Dengan kata Bismillah, saya lari ke arah mereka. Saya peluk mereka sambil menangis, dan mengatakan, “Kaka polisi jangan pukul mereka, jangan pukul mereka!”

Tapi oknum-oknum polisi itu malas tahu. Mereka terus pukul sambil berteriak “Kamu pulang!”, sampai-sampai saya ikut kena pukulan di kepala, tangan, dan punggung, karena melindungi saudara-saudara saya masyarakat Papua.

Setelah polisi pergi, saya menenangkan mereka. “Adek, kaka, mama dong, jangan takut! Polisi tidak pukul lagi!” Saya menenangkan mereka.

Tapi mereka terus menangis. Mereka mengatakan, “Tuhan tolong kami, Yesus tolong kami!”

Tak lama kemudian, ada anak kecil usia SD. Dia mendatangi saya dan mengatakan, ” Pa De, sa takut, Pa De, sa takut. Tolong Pa De!”

Saya bilang sama dia, “Adek tenang saja di sini. Jangan dulu kemana-mana sebelum situasi aman!”

Tapi anak itu bilang ke saya, “Pa De, sa haus, tolong ambilkan sa air!”

Saya menoleh ke arah polisi untuk mencoba meminta air. Saya datangi polisi yang sedang minum dan meminta izin, minta air. Alhamdulillah polisi memberikan satu karton air mineral.

Lalu, air itu saya berikan kepada mereka, dan mereka mengatakan, “Terima kasih Pade!” Saya melihat bibir mereka gemetar. Mukanya pucat.

Setelah situasi aman, saya bilang sama 20 orang perempuan yang saya lindungi itu, “Kitong jalan pelan-pelan. Jangan lihat kanan-kiri, lihat saja ke depan. Kami semua menuju terminal Entrop!”

Sampai di dalam terminal, saya tanya mereka, “Kaka, adek, mama dong tinggal dimana?”

Ada yang bilang tinggal di Expo (Waena) Distrik Heram, Kotaraja, Vuria, Bhayangkara Distrik Abepura dan Perumnas Tiga Waena Distrik Heram.

Saya lihat BBM saya tinggal setengah, tapi saya antar mereka semua. Mereka yang tinggalnya di dekat saya antar sampai rumahnya masing-masing, sedangkan yang rumahnya jauh saya antar sampai pangkalan ojek saja.

Hati saya senang melihat mereka tenang. Setelah itu saya balik ke rumah. Ternyata di Skyline aman. Warga hanya berjaga-jaga.

Saya tidak lagi kepikiran buat berita.

Sampai di rumah saya berdoa, “Ya Allah sudahi semua konflik ini. Biarkan kami yang tinggal di Kota Jayapura ini hidup dalam damai, aman, tentram, saling menolong!” (*)

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top